Akhir pekan Erlan mengabiskan waktu bersama dengan keluarga kecilnya, dia menemani istri dan anaknya yang ingin pergi ke pasar malam. Namu karena ini masih sore dan pasar malam belum di mulai, sambil menunggu mereka memilih pergi ke tempat pusat perbelanjaan lebih dulu.
"Papa aku boleh enggak main game tapi enggak usah di temanin? Cuma di timezone doang enggak keman-mana." mohon Arga melepaskan genggaman tangan Erlan yang sejak tadi menggandeng tangannya. Padahal ia sudah menolaknya, tapi Papa-nya itu bilang agar tidak hilang karena berada di tempat ramai orang.
"Enggak, kalau mau main ayo. Papa temenin." balas Erlan kembali menggandeng tangan anaknya.
"Temenin Mama beli baju dulu baru main timezone. Mama mau beli baju tidur kamu, udah pada kekecilan." ujar Rania menghentikan langkahnya di depan toko baju.
"Mama aja yang beli aku main, orang timezonenya cuma sebelahan."
"Kamu harus cobain bajunya, Mama enggak mau dua kali kerja gara-gara bajunya enggak pas sama kamu. Mama juga mau beli baju yang samaan buat kita bertiga." ucap Rania menarik tangan suami dan anaknya masuk ke dalam toko baju.
Rania mulai sibuk memilih beberapa baju untuk anaknya coba, tak lupa ia juga memilih untuk dirinya sendiri dan juga untuk suaminya.
"Pasti bakalan lama di sini, kalau sambil main kan enggak berasa waktunya." dumel Arga mengendus kesal menatap Mama-nya yang sibuk memilih baju.
Erlan mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Nanti habis ini kita main timezone, kita temenin Mama belaja dulu. Jarang loh kamu temenin Mama belaja, biar Mama juga senang anaknya mau temenin Mama-nya belanja."
"Jarang temenin Mama belaja, kan Mama sendiri yang kalau di temenin belanja ke pasar enggak mau."
"Ya habisnya kalau ke pasar kamu enggak bisa diam. Ingat enggak terakhir ikut Mama ke pasar kamu ngapain?" Erlan mengingat dulu saat Arga iku pergi ke pasar, saat itu jalana di pasar memang sedikit becek karena pagi itu juga gerimis. Rania sudah memperingatkan anaknya agar hati-hati saat berjalan, namun anaknya itu mengabaikan peringatan Mama-nya.
Saat Mama-nya sibuk memilih sayuran, Arga menunggu sambil melihat ayam yang di jual di pasar, karena tertarik dengan ayam yang di jual. Arga pun meminta Rania untuk membelikannya, karena tidak ingin lama-lama di pasar, Rania pun membelikan ayam yang anaknya minta.
Karena terlalu senang mendapatkan ayam warna-warni yang di inginkannya, dia berjalan sambil memainkan anak ayam yang baru di belinya. Karena tak memperhatikan jalan, Arga terpeleset dan jatuh di jalan, membuat anak ayam yang di belinya menjadi gepeng tertimpa tubuhnya.
Entah karena sakit atau malu, dia buru-buru bangun dan berlari menghampiri Mama-nya, namun sayang dia kembali jatuh karena menginjak tomat yang jatuh di dekat tukang sayur, membuat salah kakinya terperosok ke dalam got dan berakhir anak itu menangis, tangisannya mengundang perhatian orang-orang di sekitar. Setelah kejadian itu, Rania tidak mau lagi mengajak anaknya ikut belaja ke pasar.
"Kan licin, wajar kalau kepeleset." balas Arga mendudukkan dirinya di sofa yang ada di toko baju itu.
"Arga, coba sini. Mama mau lihat, ini baju muat enggak sama kamu." ucap Rania berjalan mendekati anaknya, meminta anaknya untuk berdiri agar ia bisa mengukur baju yang ingin ia beli.
Arga mendongakkan kepalanya menatap Mama-nya. "Mama masih lama enggak? Aku udah lapar."
"Lapar? Tunggu sebentar ya, Mama bayar dulu habis itu beli makan." ucap Rania mencium pipi anaknya lalu segera pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.
Tak berselang lama Rania kembali menghampiri suami dan anaknya, Erlan mengambil alih tas belanjaan dari tangan istrinya. "Sayang, udah tahu mau beli makanan apa?" tanya Rania merangkul pundak anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
