14

22.2K 1.2K 41
                                        

Danish menceritakan semuanya apa yang di lihatnya di sekolah pada kedua orang tuanya dan juga Nenek, Kakek-nya. Dia juga menceritakan kejadian pertengkarannya dengan Arga tadi saat pulang sekolah.

"Jadi tadi kamu minta Arga buat balikin Om kamu ke rumah ini?" tanya Abyan setelah mendengarkan cerita anak bungsunya.

"Iya, kan kasian sepupu aku enggak dapet peran ayah cuma gara-gara Mama-nya Arga."  jawab Danish.

"Sepupu kamu yang mana yang kamu maksud?" tanya Zidan tak paham dengan maksud cucunya.

"Ryan, dia kan anak Om Erlan."

Zidan mengusap rambut cucunya itu dengan lembut. "Kata siapa Ryan anak Erlan? Ryan emang anak Om kamu tapi bukan anak Erlan." jelas Zidan, memang sejak kecil Ryan tinggal di rumahnya. Lebih tepatnya sejak Ayah-nya meninggal dan Ibu-nya menikah lagi, Ayah Ryan adalah keponakan Mery, meninggal karena sakit, Ibu-nya menikah lagi setelah satu tahun kepergian suaminya.

Karena tak ada yang mau merawat anak itu, karena kasihan akhirnya Mery membawanya pulang dan merawatnya seperti cucunya sendiri.

Danish mendongak menatap Kakek-nya, dia mencerna semua ucapan Kakek-nya. Jadi Ryan bukan anak Om-nya yang bernama Erlan itu, tapi anak Om-nya yang lain, jadi selam ini ia salah mengira tentang Ryan. "Jadi aku salah paham?" ucapnya.

"Iya kamu salah paham, itu sebabnya setiap libur sekolah Ryan bakalan pergi ke rumah Ibu-nya, buat liburan bersama," ujar Mery.

"Hiks, Daddy, gimana sama Arga. Tadi aku udah marah-marah sama dia, terus bilang enggak mau jadi temannya lagi. Ayo anterin ke rumahnya, mau minta maaf." tangis Danish sambil memeluk Abyan, pasti Arga tidak mau lagi bertema dengan dirinya karena kejadian tadi pagi. Ia yakin Arga membencinya.

"Hiks, enggak punya teman lagi. Ini semua gara-gara Kakek yang enggak mau jelasin dari awal. Mommy, ayo ke rumah Arga." Danish beralih mendekati Mommy-nya, memalukan Mommy.

"Kamu tahu rumahnya di mana?" tanya Zidan.

"Enggak, tapi Agung tahu. Mereka sering pulang bareng. Pasti tetanggan." jawab Danish sambil mengusap air matanya dengan lengannya, mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dia mencari kontak nomor Agung.

"Nomor hp Arga sama nomor hp Agung udah aku hapus tadi, gimana enggak bisa tanya siap-siap," ucapnya ketika ia baru ingat tadi saat di jalan pulang sekolah ia menghapus nomor kedua sahabatnya itu.

"Arga sekolah di sekolah yang sama kamu kan? Tenang aja, itu masalah gampang." ucap Zidan lalu keluar dari kamar cucunya.

"Berantem sendiri mewek sendiri, laki kok cengeng." ucap Nizam yang baru saja masuk ke dalam kamar Danish.

"Nizam, jangan mulai." tegur Mery.

Sementara itu di rumah Erlan tengah terjadi keributan di mana anaknya menuduhnya berselingkuh dengan wanita lain dan memiliki anak lain di luar sana. Sedangkan Erlan yang tak tahu apa-apa hanya bisa diam ketika anaknya itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan dirinya untuk menjelaskan.

"Udahlah ngaku aja enggak usah ngelak, udah ketahuan ini. Papa selingkuh kan?!" tuduh Arga penuh amarah.

"Papa enggak pernah selingkuh, selingkuh sama siapa? Enggak ada cewek lain selain Mama kamu." ucap Erlan mencoba mendekati anaknya yang sejak tadi terus saja menghindarinya.

"Ayo kita ngobrol, jangan marah-marah gitu, duduk duduk dulu. Jelasin sama Papa kenapa kamu tiba-tiba kamu nuduh Papa begitu."

"Enggak perlu di jelasin, udah jelas. Papa selingkuh sampai punya anak, tega banget sama Mama, padahal selama ini yang nyuci baju, yang masak, yang beres-beres rumah, yang buatin bekal Papa ke kantor itu Mama bukan selingkuhan Papa." cerocos Arga.

