"Yah, nanti pas aku masuk Ayah tunggu aja di luar, aku takut-"
"Takut kenapa? Zidan udah tua ini, kalau dia kenapa-kenapa ya emang udah saatnya. Kamu enggak usah takut, kalau dia mau istrinya juga ikut kemanapun dia pergi. Ayah kamu ini dengan senang hati membantu besannya." ujar Barta menyela ucapan Rania. Dari tadi di rumah sampai di rumah sakit, Rania terus memintanya agar tidak melakukan apa-apa pada keluarga mertuanya itu. Bahkan Rania memintanya untuk menunggu di lobby rumah sakit untuk mencegah keributan.
"Aku enggak mau ada ribut-ribut lagi, kita kan bisa damai." ucap Rania menatap Barta.
"Kamu bisa lupa perlakuan mereka sama kamu?" tanya Barta balik menatap putrinya.
"Mereka bisa meminta maaf dengan mudah lalu memulai lebaran baru, tapi untuk mu. Melupakan perlakuan buruk mereka selama ini tidak mudah Nia. Ayah tidak akan melalukan apapun selama mereka tidak berulah." ujar Barta tersenyum lembut pada Rania.
"Jangan terlalu menghawatirkan mereka, mereka pun tak pernah perduli dengan mu dan juga anak mu."
"Aku cuma enggak mau kita ribut-ribut lagi dan anak yang jadi korban." ucap Rania yang tak ingin anaknya menjadi sarana mereka lagi seperti kejadian waktu itu. Ia hanya ingin anaknya menikmati masa remajanya bermain bersama teman-temannya tanpa ada rasa takut akan bayang-bayang orang yang ingin memanfaatkan dia untuk mencapai tujuannya.
"Itu sifat buruk Zidan yang serakah dan egois ingin memiliki segalanya, ingin menjadi yang paling hebat, tanpa dia sadari. Dia merugikan dirinya sendiri, kita berdoa saja, semoga saat dia sadar nanti. Sifat buruknya tidak ikut kembali lagi bersamanya." ucap Barta lalu mengajak Rania pergi menuju ruang rawat Zidan.
Ia tidak perduli dengan pria tua itu, mau sekarat atau mati pun pa tidak perduli, ia datang menjenguknya hanya ingin menjaga putrinya dari orang-orang yang berniat buruk padanya.
Mereka menghentikan langkahnya di depan pintu kamar rawat Zidan, sebelum mengetuk pintu. Rania menarik napasnya dalam-dalam, berharap tidak ada keributan setelah mereka melihat kehadiran Ayah-nya.
Tok tok tok
"Masuk" suara Abyan dari dalam kamar rawat.
Rania membuka pintu kamar rawat Zidan dengan pelan, lalu masuk kedalam kamar rawat. "Nia kamu udah datang? Sama siapa?" tanya Abyan ketika melihat Rania yang masuk ke dalam kamar rawat Zidan.
"Aku datang sama Ayah, gimana perkembangan Papa? Apa kata dokter?" tanya Rania tersenyum menyapa Kakak iparnya.
"Dia-"
Rania menggandeng tangan Barta. "Ini Ayah ku, Bartajaya. Ayah ini kakak ipar ku, Abyan dan istrinya Mira." ucap Rania membuat Abyan bangkit dari duduknya, berjalan mendekatinya.
"Rania kamu lagi bercanda?" ucap Abyan tak percaya dengan ucapan Rania. Tidak mungkin Rania anak dari Bartajaya, pengusaha sukses dan di kenal berkuasa itu.
"Putriku sama sekali tidak bercanda, menangnya kenapa jika aku Ayah-nya? Apa kamu ada masalah? Keberatan jika aku ada di sini? Kita bisa pergi dari sini." ucap Barta menatap Abyan.
"Bukan begitu maksud saya, hanya saja selama ini Rania tidak pernah membicarakan tentang Ayah-nya, dan tiba-tiba Rania datang bersama dengan Ayah-nya. Itu membuat saya terkejut." ucap Abyan memalingkan pandangannya. Dia mempersilahkan Barta dan Rania untuk duduk.
"Kamu enggak akan terkejut jika saja bukan diriku ayah dari Rania." ucap Barta lalu duduk di sofa panjang. "Kamu belum menjawab pertanyaan putriku tadi," ucapannya menatap Abyan yang masih daim berdiri di tempatnya.
"Dokter bilang keadaannya lebih baik dari pada kemarin, dokter bilang Papa akan segera sadar dalam waktu dekat." jelas Abyan.
"Apa dia akan sadar hari ini? Jam berapa? Jika tidak lama lagi, aku ingin menunggunya. Ingat menanyakannya kabarnya," ucap Barta dengan santainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
