Setelah tadi makan siang bersama dengan keluarga besar Erlan, kini mereka sedang duduk santai sambil mengobrol. Rania sendiri terlihat akrab dengan kedua iparnya, begitu juga dengan keakraban Mery dengan menantunya.
Erlan juga sedang mengobrol di halaman belakang bersama dengan Abyan dan juga adik iparnya. Mereka mengobrol di halaman belakang sambil mengawasi anak-anak mereka yang sedang bermain, kecuali anak Erlan. Dia tidak mau ikut bermain dengan sepupunya, alasannya di luar panas.
"Arga." panggil Abyan pada Arga yang sedang duduk di teras sambil memberi makan kura-kura milik Sifa.
"Iya," jawab Arga menoleh pada Abyan.
"Kamu enggak mau ikut main sama yang lain, mereka lagi main bola tuh." tunjuk Abyan pada anak-anak yang sedang bermain bola basket di halaman.
Arga mengalihkan perhatiannya pada sepupunya yang sedang asyik bermain bola basket. "Enggak, capek. Malas panas juga." ujarnya lalu kembali memberikan makanan pada kura-kura yang sejak tadi tidak mau keluar dari rumahnya, ingin sekali ia memukul cangkangnya agar kura-kura itu keluar. Tapi ia tak setega itu dengan binatang.
"Om, Kakek-nya mereka pergi ke mana? Kok di rumah enggak ada?" tanya Arga dengan jari menujuk ke arah halaman.
"Kakek kamu lagi ada urusan di luar, malam nanti baru pulang." jawab Abyan.
Arga menganggukkan kepalanya. "Aku pikir enggak ada di rumah karena takut sama Papa, ternyata ada urusan. Tapi urusan apa hari libur gini? Emang sibuk banget ya? Sampai hari libur aja masih banyak urusan."
"Kenpa kamu mau ketemu sama Kakek? Kita bisa tunggu sampai Kakek pulang, baru kita pulang." ucap Erlan.
"Papa mau aku trauma gara-gara di pelototi lagi kaya waktu itu? Tadi itu aku sebenarnya enggak mau ikut, tapi Mama langsung nyeret aku keluar rumah, terus di ancam. Jadilah aku terpaksa ikut," ucap Arga menghela napasnya, merebahkan tubuhnya di atas keramik.
"Di sini enggak ada apa air putih gitu?" ucapnya menoleh pada Abyan.
"Ada, kamu mau minum? Sebentar Daddy-"
"Om, bukan Daddy. Papa aku cuma satu. Cuma Erlan, enggak ada yang lain." sela Arga, ia tidak setuju dengan peraturan keluarga besar Papa-nya. Di mana ia harus memanggil Daddy pada Abyan dan Papi pada Papi-nya Nizam. Ia keberatan karena tidak ingin membagi Papa-nya dengan para sepupunya, terutama Danish dan Ryan.
"Sebentar Om minta sama Bibi buat ambilin kamu air putih, mau cemilan juga enggak?" tawar Abyan.
"Air putih aja yang banyak, cemilannya enggak perlu." ucap Arga bangun dari tidurannya. "Om bilang Bibi aku tunggu di ruang tamu, ayo Pa." ajak Arga menarik tangan Erlan.
"Kita lanjut ngobrol di dalam aja." ucap Naka, adik ipar Erlan.
"Kalau gitu minta anak-anak masuk ke dalam aja, biar main di dalam." ucap Abyan.
"Sebentar aku panggil mereka." pungkas Naka segera memanggil anak-anak yang sedang bermain di halaman belakang.
Erlan dan Arga baru saja masuk ke ruang tamu, yang kebetulan sekali Zidan juga baru saja pulang. Namun dia pulang bukan hanya seorang diri, melainkan bersama dengan Vara.
"Erlan, akhirnya setelah sekian lama. Akhirnya kamu memutuskan buat pulang ke rumah juga." ucap Vara berjalan mendekati Erlan dan Arga.
"Kita ke sini cuma buat makan siang, harusnya udah pulang dari tadi. Tapi masih pada mau ngobrol sama Mama, Papa. Tante, ke sini mau bahas soal kerjaan ya sama Papa?" ucap Arga menghalangi Vara yang ingin mendekati Papa-nya.
"Kalau hari libur biasanya Papa aku enggak mau kerja, karena hari libur tugas Papa bantuin Mama bersih-bersih rumah. Iya kak Pa?" Arga menoleh pada Erlan yang berdiri di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Fiksi RemajaCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
