38

16.1K 1.1K 36
                                        

Siang ini Arga bersantai di ruang keluarga bersama dengan Rania dan juga Erlan. Mereka duduk berjauhan, Arga duduk di sofa single bersama dengan Mama-nya, sedangkan Erlan duduk di sofa panjang.

Erlan pura-pura sibuk dengan laptopnya, diam-diam dia memperhatikan anaknya, sedangkan Arga sesekali melirik Erlan tapi enggan bicara apa lagi mendekati pada Papa-nya.

"Kenapa? Mau sama Papa?" tanya Rania mengusap rambut anaknya.

Arga menggelengkan kepalanya. "Enggak mau," lirihnya.

"Kenapa? Papa marahin kamu? Bilang sama Mama biar nanti Mama yang marahin Papa." ucap Rania sekilas menoleh pada Erlan.

"Enggak ada yang marahin."

"Terus kenapa? Biasanya selalu mau sama Papa. Kalau Papa pergi pasti mau ikut, enggak mau jauh-jauh dari Papa."

"Itukan dulu waktu masih kecil, sekarang udah gede. Udah enggak mau ikut Papa lagi. Lagian Papa bakalan pulang ke rumahnya, aku enggak mau tinggal di sana. Aku mau ikut Mama." ucap Arga yang mengingat ucapan Zidan yang mengatakan jika Erlan akan kembali ke rumahnya dalam waktu dekat.

"Emang siapa yang bilang gitu?" tanya Rania.

"Kakek-nya Danish, dia bilang Papa udah janji bakalan pulang ke rumahnya. Aku enggak mau ikut Papa tinggal di sana, aku mau ikut Mama."

Erlan menutup laptopnya, meletakkannya di atas meja lalu mendekati anaknya. "Papa enggak ada janji apa-apa sama mereka, mereka bohong sama kamu." ucap Erlan menatap wajah anaknya.

Arga mendongakkan kepalanya menatap Papa-nya. "Tapi Papa bohong soal jatuh dari tangga waktu itu, bisa aja kan Papa juga bohong lagi." balas Arga tak percaya dengan ucapan Erlan. Waktu Erlan mengatakan jatuh dari tangga itu semua bohong, ia mendengar sendiri percakapan kedua orang tuanya yang membahas soal luka di kedua kaki Papa-nya itu karena Zidan. Bukan karena jatuh dari tangga.

"Waktu itu Papa emang bohong sama kamu, karena Papa enggak mau kamu terlibat masalah apapun sama mereka. Papa mau kita semua seperti dulu, sebelum kita ketemu sama keluarga Papa. Cuma ada kita bertiga, enggak ada siapapun yang gangguin kita." jelas Erlan dengan lembut mengusap rambut anaknya.

"Mereka bohong sama kamu, jangan percaya sama ucapan mereka. Papa juga enggak mau tinggal sama mereka lagi, makanya waktu di kurung sama mereka Papa selalu coba kabur dari rumah mereka." tambahnya lagi.

"Permisi Nona, Tuan.  Dokter yang Nona Hera panggil sudah datang." ucap maid yang datang bersama dengan dokter yang akan memeriksa Arga.

"Selamat siang Dok, silahkan duduk." ucap Erlan tersenyum ramah pada dokter itu.

Dokter itu duduk di sofa panjang, tersenyum pada Arga yang duduk sambil memeluk lengan Mama-nya. "Arga nya enggak ada di rumah Dok, tadi ikut Tante Hera pergi. Dokter jangan lihatin aku kaya gitu." ucap Arga sebelum dokter bertanya.

"Oh, Arga lagi pergi ya. Kalau kamu siapa namanya?" tanya dokter.

"Enggak tahu, Papa lupa ngasih nama dulu pas baru lahir-"

"Namanya Arga Dok, ini anak yang mau dokter priksa." sela Rania melepaskan pelukan tangan anaknya. "Arga bilang sakit kepala, tapi enggak mau minum obat, enggak mau makan juga Dok. Semalam juga demam tinggi," ujar Rania bangkit dari duduknya.

Arga buru-buru bangkit dari duduknya, meraih tangan Mama-nya yang ingin beranjak pergi. "Ikut."

"Mama cuma mau panggil Opa sebentar, tunggu sini sama Papa." ucap Rania melepaskan genggaman tangan anaknya dengan paksa.

Arga menoleh pada Erlan, tidak ada pilihan lain selain duduk di sebelah Papa-nya dari pada duduk di sebelah dokter. "Arga sudah siap dokter priksa?" tanya dokter tersenyum lembut pada Arga.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang