End

17.5K 1.2K 158
                                        

Satu bulan berlalu.

Setelah Abyan setuju mengalihkan kepemilikan perusahaan atas nama Arga, kini Erlan yang mengambil alih kepemimpinan dalam perusahaannya.

Dengan bantuan dari Barta, Erlan berhasil mengambil alih aset yang di jual oleh Naka. Kini perusahaan itu seratus persen hanya milik satu orang.

Sesuai janji yang di berikan pada Abyan, Erlan menanggung biaya sekolah anak Rena dan Abyan. Dia juga memberikan posisi Abyan sebagai direktur di perusahaannya, dengan begitu keuangan mereka akan tetap stabil.

Abyan memutuskan untuk mengembalikan Ryan pada Ibu-nya, karena ia ingin lebih fokus pada keluarganya. Sedangkan Zidan sendiri, sekarang lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Menemani cucunya yang masih bayi, sedangkan Rena. Dia kembali aktif mengurus toko miliknya, sekarang dia lebih fokus pada kedua anaknya.

Hukuman mati yang di jatuhkan pada Naka, sudah di tetapkan dan tinggal menunggu waktunya. Selama Naka di tahan, tidak ada satupun keluarga Zidan yang datang menjenguknya.

Pagi ini seperti biasa, keluarga Erlan sarapan pagi bersama sebelum berangkat ke tempat tujuannya masing-masing.

"Papa, besok kan hari libur. Pulang sekolah langsung ke rumah Opa kan?" tanya Arga sambil menikmati sarapannya.

"Kalau kamu mau langsung boleh aja, tapi Mama sama Papa nyusulnya malam. Papa hari ini agak sibuk di kantor," ujar Erlan.

"Tapi di sana enggak boleh nakal, kalau main sama Zie, main di rumah aja. Jangan pergi keluar." tambah Rania.

"Emang Zie ada di rumah Opa?" tanya Arga. Seingatnya waktu dirinya pulang ke rumah, Zie juga pulang ke rumahnya.

"Zie kan udah libur sekolahnya, setahu Mama dia udah di rumah Opa dari kemarin. Soalnya Tante Hera ada urusan penting di kantor Opa," jawab Rania.

"Enak banget, aku malah baru ujian. Papa anterin aku ke sekolah dulu kan?" Arga menatap Papa-nya yang duduk di seberangnya.

Erlan menganggukkan kepalanya. "Iya Papa anterin kamu ke sekolah dulu baru Papa ke kantor. Ayo lanjut lagi makannya, sebentar lagi kita jalan." ujar Erlan. Walaupun dirinya sangat sibuk di kantor, mengurus anak adalah kewajibannya. Jadi ia akan selalu meluangkan waktu untuk mengantar atau menjemput anaknya sekolah.

"Nanti pas libur sekolah, jadi kan kita nginap di villa? Liburan di sana."

"Coba ya kita lihat nanti, kalau Papa enggak sibuk kita liburan ke puncak. Tapi kalau Papa sibuk, kita pergi main dekat-dekat sini aja." ujar Erlan tersenyum lembut pada anaknya.

Arga menganggukkan kepalanya, bagi dirinya tidak masalah mau pergi ke puncak atau hanya sekedar pergi ke pusat perbelanjaan. Yang penting bagi dirinya bisa bermain, apa lagi jika Papa-nya meluangkan waktu untuk menemani dirinya bermain. Tidak harus pergi jauh-jauh, di rumah saja sudah cukup.

"Nanti ke rumah Opa bawain bantal sama selimut punya aku ya, sama botol jangan lupa." ujar Arga mengalihkan perhatiannya Mama-nya.

"Iya nanti kalau Mama enggak lupa." ujar Raina, sebenarnya ingin sekali ia membuang bantal dan selimut yang sudah tidak jelas warnanya itu. Mending sekarang boleh di cuci, dulu waktu kecil sama sekali tidak boleh di cuci.

"Aku bawa sendiri aja kalau gitu." pungkas Arga. Dia segera menghabiskan sarapannya, setelah selesai sarapan, mereka pun pergi ke tempat tujuannya masing-masing.

Sama halnya dengan keluarga Erlan, keluarga Zidan juga sedang sarapan pagi bersama. Pagi ini Abyan tidak ikut sarapan bersama, dia harus berangkat ke kantor pagi-pagi sekali karena sekarang dia seorang karyawan. Jadi tidak boleh sampai terlambat datang ke kantor.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang