Satu bulan berlalu.
Selama satu bulan terakhir hidup keluarga Erlan aman dan damai dari gangguan Zidan, kabar yang Erlan tahu tentang Zidan. Saat Zidan jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit, setelah itu, Erlan tidak tahu lagi tentang kabar Papa-nya itu.
Sekarang Erlan sudah tidak lagi bekerja di kantor mertuanya, dia sudah memiliki perusahaan sendiri. Tentu itu semua dia dapatkan dari mertuanya, sebenarnya Erlan merasa tidak enak dengan mertuanya. Tapi Barta memaksanya untuk menerima pemberiannya, menganggap pemberiannya sebagai hadiah darinya.
Erlan juga sudah tidak tinggal di rumah mertuanya, dia sudah kembali tinggal di rumahnya sendiri. Namu rumahnya sekarang berbeda dengan yang dulu, jika dulu rumahnya hanya ada dirinya, istri dan juga anaknya. Sekarang rumahnya di jaga ketat oleh beberapa penjaga yang langsung di tugasnya oleh Barta.
Arga sendiri juga sudah kembali beraktivitas seperti biasanya, dia sudah kembali sekolah di sekolahnya yang baru. Sekarang dia tidak bisa pergi-pergi sendirian seperti dulu, karena sekarang ada Nicolas yang akan selalu mengikutinya kemana pun dia pergi.
Seperti siang ini, di mana Arga ingin mencoba membolos sekolah bersama dengan dua teman barunya, namun Nicolas melarangnya.
"Om, sekali aja, mereka berdua bilang tuh kalau bolos sekolah menyenangkan. Aku juga mau, cuma sekali." mohon Arga pada Nicolas yang menggali jalannya.
"Tidak bisa Tuan muda, jika Anda ingin pulang. Saya bisa membantu Anda untuk meminta izin pada guru, dan saya akan mengantarkan Anda pulang ke rumah." ucap Nicolas sambil membukakan pintu mobil untuk Arga.
Arga menghela napasnya, menghentak kakinya, menatap kesal pada Nicolas, "Om pulang aja sana enggak usah ngikutin aku terus, istirahat aja di rumah kalau enggak ambil cuti liburan setahun." ucapannya dengan kesal.
Nicolas tersenyum tipis. "Jadi Anda ingin pulang atau kembali ke kelas Anda tuan muda?"
Tanpa menjawab pertanyaan Nicolas, Arga berjalan dengan menghentakkan-hentakan kakinya menghampiri kedua temannya. "Enggak jadi bolos kita, besok aja kita bolos dari pagi." ucapannya pada kedua temannya yang sejak tadi menunggunya.
"Jadi kita balik ke kelas lagi?" tanya salah satu teman Arga.
"Mau ke mana lagi emangnya? Pulang juga percuma, enggak ada orang di rumah." jawab Arga lalu segera pergi ke kelasnya.
"Di rumah enggak ada orang, lah dia apa bukan orang?" ucap teman Arga sambil memandang punggung Arga yang mulai menghilang dari pandangannya.
Sementara itu di kantor Erlan sedang sibuk dengan pekerjaannya, dia memeriksa semua dokumen yang harus dia tandatangani.
"Ini berkas proyek baru yang akan kita kerjakan bukan?" tanya Erlan pada sekretarisnya.
"Benar Pak, Anda belum menandatangani berkas tersebut." jawab sekertaris Erlan.
"Saya akan menandatangani nanti, mana bekas-bekas yang lain?" ujar Erlan menyimpan bekas perjanjian proyek barunya.
"Maaf Pak, tapi klien kita sudah menunggu cukup lama. Apa ada yang membuat Bapak keberatan dengan suara perjanjian yang sudah di buat? Jika Bapak merasa keberatan, kline kita meminta untuk bertemu langsung dengan Bapak, untuk membicarakan tentang proyek baru ini."
"Saya tidak keberatan, tapi saya tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan ini."
"Perusahaan yang mengajukan kerja sama dengan kita itu adalah perusahaan besar. Jika kita bekerja sama dengan perusahaan itu, maka perusahaan kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Itu juga bagus untuk perkembangan perusahaan kita Pak."
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
