Dalam keheningan malam, udara dingin masuk melalui jendela yang terbuka lebar, pria yang berdiri di dekat jendela itu, tak menghiraukan udara dingin yang menusuk sampai ke tulang. Dia asyik menatap langit malam, sampai tak menyadari istrinya berdiri di sampingnya.
"Kamu mikirin soal kejadian tadi?" ucap Rania menatap suaminya.
Erlan mengalihkan perhatiannya pada istrinya, menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum tipis. "Aku cuma lagi bingung sama mereka," jawab Erlan menutup jendela lalu mengajak istrinya untuk duduk di sofa.
"Udaranya dingin, kita ngobrol di sana aja." ujarnya berjalan mendekati sofa panjang yang ada di kamarnya, sekilas dia menoleh kearah kasurnya. Melihat anaknya yang tidur meringkuk seperti bayi.
"Kamu tadi bilang bingung sama mereka? Maksud kamu, mereka itu keluarga kamu?" tanya Rania mendudukkan dirinya di sebelah suaminya.
"Iya, dari dulu Papa aku emang keras dalam mendidik anaknya. Terutama anak laki-laki, tapi dia lebih keras mendidik aku dari pada Mas Abyan. Karena di antara mereka aku yang paling nakal." ucap Erlan menyandarkan tubuhnya di sofa, mengingat masa lalunya.
Dalam mendidik anak, Zidan memang keras. Dia tidak suka di bantah, apa lagi tentang pendidikan. Anak-anaknya harus mendapatkan nilai yang bagus, Rena dan Abyan selalu menjadi juara kelas. Sedangkan dirinya selalu menjadi yang terakhir di dalam kelasnya. Sampai pada akhirnya, ia di masukan ke dalam asrama, alasannya agar tidak dirinya fokus pada sekolah. Dan itu berhasil, dua tahun di asrama merubah seorang Erlan yang malas sekolah menjadi rajin sekolah.
Sampai ketiga anaknya tubuh dewasa dan Abyan menikah, satu tahun kemudian Rena juga menikah. Tahun berikutnya, Rena dan Mira hamil anak pertama mereka. Setelah mereka melahirkan yang selisihnya hanya sekitar dua bulan. Rumah Zidan, perlahan-lahan mulai berubah. Sampai suatu hari ada kesalahpahaman di antara Rena dan Mira, yang akhirnya Rena memilih pergi dan tinggal di rumah suaminya.
Itu awal perpecahan dalam keluarga Zidan, tak lama setelah kejadian itu. Rena meminta sebuah anak perusahaan pada Zidan, agar Naka dapat mengelolanya. Zidan memberikan apa yang anak kesayangan minta, dia memberikan salah satu anak perusahaannya pada menantunya. Namu baru satu tahun, menantunya itu mengelola anak perusahaannya sudah mendapatkan banyak masalah dan berakhir bangkrut.
"Perusahaan yang bangkrut itu sekarang masih berdiri kokoh, bahkan sudah menjadi perusahaan besar." ucap Erlan menoleh pada istrinya. "Itu adalah perusahaan yang di berikan Ayah kamu sama aku, sebagai hadiah. Dulu itu adalah anak perusahaan Papa aku yang bangkrut dan di jual oleh Naka." jelasnya.
"Terus yang bikin kamu bingung apa?" tanya Rania.
"Yang bikin aku bingung, kenapa sekarang mereka jadi aneh. Sebelumnya mereka enggak pernah ikut campur tangan kita. Sebelumnya mereka juga mulai menerima kehadiran kita, lalu tiba-tiba mereka berubah. Kembali membenci kita, yang menurut ku, penyebabnya enggak jelas. Dan sekarang mereka menuduh aku yang udah mencelakai Rena. Padahal aku sama sekali enggak tahu tentang itu." ucap Erlan yang tak habis pikir dengan keluarganya yang tidak bisa mencari bukti lebih dulu sebelum menuduh orang lain yang bukan-bukan.
"Aku curiga ini semua ada sangkut pautnya sama Naka, kamu ingat kan? Dulu aku pernah di tuduh hamilin anak orang, padahal Abang dia sendiri yang ngelakuin. Untung aja tuh cewek suka sama Abang-nya Naka, kalau enggak. Udah mati aku di tangan Papa." ucap Erlan mengingat tuduhan gila dari Naka yang hampir membunuhnya, dan tuduhan itu tepat saat dirinya baru saja menyatakan perasaannya pada Rania. Yang sekarang ini menjadi istrinya.
"Terus sekarang apa rencana kamu? Mereka lebih percaya Naka dari pada kamu."
"Aku udah ada rencana sama Kak Hera buat ngasih pelajaran sama Naka, tapi kamu tahu sendiri Rena sekarang lagi hamil. Aku enggak bisa gegabah, biar bagaimana pun dia adik aku sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
