"Saya mendapatkan informasi tentang pria yang menolong Arga siang tadi di rumah sakit Tuan." ucap salah satu anak buah Zidan yang di tugaskan untuk mencari tahu tentang Zergan.
"Siapa dia?" tanya Abyan.
"Saya tidak tahu pasti siapa dia, tapi dia mengenal Bartajaya. Mereka terlihat begitu akrab, saya melihatnya di parkiran rumah sakit." jelas pria itu.
"Bartajaya?" tanya Naka untuk memastikan dirinya tidak salah mendengar.
"Bartajaya pemimpin kejam itu?" kali ini Abyan yang bertanya.
Pria itu mengangguk kecil. "Benar Bartajaya pemimpin yang berhasil menaklukkan musuh-musuhnya sampai ke akar-akarnya, kapal kita yang mengangkut barang ilegal pernah di hancurkan oleh anak buahnya."
"Bukanya dia udah enggak memimpin perusahaannya lagi?" ujar Naka. Ia pernah mendengar tentang kekuasaan Bartajaya, tapi selama ini ia belum pernah bertemu langsung dengan orangnya. Katanya jika melakukan kerja sama dengan perusahaan Bartajaya, harus menyerahkan saham sebesar lima puluh persen secara cuma-cuma. Tetapi syarat itu bukan menjadi masalah, terbukti banyak sekali perusahaan-perusahaan besar yang ingin bekerja sama dengan Bartajaya.
"Putrinya mengambil alih perusahaan itu, yang saya dengar putrinya lebih kejam dari pada Ayah-nya. Dari informasi yang saya dapat, Bartajaya memiliki dua putri. Putri pertamanya memimpin perusahaan sedangkan putri bungsunya seorang mafia. Hanya itu informasi yang saya dapat."
"Siapa nama kedua putri Bartajaya?" tanya Zidan.
"Saya tidak tahu Tuan, saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang kedua putri Bartajaya."
"Pergilah," titah Zidan. Sekarang ia tahu siapa yang membantu anaknya untuk melawan dirinya, yaitu Bartajaya. Pemimpin yang terkenal dengan kekejamannya dan tidak pernah memberikan kesempatan kedua bagi para musuhnya. Sama saja Erlan cari mati dengan Bartajaya.
"Pa, kalau sampai Erlan kerja sama dengan Bartajaya-"
"Biarin aja, biar dia tanggung sendiri resikonya. Kita cukup melihat sampai di mana anak itu bertahan hidup di bawah kendali Bartajaya." Zidan menyela ucapan Abyan.
Zidan bangkit dari duduknya, berjalan mendekati sofa panjang lalu duduk di sofa itu. "Informasi yang dia dapat tidak semuanya benar."
"Maksud Papa?" tanya Abyan.
"Perusahaan Bartajaya bukanlah perusahaan besar, dia hanya memiliki perusahaan kecil yang mematikan. Di mana perusahaan kecil itu mampu membuat perusahaan-perusahaan besar bekerja untuk mereka. Perusahaan kecil itu tidak menerima penolakan, jika ada yang berani menolak maka perusahaan itu akan di ambil alih menjadi milik Bartajaya." jelas Zidan.
"Dan sebagai perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kita, ada di bawah kendalinya. Jika Erlan membuat sedikit kesalahan dengan Bartajaya. Maka kita akan habis."
Abyan dan Naka sangat terkejut dengan fakta yang baru saja mereka dengar, jadi selama ini mereka semua bekerja untuk Bartajaya. "Jadi karena ini, Papa berusaha menyatukan perusahaan Ayah Vara dengan perusahaan kita. Dengan begitu kita bisa memberontak?" ucap Abyan.
"Itu aja belum cukup untuk melawan Bartajaya, namun persatuan itu dapat menguntungkan kita. Karena perusahaan Vara tidak ada di bawah kendali Bartajaya."
"Sekarang apa rencana kita, kita enggak bisa selamanya terus bekerja untuk Bartajaya." ucap Naka menatap Zidan dengan serius, memaksa Erlan untuk kembali tidak ada gunanya, karena kelurga Vara menghilang entah kemana. Tidak ada yang tahu kemana perginya keluarga Vara.
"Kita enggak perlu melakukan apapun untuk saat ini, kita hanya perlu melihat sampai di mana Erlan bertahan di bawah tekanan Bartajaya." ucap Zidan tersenyum tipis.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
