53

13.4K 1K 49
                                        

Siang ini Erlan datang ke rumah sakit, sesuai dengan permintaan Zidan. Dia datang sendiri tanpa istri dan anaknya, sebenarnya tanpa Zidan minta pun, Erlan akan datang sendiri ke rumah sakit, lagi pula jika ia mengajak pun anaknya juga tidak mau.

Cukup lama Erlan hanya duduk diam di kamar rawat Zidan, tidak ada hal penting yang di bicarakan oleh Zidan. Mereka tadi hanya saling menanyakan kabar, setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka.

Erlan bangkit dari duduknya, mendekati ranjang Zidan. "Aku pulang dulu," pamitnya pada Zidan.

"Lain kali ajak Arga ke sini." ucap Mery yang duduk di kursi samping ranjang Zidan.

Erlan mengalihkan perhatiannya pada Mery. "Aku enggak bisa bawa Arga ke sini. Kalau Mama mau ketemu Arga, datang aja ke rumah."

"Kenapa enggak boleh sama istri kamu?" sahut Rena.

Erlan tersenyum tipis, dia menoleh pada adiknya yang duduk di sofa panjang. "Kan kalian sendiri yang buat anak aku enggak mau lagi ketemu sama kalian. Kenapa malah tanya kenapa, kamu itu aneh, suami kamu sendiri yang udah bikin anak aku takut sama keluarga Papa-nya sendiri malah bilang enggak boleh sama Rania." ucap Erlan pada adiknya.

"Kamu tuh lagi hamil, sebentar lagi lahiran, dari pada ngurusin hidup orang lain. Lebih baik pikirin hidup kamu sendiri, dari pada kamu berpikir buruk terhadap Rania. Mending pikiran suami kamu yang katanya ada di luar negeri itu." ucap Erlan mengalihkan perhatiannya pada Abyan. Ia pikir keluarga akan memberikan pelajaran pada Naka, ternyata hanya di kurung di ruang bawah tanah. Nicolas mengatakan, mereka hanya menghajar selingkuhan Naka, dan Naka sendiri hanya di kurung tanpa di berikan hukuman yang berat.

"Mau apa kamu sama suami aku? Jangan mentang-mentang sekarang kamu kerja sama Bartajaya. Kamu bisa ngancam aku seenaknya sendiri." Rena menatap Erlan dengan wajah kesalnya.

"Aku enggak bilang mau bunuh dia, aku cuma nyuruh kamu buat mikirin dia. Kan aku perhatikan sama adik bungsu, mana tau di sana kan banyak bule cantik-"

"Erlan!" bentak Abyan.

"Kenapa? Apa yang aku bilang itu benar, cewe di sana cantik dan seksi, tinggal pilih-"

"Erlan cukup." tegas Abyan bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Erlan. "Jangan cari masalah," ucapannya menatap tajam pada Erlan.

"Dih, siapa yang cari masalah. Masalah aku aja udah banyak tanpa di cari," balas Erlan mendorong tubuh Abyan agar menjauh dari hadapannya, dia berjalan mendekati Rena.

"Ingat, laki-laki kalau di luar sendirian enggak ada yang tahu kalau dia udah punya istri sama anak. Kalau dia bilang duda atau bujang masih banyak yang percaya. Bisa jadi sekarang dia di hotel lagi-"

Plak!

Dengan spontan Rena memberikan tamparan keras di pipi Erlan, bukannya menunjukkan rasa sakit. Justru Erlan menunjukkan senyumannya pada adiknya. "Suka enggak suka, kebenaran akan terungkap sebentar lagi. Dan untuk Bartajaya, dia bukan rekan bisnis ku. Tapi Ayah mertua ku. Ayah dari Rania, istriku." ucap Erlan mengusap rambut adiknya dengan lembut.

"Kamu ini pintar, dulu waktu sekolah selalu menjadi yang terbaik di kelas. Aku bahkan kalah, tapi kenapa sekarang kamu begitu bodoh hanya karena laki-laki tak berguna itu. Kesalahannya sudah jelas di depan mata, tapi kenapa seolah kamu tak melihat kesalahannya?" Erlan mengalihkan perhatian pada kedua orang tuanya.

"Kalian menyayanginya, menjaganya seperti berlian. Tapi kenapa masih diam dengan apa yang sudah di lakukan bajingan itu? Untuk kebaikan siapa? Menyimpan kebenaran dan memberinya kebohongan. Aku harap kalian secepatnya mengatakan yang sebenarnya." ucapannya lalu mengalihkan perhatian pada Abyan.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang