19

23K 1.2K 17
                                        

Sudah dua malam Erlan dan Rania membiarkan anaknya tidur sendiri, mereka berdua benar-benar tidak menemaninya seperti biasanya, mereka hanya memantau anaknya dari cctv. Terlihat sudah dua malam anaknya itu tidak bisa tidur sampai larut malam, dan baru tertidur saat jam setengah dua malam.

Erlan baru saja bangun tidur, dia keluar dari kamarnya. Baru membuka pintu ia mendengar suara televisi, dia pun pergi ke ruang keluarga untuk melihat siapa yang sedang menonton televisi pagi-pagi begini. Dan ternyata anaknya yang duduk manis sambil memeluk selimutnya.

Erlan mendudukkan dirinya di sofa single, terlihat dengan jelas lingkar hitam di bawah mata anaknya, menandakan anak itu kurang tidur. "Tumben hari minggu jam segini udah bangun." ucap Erlan mengalihkan perhatian Arga.

Arga menoleh pada Papa-nya, yang entah sejak kapan duduk di sana. Ia benar-benar tidak menyadari kehadiran Papa-nya. "Udah siang bangun lah," jawabannya lalu kembali fokus pada tayangan kartun di televisi.

"Biasanya kan bangun jam sepuluh, ini baru jam enam. Itu gelas punya kamu semua?" tanya Erlan menunjuk beberapa gelas yang ada di atas meja.

"Hmm." dehem Arga.

"Habis berapa banyak susu? Sampai gelasnya banyak gitu?"

"Masih ada satu di kulkas, jangan lupa nanti beli lagi yang banyak." jawab Arga lalu mematikan televisinya, dia bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamarnya.

"Papa belum selesai ngomong, kamu semalam enggak tidur? Habisin susu di kulkas? Arga." ucap Erlan yang di abaikan anaknya. Arga terus berjalan mendekati pintu kamarnya.

Semalam dia minum susu agar bisa tidur, teryata tidak juga. Dari susu yang hangat sampai yang dingin, sudah di coba semuanya. Tapi hasilnya sama saja, ia tetap saja tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Erlan menghela napasnya, bangkit dari duduknya lalu menyusul anaknya ke kamar. Erlan menghentikan langkahnya ketika melihat tong sampah yang penuh dengan kotak susu, Erlan mengurungkan niatnya ke kamar anaknya. Ia memilih untuk melihat dapur.

"Astaga, panci Mama-nya kotor semua. Ngapain tuh anak malam-malam berantakin dapur gini." kaget Erlan melihat kondisi dapur yang sudah seperti kapal pecah. Belum lagi ada dua panci yang gosong, entah apa yang di lakukan anaknya semalam.

"Bikin apa sih, sampai panci sama gelas keluar semua gini." monolog Erlan sambil merapikan alat-alat masak yang ada di atas kompor.

"Tumben ke dapur? Cari apa?" tanya Rania sambil mengikat rambut panjangnya, dia berjalan mendekati kulkas, mengambil empat butir telur lalu mengambil mangkuk kecil.

Rania membuka lemari tempat menyimpan alat masakannya yang sudah kosong tidak ada satupun panci di dalam sana. Rania menoleh ke arah suaminya. "Astaga! Kamu habis ngapain? Panci aku!" pekikan Rania melihat panci yang baru di beliin sudah penuh dengan goresan di tangan suaminya.

"Aku belinya mahal-mahal, kenapa kamu gosok pake sikat baju yang itu. Rusak semua panci aku-"

"Tinggal beli lagi, di toko masih banyak." sahut Arga memotong ucapan Rania. Mereka berdua menoleh ke belakang, di mana anaknya berdiri di ambang pintu masuk.

Rania menatap anaknya dari ujung rambut sampai kaki, tumben sekali anaknya itu berpakaian rapi. Rambutnya juga terlihat rapi, tidak berantakan seperti biasanya. "Tumben banget kamu pagi-pagi gini udah mandi, mau pergi ke mana?" tanya Rania menghampiri anaknya, sejenak dia melupakan pancinya yang rusak. "Wangi banget, mau pergi kemana?"

"Enggak pergi kemana-mana, cuma mau nongkrong aja nanti, sama teman. Mau minta duit buat nanti nongkrong." jawab Arga seraya mengulurkan tangannya pada Rania. "Enggak usah banyak-banyak, lima puluh ribu cukup." tambahnya.

Erlan berjalan mendekati anaknya. "Mau nongkrong di mana? Sama siapa?" tanyanya mantap anaknya dengan wajah serius, baru kali ini anaknya ingin nongkrong di luar. Ia jadi penasaran, siapa yang mengajak anaknya pergi nongkrong. Apakah para sahabatnya, atau teman barunya.

"Ekhem, aku mau pergi ke pantai. Berhubung rumah kita jauh dari pantai, aku mau jalan sekarang. Biar enggak terlambat nanti,"

"Mau naik apa ke pantai minta duit lima puluh ribu, buat ongkos kesannya aja kurang. Paling baru sampai setengah jalan." ucap Rania sambil bersedekap dada.

"Di jemput, aku minta duit buat jajan di sana. Kan cukup, aku paling beli cemilan sama es kelapa muda aja." ucap Arga berjalan ke ruang keluarga, begitu juga Rania dan Erlan yang mengikuti anaknya dari belakang.

Arga duduk di sofa single, Rania dan Erlan berdiri di samping kanan dan kiri anaknya. "Di jemput sama siapa?" tanya Erlan.

"Sama Kak cantik."

"Kakak cantik siapa?" tanya Rania dan Erlan bersamaan.

Arga tersenyum malu ketika kedua orang tuanya terus menatap pada dirinya. "Kakak cantik siapa?" tanya Erlan.

"Iya itu namanya cantik, ya karena dia umurnya lebih tua dari aku lima tahun. Aku jadinya panggil dia Kakak cantik. Kita baru kenal kemarin, Kakak cantik udah ajak aku pergi main keluar. Baik kan dia Pa? Mana mau jemput segala lagi."

Erlan mamah tangan istrinya yang ingin menarik telinga anaknya. "Biar aku yang ngomong, tenang jangan marah-marah dulu. Sabar, namanya anak-anak, masih dalam proses belajar. Harus di kasih tahu biar tahu, jangn langsung marah-marah." ucap tersenyum lembut pada istrinya yang terlihat sangat marah dengan anaknya.

Rania menepis tangan Erlan, lalu dia pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Erlan duduk di sofa panjang, dia menatap anaknya dengan wajah serius.

"Kamu kenal di mana sama cewek itu?" tanya Erlan.

"Dari hp teman, dia minjami aku hp pas di sekolah. Bukan aku yang minta ya, dia yang kasih pinjam. Katanya kasihan, teman-teman aku pada main hp, aku sendiri yang enggak." jawab Arga jujur. Menang saat jam kosong di sekolah ada yang meminjamkan hpnya karena kasihan saat melihatnya.

"Teman kamu minjami hp kan buat main, bukan buat balas chatingan orang. Itu namanya enggak sopan, kalau pinjam buat main game. Ya main game aja, enggak boleh buka-buka yang lain.

"Orang dia yang kasih tau, bukan aku yang buka-buka sendiri. Banyak kok ceweknya di sana. Tinggal pilih aja, aku juga mau daftar kalau hp aku udah di balikin sama Mama. Hari ini kan hari terakhir aku di hukum."

"Lain kali enggak boleh pinjam hp teman, kalau enggak ada punya sendiri ya udah. Enggak usah main hp, Papa enggak izinin kamu pake hp orang lain, atau pinjam punya orang. Kalau di sekolah mau telpon Mama atau Papa. Minta tolong sama guru." tegas Erlan. Ia tidak ingin anaknya belajar yang bukan-bukan, apa lagi di usia anaknya ini. Ia tidak ingin anaknya salah pergaulan yang nantinya akan merugikan anak itu sendiri.

"Kenapa? Kan dia yang kasih pinjam. Bakan aku yang minta."

"Tetap aja enggak boleh, kamu cuma boleh pake hp kamu sendiri. Atau punya Mama sama Papa. Selain itu enggak boleh."

"Tapi jalan-jalan ke pantainya boleh kan?"

"Enggak, kita enggak jadi pergi makan malam, di ganti makan siang di rumah Nenek." ucap Erlan bangkit dari duduknya.

"Yah, sayang banget, padahal aku pengen lihat sun kisses the sea sama Kakak cantik. Gagal deh, nanti deh kapan-kapan lagi atur waktu." gumam Arga yang masih bisa di dengar oleh Erlan.

Erlan melebarkan matanya mendengar ucapan anaknya, sun kisses the sea. Siapa yang mengajarinya kata-kata itu. "Sayang, ayo kita sarapan." terika Rania dari dapur.

"I m coming Mom." seru Arga lalu pergi ke rumah makan.

"Main sama siapa sih di sekolah, jadi aneh gitu." gumam Erlan sambil berjalan menuju ruang makan, sampai di ruang makan. Erlan di buat terkejut lagi dengan anaknya yang makan salad, biasanya anak itu paling anti dengan sayuran.

Erlan menarik kursi, lulu mendudukkan dirinya. "Kayanya habis ini kita harus pergi ke Pak ustadz," ujar Erlan menoleh pada istrinya yang hanya bengong melihat anaknya.

"Aku rasa juga gitu sayang, anak kita kesurupan kambing dari mana ini? Jadi mau makan daun-daunan gitu, kayanya yang nyembelih kambingnya doanya kurung." balas Rania tak melepaskan pandangannya pada Arga yang dengan lahap memakan salad.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang