Pagi ini di rumah Erlan masih terlihat begitu sepi, tidak ada aktivitas apapun di dalam rumah. Di karenakan sang pemilik rumah masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Erlan membuka matanya, menoleh ke sisi kanannya di mana anaknya masih tertidur lelap dan sang istri di sisi kirinya. Kedua tangannya merasa kebas karena anak dan istrinya menjadikan lengannya sebagai bantal.
Rania mengerjapkkan matanya, membalikkan tubuhnya ke samping. "Jam berapa sekarang?" gumamnya dengan suara serak has bangun tidur.
"Jam setengah tujuh." jangan Erlan.
"Jam setengah tujuh?! Bangunin Arga, dia terlambat sekolah." Rania bangun dari tidurnya, dia menyalakan lampu kamarnya. Bisa-bisanya ia kesiangan di hari anaknya harus pergi ke sekolah.
"Bangunin Arga, aku siapin sarapannya. Enggak usah mandi, ganti baju aja." ucap Rania lalu segera keluar dari kamar.
Erlan membalikkan tubuhnya menghadap anaknya, mengusap pipi anaknya dengan lembut. "Arga, ayo bangun. Udah siang." ucapannya menepuk-nepuk pipi anaknya dengan lembut.
"Hmm," gumam Arga membalikkan tubuhnya membelakangi Erlan, dengan mata terpejam dia mencubit-cubit tangan Papa-nya.
"Papa nanti minta uang, habis pulang sekolah mau pergi main sama teman sebentar." ucap Arga sambil menyibakkan selimutan. Dia turun dari atas kasur lalu pergi ke kamar mandi.
"Semalam aja bilang kakinya sakit masih aja ingat pergi main." gumam Erlan bangun dari tidurnya, dia mendudukkan dirinya di atas kasur, mengambilkan dompetnya yang ada di atas meja. Mengeluarkan dua lembar yang kertas dari dalam dompetnya.
Arga keluar dari kamar mandi, dia sudah mengenakan seragam sekolahnya. "Mana uangnya?" ujarnya seraya mengulurkan tangannya pada Papa-nya.
Erlan memberikan dua lembar uang kertas pecahan lima puluh ribu pada anaknya. "Nanti kalau kurang minta Om Nicolas,"
"Aku enggak mau nanti Om Nicolas ikut ke dalam, aku mau sama teman-teman aja."
"Kalau Om Nicolas enggak boleh ikut ya udah, cukup enggak cukup uang segini. Ingat hari ini enggak ada ekskul, jam lima harus udah sampai rumah." pringat Erlan.
"Iya." jawab Arga lalu memeluk Papa-nya sebelum keluar kamar. "Papa hari ini enggak ke kantor?" tanyanya mendongakkan kepalanya menatap Papa-nya.
"Kekantor nanti agak siang, nanti kalau waktunya enggak mepet Papa yang jemput kamu di tempat main."
Arga melepaskan pelukannya pada Papa-nya, dia mencium kedua pipi Papa-nya. "Jemput telat enggak pa-pa, aku bisa tunggu sambil main." ucapannya tersenyum manis pada Papa-nya.
"Iya kamu bisa tunggu sambil main tapi Papa enggak bisa, lihat tuh, lengan sama kakinya pada biru-biru gitu. Enggak ingat semalam ngelu capek? Minta di pijat kakinya katanya pada pegel enggak bisa tidur."
"Nanti juga hilang sendiri, aku berangkat sekolah dulu." pamitnya lalu keluar dari kamar.
Di dapur Rania sudah selesai menyiapkan sarapan untuk anaknya. "Sayang, Mama enggak sempat masak bekal makan siangnya nanti Mama anterin ke sekolah." ujar Rania pada anaknya yang baru saja masuk ke dapur.
"Nanti aku juga bisa beli di kantin, aku berangkat sekolah dulu Ma. Aku sarapan di mobil aja." ucap Arga lalu berpamitan pada Rania.
Rania mengantar anaknya sampai pintu depan, setelah Arga berangkat sekolah, Rania kembali ke dapur untuk memasak.
*************************
Di kantor Zidan kedatangan tamu yang sangat penting, di tengah para investor satu-persatu memutuskan kontrak kerja sama. Tamu kali ini datang menawarkan kerja sama dan tentunya itu yang sedang ia butuhkan tapi ia juga tidak ingin bekerja sama dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Roman pour AdolescentsCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
