Pagi ini Arga terbangun lebih awal dari pada kedua orang tuanya, dia menatap Papa-nya yang masih tertidur lelap di sampingnya. Perlahan tangannya terulur mengusap pipi Papa-nya dengan lembut lalu mencium pipi Papa-nya berkali-kali.
"Aku pikir Papa enggak pulang-pulang, terus enggak ada kabar udah seneng-seneng tinggal sama keluarga Papa." ucapannya dengan suara pelan.
"Ternyata Papa sakit, di sini sendirian. Kan yang sayang sama Papa cuma aku sama Mama, harusnya Papa enggak usah pulang ke rumah Nenek. Papa sakit di tinggal sendiri di rumah sakit." sambungnya lagi.
Erlan mengatakan pada anaknya jika ia sakit karena kecelakaan kecil, karena itulah ia di rawat di rumah sakit selama dua hari ini. Ia mengatakan itu karena tidak ingin anaknya terlibat masalah dengan keluarganya. Ia paham dengan sikap anaknya, karena itulah ia lebih baik berbohong pada anaknya.
Dengan mata terpejam, Erlan tersenyum tipis mendengar ocehan anaknya. "Papa udah bangun ya?" ucap Arga dengan suara pelan, karena Mama-nya masih tidur di sofa. Ia tidak mau menggangu tidur Mama-nya.
"Belum Papa masih tidur." balas Erlan dengan mata terpejam.
Arga bangun dari tidurnya, dengan pelan-pelan dia turun dari atas ranjang. "Mau kemana?" Erlan menahan tangan anaknya.
"Kamar mandi." jawab Arga melepaskan tangan Papa-nya, lalu dia pergi ke kamar mandi.
Tak berselang lama Arga keluar dari kamar mandi, dia kembali naik ke atas ranjang. Menidurkan kepalanya di dada bidang Erlan. "Papa, Papa kapan sembuhnya?" tanya Arga sambil menepuk-nepuk lengan Papa-nya.
"Sebentar lagi sembuh-"
"Sebentar lagi itu berapa lama? Satu jam? Apa berapa hari lagi?"
"Nanti kalau dokter udah bolehin Papa pulang, berati Papa udah sembuh." jawab Erlan mencium rambut anaknya.
"Kalau gitu minta pulang sekarang aja biar cepat sembuh."
"Ya enggak gitu juga, dokter bilang udah jauh lebih baik. Nanti juga udah boleh coba jaln pelan-pelan, kalau udah bisa. Lusa Papa boleh pulang."
"Berati masih lama, enggak sebentar lagi. Makanya Papa kalau mau pergi-pergi tuh jangan sendiri-sendiri. Harus ajak aku sama Mama," Arga mendongakkan kepalanya menatap wajah Erlan.
"Sebenarnya Papa itu jatuh dari tangga yang mana di rumah Danish? Kok bisa kakinya sakit dua-duanya? Terus enggak ada luka yang lain?" penasaran Arga. Entah mengapa ia meragukan cerita Papa-nya yang mengatakan terpeleset dari tangga karena tidak hati-hati waktu menuruti anak tangga.
"Ada luka yang lain, lihat nih. Lengan Papa masih sakit, terus punggung Papa juga sakit. Kepala Papa juga masih sakit," ucap Erlan sambil menunjukan pergelangan tangannya yang memar karena waktu di rumah Zidan mengikat kedua tangannya dengan kuat.
"Aku panggil dokter kalau gitu, harusnya Papa bilang dari tadi." ucap Arga bangun dari tidurannya, baru saja ia ingin mencet tombol untuk memanggil dokter. Erlan lebih dulu menahan tangannya.
"Papa enggak butuh dokter, yang Papa butuh anak kesayangan Papa." ucap Erlan menarik tangan anaknya masuk ke dalam pelukannya.
Rania tersenyum melihat interaksi anak dan suaminya, dia bangun dari duduknya. Mendekati ranjang suaminya lalu mencium kening keduanya bergantian. "Pagi ini pada mau sarapan apa? Biar Mama minta Nicolas beliin di luar." tawar Rania.
"Nicolas siapa?" tanya Erlan menatap istrinya, siap Nicolas itu. Seingatnya ia tidak mengenal pria yang bernama Nicolas.
"Dia teman-"
"Teman yang mana? Setahu aku kamu enggak punya teman dekat yang namanya Nicolas. Suruh dia kesini aku mau lihat. Siapa Nicolas, Nicolas itu." sela Erlan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Fiksi RemajaCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
