12

22.6K 1.2K 19
                                        

Libur sekolah telah usai, waktunya Arga kembali ke sekolah. Pagi ini Arga berangkat ke sekolah bersama dengan Erlan.

"Hari ini Papa enggak bisa jemput kamu, nanti pulang sama pak Agis. Langsung ke restoran Mama," ucap Erlan yang sambil fokus mengemudi.

"Kenapa ke restoran Mama? Emang Mama juga pulangnya malam?" tanya Arga, biasanya Papa-nya memintanya menunggu di restoran Mama-nya berati mereka berdua sedang sibuk. Dan bisa jadi pulang larut malam.

"Mama pulang kaya biasanya, sore jam lima. Tapi tadi bilang mau ajak kamu beli sepatu."

"Papa ikut enggak?"

"Papa enggak bisa ikut, Papa pulang malam."

"Yah, enggak bisa beli mainan dong. Harusnya Papa ikut aja, enggak usah kerja sampai malam." ucap Arga yang menyayangkan Papa-nya lebih memilih kerja lembur dari pada ikut jalan-jalan ke mall. Padahal kan lumayan kalau Papa-nya ikut, ia bisa menambah koleksi mainannya.

"Nanti kalau lemari pajangannya udah sampai rumah, kita beli yang banyak." Erlan tersenyum lembut pada anaknya.

"Ayo turun, kita sudah sampai seolah." ujarnya lalu turun dari mobil, tak berselang lama Arga pun turun dari mobil.

"Enggak usah anterin sampai depan lobby Pa, aku sendiri aja." ucap Arga ketika Erlan mengambil alih tas bekalnya.

"Kenapa? Biasanya juga di anterin sampai lobby."  heran Erlan, biasanya juga ia mengantarkannya sampai lobby sekolah. Anaknya mau-mau saja, tidak protes atau menolak, kenapa sekarang menolaknya. Apa ada yang meledeknya.

"Ya enggak kenapa-kenapa, yang anak TK aja enggak di anterin sampai lobby. Masa yang udah gede gini masih di anterin sampai lobby, mana di bantuin bawa tas lagi. Kata guru tuh enggak boleh Pa, harus bawa sendiri."

"Ya udah, Papa enggak bantuin bawa, cuma anterin sampai depan kelas. Mau ketemu sama guru kamu, Papa mau minta izin buat bantuin bawa tas anaknya sampai lobby. Kalau bisa sampai kelas."

"PA!"

"Bercanda, jangan marah. Ayo kita jalan." ajak Erlan menggandeng tangan anaknya berjalan menuju lobby yang jaraknya tidak  jauh dari parkiran, bahkan dari parkiran mobil lobby itu kelihatan.

Sampai di lobby Erlan tak kunjung melepaskan genggaman tangannya pada tangan anaknya, hal itu membuat Arga kesal karena ada beberapa siswa/siswi yang memperhatikannya.

"Aku masuk dulu, udah sana Papa pergi ke kantor." ucap Arga melepaskan genggaman tangan Papa-nya dengan paksa.

"Enggak peluk Papa dulu?" cegah Erlan ketika anaknya beranjak pergi dari hadapan tanpa memberikan pelukan lebih dulu seperti biasanya di rumah.

"Enggak, aku udah mau masuk kelas. Teman-teman aku udah pada naik," balas Arga.

"Nanti Papa enggak bisa fokus kerja."

Arga berdecak kesal, dengan terpaksa Arga kembali mendekati Papa-nya lalu memeluk Papa-nya salam satu detik, setelah itu dia berlari pergi dari hadapan Papa-nya. "Enggak tahu apa anak bujangnya di lihatin cewek-cewek, kalau gini terus kapan punya gebetannya." gumam Arga sambil menaiki anak tangga untuk menuju ke kelasnya yang terletak di lantai tiga.

Baru saja Arga ingin masuk ke dalam kelas, dia melihat Danish yang melewatinya. Dia tersenyum pada Danish lalu menyapanya. "Pagi Danish, tumben baru datang juga?"

Danish menghentikan langkahnya, sekilas menoleh pada Arga lalu tersenyum tipis. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Danish melanjutkan langkah untuk pergi ke kelasnya yang kebetulan ruangan kelasnya ada di samping kelas Arga.

"Kenapa tuh anak? Enggak biasanya, lagi sakit gigi?" monolog Arga yang tak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya. Pagi ini terlihat berbeda, sepertinya dia sedang ada masalah.

*********************

Jam pelajaran pertama di sekolah adalah olahraga, di mana kelas Arga dan kelas Danish berkumpul di lapangan sekolah.

"Ayo anak-anak kita mulai pemanasan, setelah itu lari keliling lapangan dua kali baru kita mulai dengan pelajaran olahraga hari ini." ucap guru olahraga pada murid-muridnya.

Siswa/siswa mulai mengikuti gerakan yang di ajarkan guru olahraga, setelah melakukan pemanasan mereka pun berlari mengelilingi lapangan basket.

Arga yang berlari di belakang Danish pun sedikit penasaran dengan sahabat yang biasanya banyak bicara hari ini hanya diam. Bahkan saat ia bertanya pun, Danish tak menjawabnya.

"Danish lo kenapa? Ada masalah? Atau lo sakit?" tanya Arga sambil terus berlari.

"Bukan urusan lo." jawab Danish berlari ke tengah lapangan, menghampiri guru olahraga. "Pak, aku izin ke kamar mandi sebentar."

"Habis dari kamar mandi balik lagi ke lapangan."

"Siap Pak." ucap Danish lalu segera pergi ke kamar mandi.

"Pak aku juga izin ke kamar mandi." ucap Arga sambil mengangkat tangan kanannya.

"Ayo cepat sana, balik lagi ke lapangan Arga. Jangan bolos kaya minggu lalu. Bilang ke kamar mandi kalian bertiga malah santai-santai di kantin." pringat guru olahraga.

"Baik Pak, baru sekali bolos. Masih di ingat-ingat aja. Ayo Gung, jajan kita-"

"Arga."

"Maksud aku ke kamar mandi Pak." ralat Arga lalu segera pergi menyusul Danish, sebagai sahabat yang baik ia harus membuat sahabat yang sedang memiliki masalah.

Di depan pintu kamar mandi, dua bodyguard Danish menghalangi Arga dan Agung yang ingin masuk ke dalam. "Permisi Om, aku mau masuk ke dalam. Udah kebelet nih." ucap Arga mendongakkan kepalanya menatap pria yang menghalanginya.

"Kamu boleh masuk setelah Tuan mada Danish keluar." ucap salah satu pria itu.

"Kan di dalam kamar mandinya enggak cuma satu." ucap Agung.

"Karena Tuan muda Danish sedang ada di dalam, jadi kalian berdua tidak boleh masuk. Terutama kamu." pria itu menujuk pada Arga.

Arga menyipitkan matanya, kenpa dirinya tidak boleh masuk ke dalam hanya karena Danish ada di dalam sana. Apa salah dirinya sampai mereka bersikap begitu, seingatnya ia tidak melakukan kesalahan apapun pada Danish. Terakhir kali bertemu saat di rumahnya, dan Danish terlihat baik-baik saja. Bahkan terakhir kali dia juga membelanya saat sepupunya itu berulah.

"Udah yuk Ar, kita balik ke lapangan. Nanti keburu di cariin guru." ajak Agung menarik tangan Arga.

"Sebentar, gue masih penasaran kenapa gue enggak boleh masuk ke dalam. Emangnya kenapa?"

"Karena mulai sekarang kita bukan sahabat lagi, gue enggak mau punya teman kaya lo." sahut Danish yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Arga dan Agung mengalihkan perhatiannya pada Danish yang berdiri di samping bodyguard. "Lah yang ngajakin sahabatan kan lo bukan kita." ucap Arga.

"Karena itu gue yang mutusin pertemanan kita, gue enggak mau punya teman kaya lo yang suka manfaatin orang lain. Kalau gue tahu niat lo busuk, gue enggak sudi jadi teman lo." ucap Danish lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.

"Ehh! Maksud lo apa anjing!" marah Arga berusaha menghentikan langkah Danish namun di halangi dua pengawal pribadi Danish.

"Apa yang di katakan Tuan muda kami itu benar, kamu berteman dengan Tuan muda Danish karena punya tujuan tertentu." ucap pria itu mencengkram tangan Arga dengan erat.

"Ucapkan selamat tinggal pada sekolah ini, karena setelah Tuan besar tahu masalah ini. Hari itu juga, kamu akan di keluarkan dari sekolah ini." ucap pria itu melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar lalu pergi menyusul anak majikannya.


ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang