Sambil menunggu jam makan malam, Arga bermain di ruangan kerja Hera. Dia memiliki niat untuk mencari tahu tentang Zergan dan Zie dari Tantenya.
"Tante," panggil Arga.
"Iya sayang, kenapa?"
Arga meletakkan mainannya di atas lantai lalu menghampiri Hera yang duduk di kursi kerjanya. "Tante, Om Zergan sama Zie udah baikan?" tanya Arga, karena tadi saat pulang sekolah Mama-nya mengatakan jika Zie sedang pergi bersama dengan Zergan. Dan sore mereka belum kembali ke rumah.
Hera tersenyum lembut pada keponakannya, meraih kedua tangannya Arga. "Mereka emang begitu, mereka enggak lagi berantem. Zie emang enggak terlalu dekat sama Papa-nya."
"Kenapa? Aku dekat sama Papa, kenapa Zie enggak dekat sama Papa-nya? Kan Papa-nya sendiri." penasaran Arga. Menurutnya semua anak-anak akan dekat dengan orang tuanya, ia juga memiliki sahabat yang begitu dekat dengan kedua orang tuanya. Tapi dia lebih dekat dengan Ibu-nya. Karena Ayah-nya terlalu sibuk di kantor, jadi hari-hari dia lebih dekat dengan ibunya.
"Mama Zie pergi waktu Zie masih bayi, Papa Zie sibuk kerja. Bahkan Zie jarang makan bersama Papa-nya, terkadang kalau Papa-nya ada kerjaan di luar kota ataupun di luar negeri. Zie di rumah sama Nenek sama Kakek-nya, kadang di rumah sama Bibi yang kerja di rumahnya." jelas Hera.
"Kehidupan mereka menang berbeda dengan kita, mereka jarang sekali menghabiskan waktu untuk sekedar mengobrol. Jadi mereka sudah terbiasa seperti itu, mereka bukan sedang bertengkar. Tapi sudah menjadi kebiasaan mereka seperti itu, bicara seperlunya. Jika tidak ada hal penting, mereka tidak akan bicara." tambahnya lagi.
"Tapi kan itu enggak bagus, Papa aku bilang mau itu hal penting atau enggak. Kita harus punya waktu buat ngobrol sebentar, sebelum tidur atau pas makan malam." ujar Arga.
"Benar itu memang enggak bagus, tapi akan sulit merubah kebiasaan seseorang dalam waktu singkat sayang. Semua butuh waktu dan proses yang panjang."
"Kalau begitu biar mereka tinggal di sini aja lama-lama, kita bisa sarapan pagi bersama makan malam sambil ngobrol. Nanti mereka lama-lama kebiasaan." ujar Arga tersenyum manis pada Hera, sekarang ia tahu masalahnya di mana. Tinggal membantu Zie yang irit bicara itu menjadi cerewet, maka semuanya akan beres.
"Mana bisa begitu, Zie harus sekolah. Papa-nya juga harus kerja. Mungkin setiap hari libur kita akan main ke sini."
"Oke, setiap hari libur kita kumpul di sini-"
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar, memotong ucapan Arga. "Masuk." ucap Hera mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.
Pintu di buka dari luar. "Oh, Zie kamu udah pulang?" tanya Arga melepaskan genggaman tangan Hera, dia melangkah mundur agar Zie bisa mendekat pada Hera.
Zie berjalan masuk ke dalam, meletakkan bingkisan yang di bawanya di atas meja Hera. "Apa ini?" tanya Hera menatap Zie dengan lembut.
"Enggak tahu, tadi cuma di suruh anterin ke sini." jawab Zie.
"Gimana hasilnya, semuanya oke?" tanya Hera menahan tangan Zie yang ingin beranjak pergi.
Zie menganggukkan kepalanya. "Lain kali enggak perlu di antar."
Hera mengerutkan dahinya. "Kenapa? Enggak jadi beli jajanan tadi? Apa udah habis?"
"Tante, aku mau mandi dulu ya. Kayanya Papa udah pulang, aku mau berendam soalnya. Zie, nanti habis makan malam kita main, oke?" ujar Arga. Ia merasa dirinya harus pergi dari ruang kerja Hera, agar Zie lebih leluasa untuk bercerita pada Mama-nya. Tapi sebenarnya ia masih ingin di sana, penasaran dengan panggilan Zie pada Tantenya itu dengan sebutan apa. Tapi mungkin lain kali saja, toh setiap hari libur nantinya juga akan bertemu lagi. Mungkin situasi mereka juga jauh lebih baik dari hari ini. Semoga saja begitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Novela JuvenilCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
