Dua hari setelah mendengar kabar tentang Rena yang melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan, Erlan dan Rania mengirim hadiah untuk Rena sebagai ucapan selamat atas kelahiran buah hatinya.
Tak lupa Erlan juga mengirim berkas penting untuk Abyan, di mana berkas itu berisi tentang pemindahan hak milik perusahaan. Jika Abyan tidak setuju dengan pemindahan hak milik, maka perusahaan milik Zidan akan beralih tangan pada orang lain.
Erlan menolak untuk meminjamkan sejumlah uang pada Abyan, tapi dia bersedia menolong Abyan dengan cara meminta hak milik perusahaan Zidan menjadi atas nama Arga. Dan Abyan masih bisa bekerja di perusahaan itu, sebagai direktur utama.
"Jika Anda setuju dan langsung menandatangani surat ini, makan seluruh perusahaan milik Zidan Winata akan selamat. Anda masih bisa bekerja di perusahaan itu, dan Anda juga masih memiliki bagian di sana." ucap Nicolas pada Abyan yang sejak tadi hanya diam menatap kertas-kertas yang di oleh dari Erlan.
"Semakin lama Anda berpikir, maka kerugian perusahaan itu akan semakin besar. Jika itu sampai terjadi, mau tidak mau. Anda terpaksa melepaskan perusahaan itu untuk menjadi milik orang lain." ucap Nicolas lagi.
"Di mana Erlan, aku ingin bertemu dengannya dan ingin bicara dengannya." ucap Abyan menatap Nicolas.
"Minta dia untuk datang ke sini,"
"Tugas saya untuk mengantarkan hadiah untuk Anda dan juga untuk adik Anda. Jika Anda ingin bertemu dengan Tuan Erlan, Anda bisa menghubunginya sendiri." ujar Nicolas.
"Dia ingin merampok keluarganya sendiri, semenjak mengenal Rania. Dia bukan lagi Erlan yang penurut, dia berubah karena Rania." ucap Mira yang sejak tadi hanya diam.
Nicolas mengalihkan perhatiannya pada Mira, dia tersenyum tipis pada wanita itu. "Ini bukan sebuah perampokan Nyonya, Tuan Erlan buka orang lain, dalam perusahaan itu ada haknya juga. Jika Naka, sebagai menantu bisa mendapatkan setengah perusahaan itu, mengapa Tuan Erlan tidak bisa? Tuan Erlan anak kandungnya bukan?"
"Kamu enggak tahu apa-apa lebih baik kamu diam. Erlan sepakat untuk tidak lagi menjadi bagian keluarganya, karena dia lebih memilih Rania di banding keluarganya." ucap Mira menatap Nicolas.
"Sudah tahu bukan lagi bagian dari keluarga, kenapa Anda dan keluarga Anda masih saja meminta bantuan dari Tuan Erlan. Anda benar-benar tidak tahu malu." ucap Nicolas dengan santai. Benar-benar keluarga yang aneh, mengatakan bukan bagian dari keluarganya tapi masih mengharapkan bantuannya. Jika saja bukan keluarga besan majikannya, ingin sekali ia menghabisi mereka semua hari ini juga.
"Kalau begitu biar kami yang membeli seluruh perusahaan milik Zidan yang di ambang kehancuran itu." sahut Barta. Dia berjalan mendekati Abyan dan istrinya, Barta tak melepaskan pandangannya pada istri Abyan.
Mira menggenggam tangan Abyan dengan erat, ketika Barta semakin mendekat. "Apa yang ingin dia lakukan." batin Mira. Tatapan mata Barta membuatnya ketakutan.
"Aku mendengar mu membicarakan tentang putri ku, kamu berbicara seolah semua masalah yang terjadi karena putri ku." ucap Barta mengalihkan perhatiannya pada Abyan, merebut berkas-berkas yang ada di tangan Abyan. Menyobek kertas itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
Abyan sendiri hanya bisa diam melihat apa yang di lakukan Barta, dia tidak bisa mencegahnya apa lagi mengucapkan sepatah kata.
"Aku berubah pikiran, tidak ingin membeli atau meminta perusahaan itu. Aku ingin melihat perusahaan itu hancur, dan untuk mu." Barta menatap Mira dengan tatapan dingin.
"Bukan putriku yang akan menjadi penyebab kehancuran hidup mu. Tapi diriku sendiri yang akan menghancurkan hidup mu, Nicolas ayo kita pergi. Jangan membuang waktu mu untuk orang-orang tidak tahu diri ini." ucap Barta lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Novela JuvenilCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
