Pagi di hiasi dengan suara teriakan Rania yang sejak tadi membangunkan suami dan anaknya. Namun tak ada satupun dari mereka keluar dari kamarnya.
Dengan kesal Rania masuk ke dalam kamarnya, dia berjalan mendekati ranjang dengan spatula di tangannya. "Erlan, Arga bangun. Udah siang ini." ucapnya sambil menyibak selimut yang menutupi tubuh keduanya.
"Sepuluh menit lagi." gumam Elran kembali menarik selimutnya, ia masih sangat mengantuk pagi ini karena tidak bisa tidur semalam. Ia baru bisa tidur ketika anaknya pindah ke kamarnya.
"Papa matiin lampunya, terang banget, aku masih mau tidur." gumam Arga menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Sayang tolong matiin lampunya, Arga masih mau tidur lagi." ucap Erlan dengan mata terpejam.
Rania berjalan mendekati jendela kamarnya, membuka gorden dengan lebar-lebar, agar cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya, setelah itu Rania mematikan AC, dia kembali mendekati ranjang. Menarik selimut dengan paksa. "Bangun atau Mama siram air. Pagi ini kamu ada meeting di kantor, Arga juga ada ulangan hari ini." ucap Rania memaksa anaknya untuk duduk.
Erlan membuka matanya, menarik tangan anaknya agar kembali berbaring di kasur. "Arga kurang tidur, semalam tidur jam satu." ucap Erlan sambil menyelimuti anaknya.
"Salah sendiri di suruh tidur enggak mau, harus tetap pergi ke sekolah. Kamu juga harus bangun, sana mandi siap-siap pergi ke kantor." ucap Rania menarik tangan suaminya agar turun dari kasur.
Erlan mengusap wajahnya lalu bangkit dari duduknya. "Izin sama gurunya Arga, hari ini Arga enggak masuk sekolah," ucapnya lalu pergi ke kamar mandi.
"Enak aja enggak sekolah, mau bilang apa sama gurunya. Izin enggak sekolah karena kurang tidur, yang benar aja." monolog Rania lalu mengambil gelas berisi air putih di atas meja. Menuangkan sedikit air ke tangannya lalu mencipratkan air itu pada wajah anaknya.
"Mama, aku masih ngantuk." kesal Arga ketika tidurinya terganggu dengan cipratan air.
"Yang nyuruh tidur jam satu malam siapa? Ada yang nyuruh, enggak kan? Bangun, sekolah. Enggak usah mandi langsung ganti baju aja. Udah siang ini," Rania menarik tangan anaknya turun dari tempat tidur.
"Aku sendiri aja, enggak usah di bantuin." ucap Arga menahan tangan Rania yang ingin membuka kancing baju tidurnya. "Udah bujang gini masih aja di gantiin bajunya, malu lah kalau nanti di liat sama cewek aku."
"Tidur tiap malam minta di temani enggak ada tuh bilang malu."
"Itu kan tidur malam Ma, kalau malam-malam tuh emang harus ada yang nemenin apa lagi seumuran aku ini. Mama mau anak satu-satunya ini di culik kuntilanak."
"Kuntilanak milih-milih ambil anak, model kamu gini mana mau." ucap Rania sambil menyisir rambut anaknya agar terlihat lebih sedikit rapi.
"Sarapan apa hari ini?" Arga mendongak menatap Mama-nya.
"Telur sama roti, enggak sempat bikin nasi goreng. Nanti bekal makan siangnya Mama kirim ke sekolah, sekarang ayo kita sarapan. Itu Erlan di kamar mandi enggak tidur lagi kan?" ucap Rania yang sejak tadi tak mendengar suara air dari dalam kamar mandi, jangan-jangan suaminya itu lanjut tidur lagi di kamar mandi.
"Biar aku yang cek Papa-"
"Enggak usah, ayo kita sarapan aja." sela Rania.
"Iya biarin aja tidur di kamar mandi, ayo kita sarapan Ma. Masih enggak terima aku, Papa di bilang Papa-nya sepupunya Danish."
"Mulai lagi, kan semalam udah di jelasin sama Papa. Masih enggak paham?"
"Bukan enggak paham, paham aja. Tapi tetap aja masih kesal sama keponakan Papa itu. Mana hari ini ada ekskul bareng lagi, apa aku selending aja ya nanti."
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Novela JuvenilCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
