Liburan ke puncak bersama dengan keluarga sangat menyenangkan, di tambah pemandangan indah di sekitar penginapan membuat betah berlama-lama tinggal di sana.
Namu karena sudah memasuki musim hujan, di puncak biasanya akan lebih sering hujan. Terkadang dari pagi sampai pagi lagi, hujan belum juga reda.
Seperti sore ini, sudah dua hari Arga tidak bisa keluar dari villa karena di luar hujan dari pagi sampai pagi lagi.
Untuk dirinya, hari libur adalah waktunya bermain tanpa batas. Tapi untuk orang-orang yang sudah dewasa, hari libur adalah waktunya untuk bersantai. Seperti kedua orang tuanya, mereka asyik bersantai di atas kasur sambil menonton televisi di temani secangkir teh hangat. Sedangkan dirinya, menunggu hujan reda namun sampai sore, sepertinya hujan turun lebih deras.
Untuk kesekian kalinya Arga menghela napasnya, meratapi nasibnya yang tidak bisa pergi keluar untuk bermain. Andai saja Mama-nya pergi jalan-jalan, ia pasti bisa main hujan-hujanan di luar. Sayangnya Mama-nya memilih untuk bersantai-santai di villa.
"Belum capek kamu dari tadi duduk di situ?" ucap Rania pada anaknya yang duduk di atas lantai sambil memandang ke arah luar melalui jendela kamarnya.
"Aku mau main di luar, sebentar aja. Setengah jam aja, boleh ya Ma." mohon Arga pada Mama-nya.
"Enggak, ini udah sore. Di luar juga hujan, yang ada nanti malah sakit. Main di sini aja, mana mainan kamu, sini main sama Mama sama Papa." ucap Rania turu dari ranjangnya. Dia mendekati anaknya, memintanya untuk berdiri.
"Bosan dari kemarin main itu-itu mulu, ayolah bukain pintunya. Aku mau main di luar sebentar."
"Enggak usah macam-macam, bosan main ya tidur." ucap Rania menarik tangan anaknya mendekati ranjang.
"Lagian ini juga udah sore, besok pagi kalau udah enggak hujan kita main di luar." ujar Erlan menarik pelan tangan anaknya naik ke atas kasur.
"Masa liburan cuma makan tidur doang, enakan di rumah kalau gini. Di rumah bisa main keluar sama Agung, tau gini enggak usah liburan ningap di vila. Besok mau pulang aja, kalau di sini hujan terus kapan main di luarnya? Aku mau pulang." dumel Arga sambil membaringkan tubuhnya samping Papa-nya.
"Besok udah enggak hujan lagi, sekali-kali enggak main enggak pa-pa kan? Kan lumayan bisa buat istirahat." ucap Erlan memeluk anaknya dari samping.
"Sekali-kali apanya, udah dua hari ini. Bukan sekali-kali, aku bisa mati bosan kalau gini terus. Ayo kita pulang aja." rengek Arga sambil menendang-nendang selimutnya.
"Zie enggak main di luar enggak masalah-"
"Oh iya ya, kenapa enggak gangguin Zie aja di kamarnya. Lupa punya sepupu yang bisa di ganggu setiap saat." ucap Arga memotong ucapan Rania. Dengan senyuman lebarnya, dia bangun dari tidurannya, turun dari ranjangnya lalu keluar dari kamar.
Erlan menarik tangan istrinya masuk ke dalam pelukannya. "Aku mau siapin makanan buat makan malam." ucap Rania melepaskan pelukan suaminya.
Erlan mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya. "Kita bisa pesan makanan atau pergi keluar buat makan malam," ucapnya mencium kening istrinya.
"Mumpung tuh bayi lagi main di luar-"
"Jangan macam-macam, tiba-tiba tuh anak masuk lagi gimana? Nanti si cerewet itu banyak tanya." sela Rania menutup bibir suaminya dengan tangannya.
"Benar juga," ucap Erlan melepaskan pelukannya pada Rania, dia turun dari kasur berjalan mendekati pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam.
"Udah aman, tuh bebek enggak bisa masuk gitu aja." ucap Erlan lalu kembali naik ke atas kasur, dengan lembut dia mengusap pipi istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
