"Kakak ipar kamu tuh aneh, sebelum nyalahin anak orang. Harusnya cari tahu dulu yang salah siapa, jangan main asal nyalahin seenak dia aja." kesal Rania pada Mira dari semalam menelponnya, dia mengatakan Arga memukul Danish. Mira meminta Rania untuk mengajari anaknya agar tidak berbuat kasar pada orang lain.
"Orang tua kamu juga, bisa ya mereka nerima Ryan yang cuma keponakan jauh mereka. Aku bukanya iri sama Ryan, Arga enggak dekat sama mereka juga enggak masalah. Yang penting jangan ganggu anak aku, itu aja udah cukup." oceh Rania sambil mengemasi barang-barang yang anaknya ingin bawakan dari rumahnya.
Erlan sendiri hanya diam mendengarkan ocehan istrinya, karena jika dia iku bicara yang ada istrinya semakin menjadi. Lebih baik ia diam dan mendengarkan apa yang istrinya keluhkan.
"Awas." ketus Rania pada Erlan yang menghalangi jalannya, dia menarik kursi kedekat lemari untuk mengambil barang yang ada di atas lemari.
"Mau ambil apa? Sini biar aku aja yang ambilin." cegah Erlan saat Rania ingin naik ke atas kursi.
"Enggak usah aku bisa ambil sendiri, kamu kan hari ini enggak ada kerjaan. Bilang tuh sama Kakak ipar kamu, Danish tuh di bilang jangan suka gangguin Arga. Jangan cuma Arga doang yang di salahin, anak dia juga salah."
"Iya nanti aku bilang," balas Erlan sambil memegangi kursi agar aman saat istrinya naik ke atas kursi.
"Jangan cuma iya-iya doang, kalau kamu enggak berani bilang. Lama-lama mereka seenaknya sendiri, ada apa-apa sedikit sama anak mereka yang di salahin Arga terus, lagian Danish kan ke sekolah enggak sendiri. Masa iya, dua orang yang jagain dia enggak bisa apa-apa. Jagain dong, biar enggak gangguin anak orang."
"Pantas enggak punya teman, anaknya aja gitu. Orang tuanya juga sama, di mata mereka anaknya yang selalu benar, padahal belum tentu." ucap Rania turu dari atas kursi setelah mengambil barang yang ada di atas lemari.
Erlan menahan tangan istrinya, meminta untuk duduk di kursi. "Kalau kesal, marah. Marah aja dulu, enggak usah sambil kerja. Yang ada kamu tambah capek, banyak barang yang enggak penting iku ke bawa." ucap Erlan dengan lembut mengusap rambut istrinya.
"Aku tahu kamu pasti kesal banget sama keluarga aku, kamu capek sama kelakuan mereka dan aku sendiri enggak bisa berbuat banyak buat kalian berdua. Aku minta maaf, tapi aku janji, aku bakal melakukan apapun buat ngelindungi kalian berdua." ujar Erlan memeluk istrinya.
Rania membalas pelukan suaminya. "Aku cuma takut mereka apa-apain Arga, kalau mereka aja tega sama kamu apa lagi sama Arga," lirih Rania.
"Semua yang udah kita lalui, masa sulit kita enggak ada artinya kalau kita enggak bisa ngelindungi anak kita sendiri-"
"Enggak akan terjadi apa-apa sama Arga, jangan mikiri yang bukan-bukan." sela Erlan melepaskan pelukannya. "Apa lagi yang Arga minta kemarin, jangan sampai ada yang lupa. Kalau di suruh ambil lagi ke sini jauh." ujarnya untuk mengalihkan pembicaraan istrinya.
"Oh, iya Arga minta buku yang ada di kamarnya. Tunggu sebentar aku ambil dulu." ucap Erlan segera pergi ke kamar anaknya untuk mengambil buku yang anaknya minta.
****************
Sementara itu Arga berada di dalam mobil ambulance yang akan membawa Nicolas ke rumah sakit. Dia tidak sendirian, ada Zidan di dalam mobil ambulance.
Zidan terus berusaha membujuk Arga untuk ikut dengan mobilnya, tapi Arga menolaknya. Meskipun ia mengancamnya.
Zidan menghela napas kasar, menatap Arga yang duduk di seberangnya. "Kamu bakalan di tanya polisi atas kecelakaan ini, dan tentang sopir kamu itu." ucap Zidan menakut-nakuti Arga.

KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
JugendliteraturCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...