"Lo masih bantuin Danish ngerjain tugas kelompok Ar?" tanya Agung pada Arga yang tengah sibuk dengan menggunting koran bekas.
"Gue kasihan sama dia, di kelasnya enggak ada yang mau satu kelompok sama dia. Jadi gue bantuin dia." jawab Arga, memang tugas kelompok yang di kerjakan dengan Danish bukanlah tugasnya tapi tugas Danish.
Karena di kelas Danish tidak ada yang mau satu kelompok dengan Danish jadilah Danish meminta bantuan Arga.
Arga sendiri tidak merasa keberatan untuk membantu Danish, hal seperti ini bukan hanya sekali dua kali. Tapi sudah sering, dan yang membuat teman kelas Danish tidak mau satu kelompok dengan Danish karena Danish tidak memiliki waktu untuk mengerjakan bersama-sama.
"Tapi Ar, Lo yang lebih banyak ngerjain tugas dia di bandingkan yang punya tugas. Harusnya lo yang cuma bantuin dia bukan lo yang ngerjain gini." ucap Agung duduk di depan meja Arga.
"Udah kok, dia udah bantuin. Besok kan di kumpulin, jadi harus selesai hari ini. Biar dia bisa bawa pulang, besok bawa lagi ke sekolah. Gue kasih ini ke Danish dulu sebentar." ucap Arga setelah menyelesaikan tugas sekolahnya.
Arga membawa hasil karyanya keluar dari kelas, sengaja menunggu kelas Danish bubar agar ia bisa langsung memberikannya pada Danish. "Danish," panggil Arga pada Danish yang baru saja keluar dari kelasnya.
"Ini tugas sekolah lo, udah jadi. Besok di kumpulin kan? Lo bisa bawa pulang hari ini, biar besok lo bisa bawa lagi ke sekolah." ucap Arga berjalan mendekati Danish.
Danish menerima tugas sekolahnya yang sudah jadi dari tangan Arga, tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia berjalan mendekati tong sampah, membuang hasil karyanya ke dalam tong sampah. "Gue mending enggak dapet nilai dari pada harus berterima kasih sama lo." ucap Danish lalu pergi dari sana.
"Ya terserah lo sih, bukan urusan gue juga lo dapat nilai atau enggak. Niat gue bantuin lo iklhas." ucap Arga lalu kembali masuk ke dalam kelasnya untuk mengambil tasnya.
"Gung ayo pulang." ajaknya.
"Udah lo kasih ke Danish?"
"Udah di buang malah sama dia, enggak tahu kenapa tuh anak kesambet setan dari mana. Tapi ya bodoh amat lah bukan tugas sekolah gue." ucap Arga lalu mereka berdua keluar dari kelas.
"Gung, lo mau ikut gue enggak? Gue mau ke restoran Mama." tawar Arga sambil berjalan menuruni tangga, tepat di ujung tangga di sana ada Danish yang entah sedang apa.
Danish menatap Arga dengan tatapan tajam, tatapan mata itu menunjukkan kebencian, Arga sendiri tidak tahu apa yang membuat Danish begitu, sebelumnya baik-baik saja.
"Enak ya hidup lo, sedangkan sepupu gue sampai sekarang enggak pernah ketemu sama Papa-nya." ucap Danish dengan sinis.
"Ya apa hubungannya sama gue yang hidup enak, gue aja enggak tahu Papa sepupu Lo yang mana." ucap Arga yang tak tahu apa yang di maksud Danish, apa hubungannya dirinya dengan sepupunya itu. Mengenal saja tidak.
Danish tersenyum tipis, melangkahkan kakinya mendekati Arga. "Lo beneran enggak tahu apa cuma pura-pura enggak tahu? Gue yakin selama ini lo tahu." bisiknya di telinga Arga.
Arga menghela napasnya, mendorong tubuh Danish agar menjauh dari dekatnya. "Gue enggak tahu maksud lo."
Danish berdecak kesal, mengusap bahunya yang baru saja di sentuh Arga. "Lo tanya aja sama nyokap lo itu."
"Kenapa lo jadi bawa-bawa nyokap gue, lo kalau mau ribut sama gue ayo. Tapi jangan bawa-bawa orang tua gue." tantang Arga.
"Karena nyokap lo yang udah buat sepupu gue kehilangan peran Ayah dari dia bayi. Dan karena nyokap lo juga yang udah buat Om gue pergi dari rumah. Semuanya salah nyokap lo."