"Siapa yang bilang Papa selingkuh sampai punya anak? Siapa bilang gitu?" ucap Rania bangkit dari duduknya, mendekati anaknya.

"Bilang sama Mama, siapa yang bilang gitu sama kamu?" tanya Rania dengan lembut meraih tangan anaknya, mengajak anaknya untuk duduk di sofa.

"Adalah, Mama enggak perlu tahu. Kita gebukin Papa aja Ma, biar kapok Papa. Udah berani selingkuh di belakang Mama." ucap Arga memeluk Mama-nya dengan erat.

Raina membalas pelukan anaknya, mengusap punggung anaknya agar anaknya lebih tenang. "Yang bilang gitu sama kamu siapa?"

"Adalah Mama enggak perlu tau." ucap Arga menyembunyikan wajahnya di pelukan Mama-nya.

"Aku enggak mau punya saudara tiri, pokonya aku enggak mau punya Mama tiri juga," lirihnya.

"Makanya bilang sama Mama yang bilang begitu siapa?" bisik Rania di telinga anaknya.

"Danish, dia bilang Papa selingkuh sama Tantenya. Terus aku suruh balikin Papa buat anak Tantenya. Hiks, aku enggak punya Papa lagi habis ini."

"Danish?" tanya Rania untuk memastikan ia tidak salah mendengar ucapan anaknya. Dapat di rasakan, anaknya itu menganggukkan kepalanya.

Rania menatap suaminya yang duduk di seberangnya. "Danish yang bilang gitu sama kamu?" tanya Rania lagi.

"Hmmm, dia bilang sepupunya enggak punya Ayah gara-gara Mama yang nikah sama Papa." jawab Arga mendongak menatap Mama-nya dengan berurai air mata.

Rania mengusap air mata anaknya, ia tersenyum lembut lalu mencium kedua pipi anaknya. "Mau dengerin cerita Mama enggak? Soal dulu waktu Mama sama Papa ketemu terus nikah."

Arga hanya diam, dia menyandarkan kepalanya pada pundak Mama-nya. "Dulu Mama sama Papa tuh teman sekolah, pas waktu udah mulai kerja Papa kamu ngajak nikah. Pernikahan Mama sama Papa itu sederhana, enggak ada pesta besar. Cuma keluarga aja yang hadir di pernikahan Mama."

"Papa kamu punya saudara. Punya adik cewek satu sama Abang satu. Kamu mau tahu siapa mereka?" Rania mengusap rambut anaknya dengan lembut.

"Siapa?" Arga mendongak menatap Mama-nya penasaran, selama ini ia tahu hanya keluarga Mama-nya, keluarga Papa-nya tidak pernah tahu. Karena tidak pernah di ceritakan juga.

"Rumah besar yang kamu datangi kemarin itu, rumah orang tua Papa kamu, dia Kakek kamu. Orang yang namanya Abyan, Abang Papa kamu." jelas Rania.

Arga menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang baru saja Mama-nya katakan. Mana mungkin Papa-nya anak pria tua di rumah Danish, sedangkan selam ini tak pernah mengunjungi rumah itu. Mungkin saja ini adalah akal-akalan Mama-nya agar ia tidak marah lagi dengan Papa-nya.

"Mama jangan bohong, enggak mungkin Papa anak orang kaya jadi karyawan biasa di kantor. Kalau aku minta apa-apa selalu bilang nunggu gajian."

Arga menoleh pada Erlan yang sejak tadi hanya diam. "Kenapa jadi Mama yang jelasin, harusnya kan Papa yang tanggung jawab. Kalau itu yang waktu itu beneran rumah orang tua Papa, kenapa Papa enggak turun buat ketemu keluarganya? Pasti bohong kan? Bilang aja Papa enggak mau turun karena takut ketahuan waktu itu. Iya kan Pa, Papa selingkuh sama Tantenya Danish. Ngaku aja Pa."

"Tantenya Danish itu adiknya Papa, sepupunya Danish itu keponakan Papa-"

"Bukan Nizam tapi Ryan, Ryan anak Om-nya Danish, Om Danish cuma satu. Itu Papa." sela Arga lalu bangkit dari duduknya. "Pokonya aku enggak mau punya saudara tiri, enggak mau punya Mama tiri juga. Awas aja kalau Papa bawa pulang anak itu ke sini, aku sama Mama yang bakalan pergi dari sini." macamnya lalu pergi ke kamarnya dengan menghentak-hentakan kakinya.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang