part selanjutnya

260 9 0
                                        

"besok datanglah ke rumahku,akan ada acara syukuran atas hamilnya istriku."

"Wah istrimu hamil .?" Arif membelalakkan matanya,mungkin apakah dia salah dengar

"Iya Alhamdulillah akhirnya dia hamil,dia sempat putus asa, depresi karena tekanan batin,tapi sekarang istriku hanya selalu tersenyum." Ungkap Aryan,pria itu tanpa sadar menitikkan air matanya mengingat betapa susahnya untuk membuat istrinya hamil,sudah berobat kesana-kemari

"Selamat yah." Arif merangkul pundaknya, sahabatnya sibuk mengelap bulir bening di wajahnya

"Istriku sangat bahagia dengan kehamilannya,dia bersikukuh untuk mengadakan acara syukuran atas hamilnya."

"Wajar karena dia sangat bahagia, mendiang istriku juga sebahagia itu waktu hamil Alwi." Sahut Arif, seketika jadi teringat pada sosok ibu kandung Alwi yaitu mendiang istrinya,ah mungkin sudah waktunya untuk ziarah ke makam mendiang istrinya

"Jangan lupa datang yah, ajak anak-anak dan istrimu."

"Insyaallah."jawab Arif, jawabannya memancing kekehan dari Aryan,Aryan tidak sangka kalau sahabatnya akan mengucap insyaallah padahal sebelum menikah dengan Adinda tidak pernah , agaknya sahabatnya itu sudah mulai berubah setelah menemukan orang yang tepat

"Sejak kapan lo jadi agamis.?" Tanya Aryan

"Sejak kapan yah? Gw juga gak sadar." Jawab Arif terkekeh

Semenjak menjadi seorang ayah,Arif sudah tidak pernah meminum minuman keras,tidak pernah lagi menginjakkan kaki di klub malam. Lebih mendalami ilmu agama setelah menikah dengan Adinda, mereka tidak bulan madu,lebih memilih mendalami ilmu agama di rumah saja,waktu itu Arif malu karena istrinya lebih mengenal agama Islam, sedangkan dirinya tidak terlalu paham , alhasil Adinda menjadi guru untuknya

Betapa beruntungnya dia mendapatkan wanita sempurna seperti Adinda

.

.

.

"Aryan mengundang kita ke acara syukuran kehamilan istrinya." Arif memasang kaca rumahnya yang baru saja selesai dipasang, karena kaca rumahnya pecah oleh putranya, alhasil harus ganti kaca rumahnya. Baru ada waktu untuk memasangnya,mau menghubungi tukang bangunan tapi pasti harganya mahal,lebih baik memasangnya sendiri itu perintah istrinya

"Riani hamil ? Alhamdulillah syukurlah, penantiannya telah membuahkan hasil." Saking bahagianya dengan kabar itu, Adinda menarik-narik sarung yang dikenakan oleh suaminya,hampir saja sarungnya melorot jika suaminya tidak menahan sarung yang dikenakannya ,Arif baru saja selesai solat jadi masih memakai sarung

"Bu, bahagia boleh tapi jangan tarik-tarik sarung ayah, nanti aja di kamar."

"Ih ayah,kan ibu bahagia."Adinda malah semakin tertawa terbahak bahak karena melihat suaminya memperbaiki sarung yang dikenakannya

Selesai memasang kaca rumahnya, mereka akan berencana untuk mampir ke warung makan milik Arya yang dimodali oleh Cahaya. Adinda sudah siap untuk bertemu kembali dengan mantan suaminya, sepulang dari warung makan, suaminya akan mengajak istrinya untuk ziarah ke makam mendiang istrinya.

"Ibu sama ayah mau pada kemana udah rapih.?" Tanya Cahaya

"Kita mau ke warung makan ayah Arya,kakak gak usah ikut temani adik-adik di rumah." Jawab Adinda, membetulkan posisi kerudungnya

"Oh begitu."

"Kita berangkat yah kak,tolong jaga  adik-adik , kebetulan ayah dan ibu kemungkinan akan pulang malam ."

"Iya Bu, hati-hati."

.

.

.

Ternyata cintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang