"Nona saya sudah melakukan apa yang Anda perintahkan, bagaimana apa Anda puas dengan hasil kerja saya?" ucap anak buah Hera.
"Nicolas, berapa lama kamu bekerja dengan ku?" Hera menoleh pada Nicolas yang berdiri di depan meja kerjanya. Hera bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Nicolas.
"Sudah lumayan lama, sekitar empat tahun."
"Lalu kenapa masih aja kurang dalam menyelesaikan tugas?"
"Untuk masuk ke dalam kantor itu saya butuh perjuangan antara hidup dan mati. Pengawasan di sana sangat ketat, jika saya melakukan sedikit kesalahan. Saya rasa saya tidak bisa kembali menghadap Anda, Nona." Nicolas memberikan sebuah amplop berwarna coklat pada Hera.
"Saya mendapatkan apa yang Anda butuhkan. Tiga perusahaan besar itu, bekerja sama namun mereka berusaha saling menjatuhkan satu sama lain. Di antara ketiganya, Zidan yang paling berkuasa. Jika Zidan berhasil membuat Tuan Erlan menikah dengan Vara. Sudah di pastikan, dia akan menambah kekuasaan," jelas Nicolas.
Hera mengambil amplop coklat dari tangan Nicolas, membuka amplop itu lalu membaca berkas di dalamnya. "Kita bisa masuk dalam permainan ketiganya, anggap kita berperan seperti pilari penyangga. Yang akan menghancurkan ketiganya dengan cara bersamaan." ucap Nicolas.
Setelah membaca berkas itu dan mendengarkan ucapan Nicolas, Hera menatap Nicolas. "Kenapa kamu hanya membakar ruangan kerja Zidan saja? Seharusnya kamu bakar habis perusahaan itu." ucap Hera kembali duduk di kursinya.
"Bisa saja saya membakar seluruh kantornya, jika saja hari ini bukan hari kerja. Lagi pula kita berhasil memancingnya keluar," Nicolas menunjukkan sebuah foto di handphonenya.
"Tuan Erlan sudah berada di rumah sakit keluarga Anda. Dokter bilang luka tembakan di kedua kalinya akan pulih dan bisa berjalan seperti sedia kala."
"Bisakah dalam satu hari dia bisa kembali jalan? Aku tidak ingin keponakan ku melihat Papa-nya dengan kondisi menyedihkan seperti itu."
Nicolas menghela napasnya, majikannya pikir dokter di rumah sakit itu penyihir atau apa, yang bisa menyembuhkan orang dalam waktu satu hari. "Bisa Nona, dokter bisa mengundurkan diri hari ini juga jika Anda meminta hal itu." jawab Nicolas.
"Bagaimana kamu bisa membawa Erlan?" penasaran Hera, jika begitu mudah membawa Erlan pergi dari cengkraman keluarganya ia tidak perlu pusing-pusing memikirkan jalannya dari kemarin.
"Mereka meninggalkan Tuan Erlan di villa seorang diri, mereka semua memilih pulang ke kota untuk melihat kantor yang terbakar. Mereka mementingkan harta dari pada keluarga."
"Baiklah urus mereka lagi nanti, jangan lupa. Kamu masih hutang satu tugas. Vara, wanita itu belum keluar dari kandangnya.
"Nicolas, siapkan mobil. Kita pergi ke rumah sakit sekarang. Uang yang kamu ambil dari kantor Zidan, bagi rata dengan yang lain. Aku tidak mau tahu tentang uang itu." ucap Hera lalu pergi dari sana.
Hera berjalan menuju ruang keluarga, samar-samar dia mendengar suara Arga, entah apa yang anak itu minta kali ini, yang jelas tadi dia marah karena sampai di rumah Danish tidak ada orang satupun apa lagi pesta.
"Udahlah Opa, enggak usah nawarin bayak barang aku enggak mau apa-apa sekarang. Aku maunya sama Papa sekarang. Danish anjing emang, awas aja nanti. Aku cekek sampai mencret." dumel Arga duduk membelakangi Barta.
Rania sudah meminta Ayah-nya untuk membiarkan Arga sendiri, karena percuma juga membujuk Arga, tapi sebagai Opa yang baik. Barta mencoba membujuk cucunya, tapi tetap saja. Arga tidak tertarik sedikitpun dengan apa yang ia tawarkan.
"Sabar dulu, sebentar lagi Papa kamu juga pulang." ucap Barta mengusap rambut cucunya dengan lembut.
"Aku enggak mau sabar, maunya Papa pulang sekarang. Enggak mau nunggu nanti-nanti. Opa ngerti kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
