Bel rumah berulang kali berbunyi, membuat Erlan dan Rania yang baru saja bangun tidur merasa sedikit kesel dengan orang yang bertamu ke rumahnya tanpa tahu waktu.
"Siapa sih itu, enggak tahu apa ini masih pagi." ucap Rania menyibak selimutnya.
"Biar aku yang lihat, siapa yang datang pagi-pagi buat begini." ujar Erlan turun dari atas kasurnya, dia keluar dari kamarnya. Erlan menyalakan lampu ruang keluarga lalu berjalan mendekati pintu utama.
Erlan membuka pintu rumah, melihat siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah bertamu ke rumahnya, dan ternyata Vara yang datang ke rumahnya, entah bagaimana bisa wanita itu menemukan alamat rumahnya. Padahal selama ini, ia sudah berusaha menyembunyikannya dari wanita itu.
Tanpa menunggu di persilahkan masuk, Vara menerobos masuk lalu duduk di sofa. Dia mengeluarkan laptopnya dan juga berkas-berkas kantor yang di bawanya.
"Aku datang ke sini untuk membahas pekerjaan dengan atas ku." ucap Vara tersenyum manis pada Erlan yang masih berdiri di ambang pintu keluar.
"Kita kan sahabat, jadi enggak perlu kaya anak buah sama bos. Iya kan Rania?" ucap Vara mengalihkan perhatiannya pada Rania yang baru saja masuk ke ruang tamu.
"Erlan udah anggap aku sebagai adiknya sendiri, jadi aku enggak perlu izin siapapun buat datang ke sini. Aku bisa datang kapan aja, iya kan Erlan?" Vara bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Erlan, tangannya terulur menyentuh pundak Erlan, namun sebelum tangan Vara menyentuh pundaknya. Erlan lebih dulu menghindar, melangkahkan kakinya menghampiri istrinya.
Vara mengepalkan tangannya dengan erat, dia berbalik menghadap Erlan dan Rania. "Kenapa? Dulu kita begitu dekat, sekarang kita begitu asing. Apa karena dia?" jari telunjuk Vara mengarah pada Rania.
Rania hanya diam tak menanggapi ucapan Vara, menurutnya tidak penting untuk menanggapi ucapan wanita gila itu. Ia tahu, Vara sengaja membuat keributan di rumahnya, berusaha memancing amarahnya. Tapi ia sudah banyak belajar untuk bersabar untuk menghadapi anaknya. Jadi ia tidak akan mudah terpancing dengan tingkah wanita itu.
"Kenapa kamu diam aja? Takut ya, Erlan balik lagi sama aku?" ucap Vara berjalan mendekati Rania.
"Aku diam karena sedang mengingat-ingat berapa nomor rumah sakit jiwa di dekat sini. Aku enggak pernah mengunjungi orang-orang yang di rawat di sana, tapi pasiennya lepas sampai rumah ku." ucap Rania tersenyum tipis pada Vara.
Tangan Rania terulur menyentuh rambut Vara, mengusap rambut Vara dengan lembut lalu menariknya dengan kasar. "Shhh" ringis Vara berusaha melepaskan tangan Rania yang dengan tiba-tiba menarik rambutnya.
"Kenapa sakit?" ucap Rania melepaskan rambut Vara dengan kasar, sebelum wanita itu bicara. Rania menarik tangan Vara keluar dari rumahnya. "Ini rumah ku, orang gila seperti mu di larang masuk ke dalam rumah ku. Erlan menganggap mu sebagai adiknya, maka datanglah ke rumahnya. Jangan datang ke rumah ku." ucapnya lalu menutup pintu rumah dengan kasar.
Raina mengambil laptop dan kertas-kertas milik wanita itu lalu kembali membuka pintu, melempar kertas-kertas itu keluar. "KAMU AKAN MENYESALI INI SEMUA RANI!" marah Vara tak terima dengan perlakuan Rania
"Kamu yang akan menyesal." ucap Erlan menahan tangan Rania yang ingin menampar Vara.
"Nanti tangan kamu sakit, biar aku aja." ucapnya dengan lembut pada istrinya.
Erlan menarik tangan Vara, menyeretnya keluar dari halaman rumahnya. "Ini yang kamu lakukan pada anak ku waktu di kantor bukan?" Erlan tersenyum tipis.
"PAK TOLONG, ADA ORANG GILA MASUK KE RUMAH SAYA." teriak Erlan pada satpam komplek yang kebetulan sedang patroli.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
