Malam ini cuaca kurang bersahabat, hujan dari sore hari belum juga reda. Erlan masih dalam perjalanan pulang ke rumah bersama dengan anaknya. Sepanjang perjalanan pulang, anaknya hanya duduk diam. Dia kesal karena di jemput pulang, padahal masih ingat bermain dengan teman-temannya.
"Besok kan masih sekolah, nanti kalau hari libur baru boleh main sampai malam. Mau nginap juga boleh, tapi di rumah kamu." ucap Erlan sekilas melihat anaknya dari kaca spion mobil, karena anaknya duduk di kursi belakang.
"Jadi mau mampir beli mie goreng enggak?" tanya Erlan menghentikan mobilnya di depan warung yang biasanya anaknya suka membeli mie goreng di warung tersebut.
"Enggak."
"Kalau gitu tunggu sebentar, Papa mau beli." ucap Erlan turun dari mobil. "Mau tunggu di mobil apa ikut turun?" tanyanya sebelum menutup pintu mobilnya.
"Tunggu."
Erlan menutup pintu mobil, lalu memesan dua posisi mie goreng. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobil, menunggu di dalam mobil bersama dengan anaknya.
"Tadi main apa aja sama teman-teman?" tanya Erlan duduk di samping anaknya, dia mengusap rambut anaknya yang memalingkan wajahnya ke samping.
Erlan tersenyum tipis, memeluk anaknya dari samping. "Tadi pulang ke rumah udah sore, habis mandi langsung pamit pergi makan sama teman-teman sambil ngerjain tugas sekolah, terus lanjut main, Mama sama Papa cuma makan malam berdua doang di rumah. Kenapa sekarang anak Papa lebih sibuk dari pada Papa-nya?"
"Baru malam ini enggak makan malam di rumah." ucap Arga melepaskan pelukan Erlan.
"Baru malam ini? Terus minggu kemarin seharian, dari pagi sampai malam enggak di rumah, sibuk ngerjain tugas sama main sama teman. Ngobrol sama Mama Papa cuma sebentar, pulang udah malam langsung tidur."
"Papa perhatian tuh, dua minggu ini kamu lebih banyak pergi sama teman-teman kamu. Papa enggak masalah kamu mau pergi main sama teman-teman kamu, tapi harus tau waktu. Waktunya pulang ya harus pulang di jemput enggak boleh marah." ucap Erlan dengan tegas. Ia tidak masalah anaknya bermain di luar bersama dengan taman-tamannya, hanya saja jika tidak tahu waktu karena asyik bermain ia tidak suka.
Seperti hari ini, besok dia harus sekolah dan bangun pagi tapi minta di jemput jam sembilan. Tentu ia tidak menuruti permintaan anaknya, ia menjemputnya lebih awal. Karena hal itulah yang membuat anaknya kesal.
"Besok-besok enggak ada lagi pergi keluar sampai malam gini, enggak ada main di luar sama teman-teman di hari-hari biasa. Boleh main di hari libur, itupun enggak boleh seharian full main di luar apa lagi sampai malam. Ada tugas sekolah, kerjain di rumah." pungkas Erlan lalu turun dari mobilnya untuk mengambil pesanannya yang sudah selesai di buat.
Setelah membayar makanan yang di pesannya, Erlan kembali masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya ke jalan raya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Arga hanya duduk diam sambil melihat sisi jalan dari kaca jendela mobil.
Di tengah perjalanannya, Erlan melihat mobil yang berhenti di bahu jalan. Terlihat seseorang yang sepertinya sedang mengecek mesin mobilnya, karena penasaran Erlan pun menghentikan mobilnya di dekat mobil itu.
Erlan membuka kaca mobilnya. "Kenapa mobilnya Pak?" tanya Erlan dari dalam mobil.
Pria yang sedang sibuk mengecek mesin mobilnya, menoleh ke arah Erlan. "Papa," gumam Erlan ketik melihat Zidan.
Erlan kembali menutup kaca mobilnya, melajukan mobilnya kembali ke jalan raya. Dia melihat kaca spion, terlihat Zidan yang sepertinya menghubungi seseorang sambil mengotak-atik mesin mobilnya. Karena merasa kasihan, dan di luar juga masih gerimis, Erlan pun kembali menghentikan mobilnya, memutar arah untuk kembali menghampiri Zidan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
