Tepat jam enam sore Arga sampai di rumah, dia turun dari mobil, berjalan mendekati salah satu penjaga yang sedang bertugas di depan pintu masuk rumahnya.
"Om, Papa belum pulang?" tanya Arga yang tak melihat mobil Erlan di garasi. Tumben sekali, biasanya jam segini Papa-nya itu sudah ada di rumah.
"Tuan Erlan dan nona Nia sedang pergi ke rumah sakit, untuk menjenguk tuan Zidan." jawab pria itu.
"Emangnya sakit apa sampai di jenguk segala?"
"Saya kurang tahu Tuan muda, tapi nona Nia berpesan jika Anda sudah pulang Anda di minta untuk menghubungi nona Nia atau tuan Erlan." ucap pria itu menyampaikan pesan dari majikannya untuk anaknya.
"Hubungi pake apa? Hp aku kan sama mereka."
"Telpon rumah."
Arga menghela napasnya lalu masuk ke dalam rumah, dia melepas sepatunya, memasukkannya ke dalam rak sepatu lalu pergi menuju ruang keluarga. "Nyebelin banget deh, bisa-bisanya di tinggal di rumah sendiri hp enggak di tinggal di rumah. PS juga masih di sita, tahu gini tadi enggak usah buru-buru pulang." dumel Arga sambil menatap telpon rumah yang ada di atas meja.
"Kenapa sih lo enggak rusak-rusak, perasaan dulu pernah gue banting. Pernah gue getok juga pake mainan." kesal Arga. Tak ayal dia tetap menggunakan telepon rumah untuk menghubungi kedua orang tuanya. Karena tak ada pilihan lain selain menggunakan telepon rumah. Karena ia di larang meminjam ponsel orang lain kecuali dalam keadaan darurat.
Setelah berbicara dengan Papa-nya, wajah Arga yang sudah kesal di tambah kesal ketika Papa-nya memintanya untuk makan malam sendiri dan tidur lebih awal dan Papa-nya juga mengatakan akan pulang terlambat.
Dengan menghentakkan-hentakan kakinya dia pergi ke kamarnya, membuka pintu kamar lalu menutupnya dengan kasar.
BRAK!
Arga berjalan mendekati ranjang, merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya. "Pasti ini rencananya si Danish sama kakeknya biar Mama sama Papa di rumah sakit lama-lama." monolognya.
"Mumpung Mama sama Papa enggak ada di rumah, berati gue boleh beli makanan di luar." Arga tersenyum lebar, ia akan menggunakan kesempatan ini untuk pergi jalan-jalan dengan sepedanya. Sambil mencari makan malam di luar, ia akan mengajak Agung bersepeda di taman tak jauh dari komplek rumahnya.
"Oke, mari kita mandi." ucapannya dengan semangat lalu bangun dari tidurannya. Arga membuka pintu lemari, seketika itu sepucuk kertas jatuh ke atas lantai. Dia mengambilnya lalu membacanya.
Jangan coba-coba pergi sendiri selama Mama sama Papa enggak ada di rumah.
Sekali melanggar. Hukumannya Mama tambah.
Arga menyobek kertas itu lalu membuangnya ke tempat sampah. "Aaaaa! Apa-apa enggak boleh. Udahlah enggak jadi mandi." kesalahannya lalu mengambil baju tidur, dia mengganti serangannya dengan baju tidurnya tanpa mandi lebih dulu.
**********************
Di rumah sakit Erlan dan Rania hanya bisa melihat Zidan dari luar ruang rawatnya, mereka mendapatkan kabar dari Abyan yang mengatakan jika Zidan jatuh dari tangga.
Dokter mengatakan kondisi Zidan belum stabil, terlebih lagi Zidan mengalami benturan keras di kepalanya. Meneng tidak ada pendarahan dalam, nama dari kondisi Zidan sebelumnya yang sempat menurun menjadi pemicu kondisinya saat ini.
Rania mengusap punggung suaminya. "Seharusnya aku berpikir sampai kesini sebelum bertindak. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" ucap Erlan menoleh pada istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Novela JuvenilCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
