35

17.7K 1.1K 96
                                        

Malam hari di luar tengah hujan lebat, udara dingin terasa sampai ke tulang. Arga mematikan AC ruang keluarga lalu pergi ke kamar kedua orang tuanya.

"Papa," panggil Arga sambil membuka pintu kamar kedua orang tuanya, Arga tersenyum manis melihat Papa-nya duduk bersandar di atas kasur sambil memangku laptopnya.

Erlan menutup laptopnya, mengalihkan perhatiannya pada anaknya yang masih berdiri di ambang pintu kamar. "Kenapa berdiri di situ, sini masuk." ujarnya.

"Ayo temenin aku nonton di luar, yang lain belum pada pulang. Opa sama Mama katanya kena macet di jalan, mungkin setengah jam lagi baru sampai rumah. Tante Hera enggak tahu, mungkin masih sibuk ribut sama Om Zergan." ucap Arga masuk ke dalam kamar.

Erlan turun dari atas kasur. "Ayo, mau nonton apa?" tanyanya merangkul pundak anaknya.

"Enggak tahu, Papa pilihin lah mau nonton apa. Bawa selimut Pa, di luar dingin."

Erlan mengerutkan dahinya, tumben anaknya merasa dingin. Biasanya kan kalau AC kurang dingin aja protes. "Kamu sakit?" tanya Erlan menempelkan punggung tangannya pada dahi anaknya, memeriksa suhu tubuh anaknya.

"Kamu pusing apa gimana? Bilang sama Papa."

"Aku enggak sakit, mungkin karena di luar lagi hujan jadi kerasa dingin. Emang kalau orang ngerasa dingin artinya sakit? Kan enggak Pa." ucap Arga mendongakkan kepalanya menatap Erlan.

"Ya biasanya kalau kamu bilang kedinginan badan kamu pasti panas, ini enggak panas tapi bilang dingin. Kan Papa jadi khawatir,"

"Enggak Pa, ayo buruan temenin nonton." Arga menarik tangan Erlan pergi ke ruang keluarga, Arga mengambil remote televisi lalu memberikannya pada Erlan.

"Siang tadi di sekolah aku ketemu sama Kakek-nya Danish, untung ada Om Nicolas. Kalau enggak pasti aku udah di hajar sama Kakek-nya Danish." ucap Arga sambil menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Entah kenapa malam ini rasanya sangat dingin, mungkin karena cuaca di luar atau AC di rumah Opa-nya yang ukurannya lebih besar dari pada di rumahnya, atau mungkin karena sejak tadi ia hanya duduk saja.

"Ketemu Kakek? Ngapain Kakek ke sekolah? Tapi kamu enggak di apa-apain kan?" tanya Erlan menatap anaknya dengan raut wajah khawatir.

"Ya enggak sempat di apa-apain, tapi hampir sih. Aku enggak tahu dia ngapain, mungkin habis nganterin Danish ke sekolah atau mau jemput Danish." Arga menyandarkan kepalanya di bahu Erlan, memeluk lengan Erlan dengan erat.

"Kakek-nya Danish tadi siang kelihatan marah banget, tapi kan Danish yang mulai duluan. Dia juga yang lempar bola sampai kena jidat aku, makan siang aku sampai tumpah, jadi bukan sepenuhnya salah aku dong kalau aku tonjok dia?" Arga mendongakkan kepalanya menatap Papa-nya.

Erlan menganggukkan kepalanya. "Tapi kalau bisa kamu hindari dia, jangan sampai terlibat urusan apapun sama dia." ujar Erlan.

Ia khawatir Zidan akan memanfaatkan Arga untuk mencapai tujuannya, tapi ia berharap Zidan tidak melakukan hal sampai sejauh itu. Biar bagaimana pun Arga juga cucunya sendiri.

Suara dengkuran halus dari Arga menyadarkan lamunan Erlan. Dia menundukkan kepalanya melihat anaknya sudah tertidur lelap. "Tumben tidur jam segini, beneran enggak sakit kan?" monolog Erlan kembali memeriksa suhu tubuh anaknya, memastikan anaknya baik-baik saja.

"Enggak panas kok, mungkin capek tadi pulang juga udah sore." ucap Erlan lalu memindahkan anaknya ke kamarnya agar anaknya bisa tidur lebih nyaman.

Dengan hati-hati Erlan membaringkan tubuh anaknya di atas kasur, menyelimuti tubuh anaknya lalu mencium kening Arga cukup lama. "Semoga Kakek kamu itu cepat sadar, dan bisa menerima semuanya dengan hati yang lapang." gumam Erlan.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang