Akhir pekan Erlan dan keluarganya menginap di rumah Barta, saat ini dia sedang menemani anaknya bermain game di ruang keluarga.
"Ayo taruhan Pa, yang menang dapat hadiah yang kalah dapat hukuman." tantang Arga pada Erlan.
Dengan senang hati Erlan menerima tantangan dari anaknya. "Apa hadiah yang menang?"
"Yang kalah malam ini tidur sendiri gimana?" sahut Rania yang duduk di sofa, sedangkan mereka berdua duduk di atas karpet.
"Enggak lah, kan ini hari libur. Jatah tidur bareng di kamar Mama, enggak mau aku. Nanti Papa pasti curang." tolak Arga, hari libur adalah hari bermain sepuasnya dengan Papa-nya, jika tidak bisa tidur di kamar kedua orang tuanya. Mana bisa menghabiskan waktu bermain game bersama Papa-nya yang setiap harinya selalu sibuk.
"Bukanya hari-hari biasa tidur sendiri berani?" tanya Barta.
Arga menoleh pada Barta. "Berani tidur sendiri tapi kan Papa udah bilang kalau hari libur boleh main sampai malam, tidur di kamar Papa kan hp aku sama Mama. PS aku juga di kamar Mama, kecuali mereka mau pindahin ke kamar aku. Tidur sendiri setiap hari juga oke aja." balas Arga sambil tersenyum manis.
"Oh, jadi selama ini mau tidur di kamar Papa tuh cuma karena mau main game?" ucap Erlan menatap anaknya dengan wajah serius.
"Iya lah, kan cuma di hari libur aku bisa main PS sampai malam." balas Arga.
"Kalau gitu nanti tidurnya dekat-dekat sama PS-nya aja, enggak usah dekat-dekat sama Papa." ucap Erlan meletakkan stick gamenya di atas meja, bangkit dari duduknya beralih duduk di samping istrinya.
"Dih, gitu aja ngambek." gumam Arga kembali melanjutkan acara bermain gamenya, di tengah seriusnya bermain game. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, panggilan masuk dari teman sekolahnya.
Arga bangkit dari duduknya, mengambil ponselnya yang ada di atas karpet. "Aku ke kamar dulu, mau angkat telepon dari teman." izin Arga pada kedua orang tuanya.
"Kenapa harus ke kamar, angkat aja di sini." cegah Erlan sebelum anaknya pergi ke kamarnya. Hal penting apa yang ingin di bicarakan temannya, Ia juga ingin tahu apa yang akan di bicarakan teman anaknya.
"Kita mau bahas tentang kerja kelompok,"
"Ya udah basah aja di sini, kenapa harus ke kamar segala. Duduk, angkat telponan di sini." ucap Erlan meminta anaknya untuk duduk di dekatnya.
Dengan terpaksa Arga duduk di sebelah Papa-nya, dia kembali menghubungi temannya. "Kok namanya cewek?" ucap Erlan ketika melihat nama yang tertera di panggilan masuk ponsel anaknya.
"Ya satu kelas enggak mungkin cowok semua," balas Arga sambil menunggu temanya menjawab telepon dari dirinya.
"Halo Ar." suara seorang gadis terdengar dari handphone Arga.
Erlan mendekatkan dirinya pada anaknya, agar lebih jelas mendengar apa yang akan anaknya bahas dengan teman perempuannya itu. "Lo udah cari bahan-bahan yang gue bilang kemarin kan?" tanya gadis itu.
"Udah tapi belum komplit, masih ada yang kurang. Gue udah minta yang lain buat bantuin cari juga." balas Arga.
"Nanti gue coba bantu cari yang masih kurang, jadinya nanti mau di kerjain di mana?"
"Di mana aja, gue ikut aja."
"Rumah gue aja gimana?"
"Oke, hari senin pulang sekolah langsung kita kerjain di rumah lo."
"Oke, nanti gue kabarin yang lain. Ya udah dulu ya Ar," ucap gadis itu lalu panggilan telpon terputus, Arga kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Fiksyen RemajaCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