Tadi pagi Danish tak sengaja melihat Arga yang sedang bercanda dengan Erlan di lobby sekolah, tadinya Danish ingin menghaprinya. Namun saat melihat wajah Erlan dia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Arga.
Danish mengingat foto-foto yang pernah di buang Kakek-nya,Papa-nya Arga sangat mirip dengan orang yang ada di foto itu. Dari situlah Danish meyakini Arga adalah anak Om-nya yang pergi meninggalkan rumah orang tuanya demi menikah dengan wanita pilihannya.
Om-nya itu tega meninggalkan anaknya yang belum lahir demi wanita lain, yang sekarang dia bisa hidup bahagia tanpa memikirkan nasib anak yang dulu di tinggalkannya.
Arga mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk menyalurkan emosinya, dia berusaha menahan diri agar tak sampai memukul Danish yang dengan seenaknya menuduh Mama-nya yang bukan-bukan. Mengenal keluarganya saja tidak.
"Sekarang lo ngerti kan? Apa yang gue maksud. Balikin Om gue, sepupu gue juga butuh peran Ayah-nya. Lo jangan egois." ucap Danish menatap Arga penuh permusuhan.
"Gue enggak pinjam Om lo, masalah sepupu lo yang enggak dapet peran Ayah. Suruh Mama-nya nikah lagi aja, biar dapet peran Ayah. Mau yang bujang, mau yang duda. Terserah asal jangan suami orang aja. Apa lagi suami nyokap gue." ucap Arga lalu pergi dari sana, ia malas menghadapi orang seperti Danish.
"Gue bakal bilang ke Kakek, kalau lo anaknya Om Erlan. Bukan Erlangga." seru Danish menghentikan langkah Arga dan Agung.
"Udahlah Ar, enggak usah di ladenin. Percuma juga, buang-buang waktu." ucap Agung menarik tangan Arga melajukan langkahnya pergi dari sana.
"Aku harus kasih tau Daddy." . Danish segera pergi ke lobby untuk menunggu Daddy-nya, sesekali dia melirik Arga yang duduk di bangku sambil mengobrol dengan Agung.
Sayangnya sebelum Abyan sampai di lobby, Arga sudah di panggil lebih dulu karena sopirnya sudah datang menjemputnya. "Apa lihat-lihat, mau gue colok mata lo." ucap Arga ketika Danish terus menatap ke arahnya.
"Lo bakalan di keluarin dari sekolah ini." ancam Danish tersenyum mengejek Arga, ia bukan hanya ingin memberi tahu pada Abyan saja, ia juga akan memberi tahu pada Kakek-nya tentang Arga dan akan meminta untuk mengeluarkan Arga dari sekolah ini.
"Bagus malah, gue emang enggak suka sekolah. Gue sekolah terpaksa karena Mama gue yang maksa-maksa." balas Arga lalu segera masuk ke dalam mobil.
Arga membuka jendela mobil lalu melambaikan tangannya pada Danish. "Gue duluan ya, bay." ucapnya lalu kembali menutup kaca jendela mobilnya.
"Pak Agis kita ke restoran Mama ya, tapi mampir beli kue dulu sebentar. Di toko yang bisanya itu." ucap Arga pada sopirnya.
"Kata Ibu, kamu boleh beli yang lain kalau udah makan buah." ucap Pak Agis sambil memberikan kotak berukuran sedang berisi buah-buahan yang tadi di siapkan majikannya untuk anak tersayangnya.
Arga menerima kotak itu. "Yang penting udah makan kan?"
"Katanya harus sampai habis."
Arga menghela napasnya, membuka kotak makannya, melihat buah yang di bawakan Mama-nya. "Kenapa harus di campur-campur gini sih? Jadi enggak enak buahnya. Aku enggak mau makan." Arga kembali menutup kotak makannya, meletakkannya di kursi sampingnya.
"Langsung ke restoran aja Pak, enggak usah mampir ke toko. Aku enggak mau makan buahnya." ucap Arga menyadarkan tubuhnya di kursi mobil. Memejamkan matanya, memikirkan ucapan Danish tadi di sekolah. Ia masih belum paham maksud Danish, apa hubungannya Papa-nya dengan keluarga Danish dan terutama pada sepupu Danish itu. Kenapa sepupunya itu anak Papa-nya, bukunya anaknya hanya dirinya, tidak ada yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Roman pour AdolescentsCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
