Pulang sekolah Arga mengunjungi kantor Erlan, dia datang tanpa memberi tahu Papa-nya lebih dulu. Ini juga kali pertamanya datang ke tempat kerja Papa-nya, selama ini tidak pernah sama sekali.
Arga turun dari mobil, menatap gedung menjulang tinggi di hadapannya. "Ini beneran tempat kerja Papa?" monolognya lalu berjalan mendekati pintu lobby, Arga menghampiri penjaga yang ada di depan pintu lobby.
"Permisi Pak, mau tanya." ucap Arga pada satpam yang berjaga di pintu lobby.
"Iya dek, cari siapa?"
"Aku mau tanya, kalau Papa aku kerja di sini, aku boleh masuk ke dalam enggak Pak? Ke ruangan Papa aku." tanya Arga tersenyum tipis, sebenarnya ia merasa tidak nyaman apa lagi berberapa orang melihat ke arahnya. Tapi ia penasaran ingin melihat seperti apa tempat kerja Papa-nya.
"Siapa nama Papa-nya dek? Biar nanti Bapak bantu."
"Erlan-"
"Ada apa Pak? Anak siapa itu?" suara seorang wanita memotong ucapan Arga, wanita itu berjalan menghampiri Arga.
"Ini Bu Vara, ada anak karyawan di sini." jawab pria itu.
"Sejak kapan kantor ini punya peraturan boleh bawa anak ke tempat kerja? Mau kerja apa mau ngasuh anak." Vara menarik tangan Arga keluar dari lobby.
"Ini bukan tempat bermain, ini kantor tempat orang bekerja. Sana pulang jangan ganggu orang tua mu yang lagi kerja. Kamu mau orang tua kamu saya pecat." usir Vara melepaskan tangan Arga dengan kasar.
"Iya saya tahu Bu, saya ke sini bukan mau main tapi mau jemput Papa saya." jawab Arga, lagi pula siapa yang mau bermain di kontor, ia juga tahu. Kantor tempat orang bekerja.
"Anak siapa sih ini?" Vara melihat ke sekelilingnya untuk mencari orang tua anak yang ada di hadapannya. "Aku tanya sekali lagi anak siapa ini?"
"Anak saya." suara Erlan mengalihkan perhatian wanita itu.
"Papa." panggil Arga berlari menghampiri Erlan. "Kenapa ke sini enggak bilang dulu sama Papa? Enggak izin juga sama Mama pasti." ucap Erlan memeluk anaknya.
Vara melebarkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya, perlahan dia berjalan mendekati Erlan. "Dia anak kamu?" tanyanya pada Erlan, masih tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Ia tahu Erlan sudah punya anak, tapi setahunnya anaknya itu masih kecil.
"Iya." jawab Erlan tanpa melihat ke arah Vara.
"Papa sebentar lagi pulang kan? Aku boleh tunggu Papa sampai pulang kerja? Tunggu di mobil sama Pak Agis." ucap Arga mendongakkan kepalanya menatap Papa-nya.
"Kenapa tunggu di mobil, tunggu di ruangan Papa. Ayo ke ruangan Papa." ajak Erlan mengusap rambut anaknya.
"Boleh nunggu di ruangan Papa?"
"Boleh, ayo." ajak Erlan menggandeng tangan anaknya pergi ke ruang kerjanya.
"Jadi selama ini dia sengaja sembunyiin anaknya, boleh juga main-main sama anaknya." batin Vara tersenyum tipis. Akhirnya yang di tunggu-tunggu muncul dengan sendirinya di hadapannya. Ia tidak perlu susah-susah untuk mencari keberadaan anak itu. Karena selama ini memang ia menunggu momen ini.
"Aku harus dapetin dia kembali." gumam Vara memandang punggung Erlan yang menghilang di balik pintu lift.
"Papa, hari ini Mama bilang pulang malam. Kita bisa makan di luar, nanti makan di mall yang kemarin aku sama Mama beli sepatu ya. Aku lihat ada mainan baru, nanti beliin bya, aku mau beli satu." ucap Arga setelah keluar dari lift.
"Beli sepatu bukanya di toko sepatu ya? Emang ada makanannya?"
Arga berdecak kesal."Aku bilang kan di mall Pa. Banyak yang jual makanan, ngerti kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
