34

17.4K 1.1K 62
                                        

Berberapa hari berlalu.

Erlan sudah kembali beraktivitas seperti biasanya, ini adalah hari pertamanya bekerja di kantor Barat. Dia juga masih tinggal di rumah mertuanya, atas permintaan Ayah mertuanya.

Rania menyiapkan sarapan untuk keluarganya, sambari menunggu angota keluarga berkumpul di meja makan. Rania membuatkan bekal sekolah untuk anaknya, karena hari ini Arga akan kembali bersekolah.

"Selamat pagi sayang," sapa Erlan pada istrinya. Erlan mencium kening istrinya yang sedang sibuk menyiapkan bekal untuk Arga.

"Pagi sayang, di mana Arga?"

"Di sini." sahut Arga berjalan menghampiri Mama-nya lalu memberikan kecupan manis di pipi Mama-nya.

"Kemana yang lain? Belum pada bangun?" tanya Arga duduk di kursi meja makan.

"Kayanya udah, mungkin lagi pada mandi. Kita sarapan tunggu yang lain, sebentar lagi mereka turun ke bawah." ujar Rania dengan lembut mengusap rambut anaknya.

"Mama udah siapin bekal buat nanti makan siang, nanti berangkat sekolah sama Papa. Pulang sekolah Mama yang jemput."

Arga menganggukkan kepalanya. "Kemarin malam Opa bilang Om Nicolas ikut aku ke sekolah, kayanya enggak perlu. Mama bilang dong sama Opa, Om Nicolas enggak usah ikut aku ke sekolah. Aku enggak mau di ikutin terus kemana-mana, kan cuma sekolah. Lagian enggak pergi keluar kemana-mana."

"Nicolas enggak ikutin kamu terus, dia cuma nungguin di sekitar sekolah. Enggak masuk ke sekolah." jelas Erlan. Ia tahu anaknya tidak suka kemana-mana di ikuti, jadi ia meminta pada mertuanya agar Nicolas menjaga anaknya dari kejauhan.

"Aku bakal pindah sekolah enggak?" Arga menoleh pada Papa-nya. Sebenarnya ia tidak mau pindah sekolah, tapi Papa-nya bilang ini untuk kebaikannya.

"Papa udah urus surat pindah sekolahnya, nanti kalau udah selesai kamu langsung pindah sekolah.

"Enggak bisa main lagi sama Agung." ucap Arga mengerucutkan bibirnya.

"Bisa, siapa bilang enggak bisa? Nanti setiap hari libur kamu sama Agung bisa main. Bisa nginap di rumah lagi kaya biasanya, pulang sekolah mau main juga boleh. Yang penting harus izin dulu sama Mama, Papa, kalau main di rumah setiap hari juga boleh." ujar Erlan dengan lembut.

"Kan masih lama, Papa baru urus suratnya. Sambil nungguin semua beres, kamu bisa sama Agung atur acara main sama-sama. Misalkan setiap hari libur mau pergi main di mall, atau gantian minggu ini rumah kamu. Minggu depan di rumah Agung." ujar Rania mengusap punggung anaknya dengan lembut.

Arga hanya diam dengan mata berkaca-kaca, sebenarnya ia tidak mau pindah sekolah. Tapi kedua orang tuanya kekeh memindahkannya dari sekolah.

"Kan kamu sama Agung masih bisa ketemu setiap hari, kita kan cuma sementara tinggal di sini. Nanti kita pulang ke rumah kita." ujar Erlan menyentuh kedua pipinya anaknya, mencium kedua pipi anaknya.

"Di sekolah baru nanti bisa punya banyak teman, main juga tambah seru kalau banyak teman. Jangan sedih gitu doang, masa mau berangkat sekolah sedih gitu." ucap Erlan tersenyum lembut pada anaknya.

Barta tersenyum melihat keluarga bahagia putri bungsunya, dia berbalik melihat ke arah dapur di mana putri sulungnya sedang sibuk mengasah pisau dapur bersama dengan tunangannya.

Setelah mengasah pisau, mereka saling mengancam dengan pisau masing-masing. "Dengar, ini adalah daerah kekuasaan ku. Kamu harus mengikuti aturan ku, kamu paham." ucap Hera sambil mengacungkan pisaunya pada tunangannya.

Pria yang berdiri di hadapan Hera hanya menganggukkan kepalanya. "Sebentar lagi aku yang akan berkuasa di sini."

"Jangan bermimpi, setelah pesta pernikahan selesai. Jangan harap kamu masih bisa melihat hari esok." ucap Hera menatap tunangannya penuh permusuhan.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang