9

23K 1.2K 15
                                        

Hal yang paling menyebalkan untuk Arga iyalah, ketika guru meliburkan murid-muridnya namun memberikan banyak tugas untuk di kerjakan di rumah.

Yang seharusnya libur untuk bersantai-santai dan bermalas-malasan, ia tidak bisa melakukannya. Karena tugas sekolah harus segera di selesaikan agar bisa santai-santai dan malas-malasan. Itu bukan peraturan dari guru, tapi dari Mama tersayangnya.

Mau tidak mau, siang ini Arga pun harus pergi ke rumah sahabatnya, untuk mengerjakan tugas kelompoknya. "Ayo Pa, kita berangkat ke rumah Danish sekarang." ajak Arga pada Erlan yang sedang duduk di ruang keluarga.

"Bukannya, semalam kamu bilang sore ke rumah dia. Kenapa jadi pagi-pagi gini?" tanya Erlan menoleh pada anaknya yang sudah siap untuk pergi ke rumah temannya.

"Udah siang Pa, udah jam sembilan. Enggak jadi sore, Danish bilang sore nanti dia ada acara keluarga. Besok dia mau pergi ke puncak. Jadi harus di kerjain sekarang tugasnya." jelas Arga.

"Tapi ini terlalu pagi, pagi-pagi gini bertemu ke rumah orang. Enggak enak lah."

"Danish udah bilang sama orang tuanya, katanya boleh. Yang penting bukan Danish yang keluar rumah, dia itu enggak boleh keluar rumah selain sekolah. Dia cuma boleh pergi kalau keluarga ada yang ajak, selain itu enggak boleh." jelas Arga karena kemarin malam saat dirinya mengajaknya untuk makan malam, Danish tidak bisa karena tidak di izinkan kedua orang tuanya. Danish juga bilang, jika dia hanya di izinkan keluar rumah saat sekolah saja. Selebihnya tidak boleh, kecuali keluarganya yang mengajaknya pergi keluar.

"Ya sudah, ayo. Di sana enggak boleh nakal, yang  sopan di rumah orang. Kalau habis main jangan lupa di rapiin lagi." pungkas Erlan bangkit dari duduknya, merangkul pundak anaknya berjalan keluar dari rumah.

"Rumahnya jauh enggak? Coba minta Danish serlok." ucap Erlan masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Arga yang masuk dari pintu sisi kiri.

"Aku kirim ke Papa alamat rumah Danish." Arga mengirim alamat rumah Danish pada hp Erlan.

"Ini alamat rumahnya?"

"Iya, lumayan jauh sih. Tapi masih pagi, harusnya enggak terlalu macet."

Erlan menganggukkan kepalanya, lalu segera melajukan mobilnya ke jalan raya. Selama perjalanan ke rumah sahabat anaknya, ia tak asing dengan alamat rumah itu.

Setelah perjalanan yang memakan waktu satu jam, akhirnya mereka sampai di rumah Danish. Pintu gerbang yang menjulang tinggi, rumah besar dan sangat mewah dan ada berbeda orang yang berjaga di depan pintu gerbang.

Arga membuka pintu mobil lalu turu dari mobil, dia menghampiri sala satu penjaga yang berjaga di depan pintu gerbang. "Permisi Pak, saya Arga teman Danish."

"Tuan muda Danish sudah menunggu Anda di dalam, silahkan masuk." ucap pria itu, sebelum Arga datang anak majikannya itu sudah memberi tahu lebih dulu, jika teman sekolahnya akan datang ke rumah.

"Sebentar ya Pak-"

"Maaf, mobil Anda tidak boleh masuk ke dalam. Hanya Anda saja yang masuk." cegah pria itu sebelum Arga melangkahkan kakinya.

"Saya cuma mau pamit sama Papa saya sebentar, sekalian mau ambil bahan-bahan tugasnya." jelas Arga lalu segera masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil Erlan tengah melamun, menatap rumah yang ada di hadapannya. Setelah bertahun-tahun tak pernah mengunjungi rumah kedua orang tuanya, tak pernah mendengar kabar mereka, tak pernah tahu seperti apa mereka sekarang ini, akhirnya ia kembali mengunjungi rumah kedua orang tuanya. Walaupun tak bisa masuk ke dalam sana.

Rindu, tentu saja ia merindukan keluarganya itu. Sudah lama tak pernah melihatnya, tak pernah mendengar suaranya, tak tahu kabarnya. Ingin sekali ia turun dari mobil dan masuk ke dalam, menghampiri kedua orang tuanya, untuk melepas rindunya. Tapi itu hanya keinginannya yang tidak bisa ia lakukan sekarang. Karena ia belum bisa menyamai orang tuanya, jadi ia tidak bisa masuk ke dalam sana. tapi suatu hari nanti ia pasti akan datang untuk melepas rindu pada keluarganya.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang