Pagi ini Arga sudah di perbolehkan pulang, anak itu sangat senang. Akhirnya dia bisa pulang dan tentunya dia bisa bermain lagi dengan sahabatnya.
Saat ini Arga dalam perjalanan pulang, dia hanya bersama dengan Papa-nya karena Mama-nya sudah pulang lebih dulu.
"Tumben kamu semalam akur sama Kakek?" heran Erlan. Ia ingin menanyakan hal ini tadi malam, tapi karena sudah larut malam. Ia jadi memilih untuk bertanya pagi ini.
"Siapa yang udah akur sama Kakek mereka, aku? Enggak ya, sama sekali enggak akur aku sama Kakek mereka." jawab Arga menoleh pada Erlan yang sedang mengemudi.
"Semalam tuh, aku enggak ada pilihan lain, Papa kan bilang. Sebagai laki-laki, kita harus melindungi perempuan yang kita sayangi. Berhubung Papa lagi pergi dan laki-laki di dekat Mama cuma aku, ya sebisa mungkin aku cegah tuh Kakek mereka ketemu sama Mama tanpa adanya Papa." jelas Arga.
"Mereka datang kan cuma mau jenguk kamu," balas Erlan sekilas menoleh pada anaknya.
"Aku tahu mereka enggak suka sama Mama, mungkin juga sama aku juga enggak suka. Buktinya dari dulu, baru sekarang kita ketemu sama mereka. Dan itu pun tanpa sengaja." Arga tersenyum manis pada Erlan, ia tahu kedua orang tuanya menutupi masalah mereka dari dirinya. Tapi ia tidak bodoh, dari perilaku Zidan terhadap Mama-nya sudah menjelaskan semuanya.
"Tapi buat aku enggak masalah, kan enggak semua orang harus suka sama kita." tambahnya lagi.
Erlan tersenyum lembut, mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Anak Papa udah enggak bayi lagi ternyata, waktu cepat banget ya. Dulu masih sekecil lengan Papa, sekarang juga masih kecil." ucap Erlan yang membuat Arga mendengus kesal.
Ia pikir Papa-nya akan mengakui jika sekarang ini anaknya sudah tumbuh besar dan menjadi remaja, ternyata di luar ekspektasi. Padahal ia sudah memikirkan rencana untuk meminta sesuatu. Jika saja Papa-nya mengatakan ia sudah besar. "Harusnya udah dewasa, bukan bilang sekarang juga masih kecil." protes Arga menepis tangan Erlan.
"Dewasa itu umur delapan belas tahun ke atas, kamu tuh masih kecil. Di bawah lima belas tahun. Ayo turun, katanya mau beli apa di supermarket." ujar Erlan turun dari mobil lebih dulu.
"Aku boleh beli cemilan enggak?" tanya Arga berjalan masuk ke dalam supermarket.
"Enggak, Mama belum bolehin. Beli buah boleh, atau beli air bening," balas Erlan menggandeng tangan anaknya.
"Udah keluar dari rumah sakit aja masih enggak boleh, kan udah sembuh Pa."
"Ya udah beli, tapi enggak boleh banyak-banyak ya. Satu macam aja," pungkas Erlan, ia tidak ingin merusak mood anaknya dari pada nanti ngambek sampai rumah yang ada ia juga mendapatkan ceramah dari istrinya.
***************
Di dalam kamarnya, Ryan tengah sibuk membuka bungkus makanan. Membuangnya ke dalam tong sampah.
Ceklek
Pintu di buka dari luar, Danish masuk ke dalam kamar Ryan. "Ryan." panggilnya yang membuat Ryan terkejut. Seketika itu juga Ryan menyembuhkan bungkus makanannya di balik punggungnya.
"Kamu lagi ngapain? Dari tadi aku panggil-panggil enggak dengar. Ayo turun, sarapan," Danish berjalan mendekati Ryan.
"Apa itu?" tanyanya menujuk pada tong sampah di depannya, ada banyak cemilan kering yang ada di dalam tong sampah itu.
"Ini makanan yang udah enggak layak lagi, aku buang takutnya pada makan enggak di lihat-lihat dulu. Kemarin aku lihat-lihat di lemari banyak makanan yang udah kadaluarsa." jawab Ryan tersenyum tipis pada Danish.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Roman pour AdolescentsCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
