Di tengah orang-orang berjas, terselip seorang anak dengan kemeja putih duduk manis sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Di atas meja ada segelas susu yang masih penuh, tak lupa beberapa cemilan juga ada di mejanya. Dua orang berpostur tinggi dan kekar berdiri di samping anak itu.
Dia tersenyum pada seorang pria yang duduk di meja sebelahnya, pria pun membalas senyumannya. Dengan senyum tipis. Dia mengalihkan perhatiannya pada meja yang paling ujung di ruangan itu.
Melambaikan tangannya menyapa dua pria yang duduk di meja itu. "Aku boleh samperin mereka?" tanyanya pada dua pria yang berdiri di sampingnya.
"Tidak Tuan muda, Anda tidak boleh pergi ke mana-mana." jawab salah satu dari mereka.
"Cuma mau nyapa aja enggak boleh? Mereka masih keluarga Papa aku loh, nanti di bilang enggak sopan sama kakeknya mereka."
"Nanti setelah acara selesai, baru Anda boleh menyapa mereka. Sekarang ini, Tuan Bartajaya ingin mengumumkan hal penting. Anda juga harus mendengarkannya,"
Arga menganggukkan kepalanya, menoleh kearah Bartajaya yang berdiri di panggung kecil. Di sana juga ada Erlan yang berdiri di samping Opa-nya.
"Dia adalah Erlan menantu ku, suami dari putri bungsu ku. Dan anak yang duduk di sana adalah cucu ku," ucap Bartajaya mengenalkan menantu dan cucunya pada teman dan rekan bisnisnya.
Para tamu undangan di sana pun mengalihkan perhatian mereka pada Arga yang sedang duduk sambil menikmati minuman kesukaannya. Menyadari dirinya tengah menjadi pusat perhatian, Arga tersenyum manis menyapa mereka semua yang menatap ke arahnya.
Tak terkecuali Arga juga menyapa dua orang yang duduk di meja paling ujung. Setelah cukup lama perhatian mereka tertuju pada Arga, mereka semua kembali mengalihkan perhatiannya pada Bartajaya dan menantunya.
"Dia suami dari putri bungsu mu, yang bernama Rania Bartajaya?" tanya salah satu dari mereka.
"Benar, Erlan menantu ku. Suami dari putri kesayangan ku. Oleh karena itu, aku mengenalkan menantu ku pada kalian semua. Karena kedepannya, dia yang akan memimpin perusahaan membantu anak sulungku." ucap Bartajaya membuat dua orang yang duduk di meja paling ujung terkejut.
"Rania putri Bartajaya?" gumam Naka tak melepaskan pandangannya pada Erlan.
"Benar, Nona Rania putri Tuan Bartajaya. Dan Tuan Erlan adalah menantunya. Sekarang Anda sudah paham?" ucap Nicolas yang kebetulan berdiri di belakang mereka. Mendengar ucapan Naka.
"Ini hanya permainan konyol Bartajaya, aku tahu siapa Rania. Asal usul wanita itu tidak jelas, dia hanya wanita kampungan yang memanfaatkan Erlan untuk mendapatkan kekayaannya." ucap Naka mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia menatap Nicolas dengan tatapan sinis.
Nicolas tersenyum tipis. "Bukankah yang baru saja Anda bicarakan itu Anda sendiri Tuan Naka? Saya mengetahui semua jejak masa lalu Anda. Saya tahu kondisi keluarga Anda seperti apa."
"Bajingan! Ini adalah jebakan kalian semua." tuduh Naka bangkit dari duduknya.
Dengan tenang Nicolas menatap Naka, meminta Naka kembali duduk sebelum menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. "Silahkan Anda duduk kembali dengan tenang, dan menikmati acara ini sampai selesai, jika Anda ingin keluar, mari saya tunjukkan pintu keluarnya."
Bugh
Dengan keras Naka memukul rahang Nicolas, seketika itu juga mereka menjadi pusat perhatian. Erlan dan Barta bergegas turun dari panggung, menghampiri Arga yang masih duduk di kursinya dengan santainya.
"Bawa Arga pergi dari sini, biar Ayah yang urus mereka." titah Barta pada menantunya.
Erlan menggandeng tangan anaknya, melangkahkan kakinya pergi dari sana. "BAJINGAN MAU PERGI KEMANA KAMU?" terik Naka ketika melihat Erlan diam-diam pergi meninggalkan ruangan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Novela JuvenilCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
