Setelah mendapatkan perawatan dari dokter, Arga merasa jauh lebih baik. Sakitnya memang belum hilang sepenuhnya, tapi sudah tidak sesakit tadi.
Arga duduk bersandar di atas kasur, dia hanya bersama dengan Mama-nya karena Papa-nya tadi harus pergi ke kantor untuk memberikan dokumen penting.
"Ma, tadi dokternya bilang apa?" tanya Arga.
"Suruh banyak minum air bening, enggak boleh makan sembarangan dulu. Enggak boleh makan yang aneh-aneh dulu." ucap Rania tersenyum lembut pada anaknya.
"Bukan yang itu maksudnya, aku sakit perut karena apa? Tadi dokter bilang kan sama Mama sama Papa?"
"Ya karena salah makan, lain kali kalau makan harus lebih teliti, enggak boleh makan sembarangan. Kalau lagi sama Mama sama Papa lebih baik, izin dulu sama Mama atau sama Papa." ucap Rania mengusap pipi anaknya dengan lembut. Dokter mengatakan jika anaknya keracunan makanan, akibat mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi organisme jahat. Itulah yang menyebabkan sakit perut dan rasa pusing pada anaknya.
Arga menganggukkan kepalanya. "Kalau yang lain-lain enggak boleh, air putih boleh kan?"
"Buat sekarang ini enggak boleh dulu, tapi nanti kalau udah sembuh, boleh. "
Arga mencabikkan bibirnya, merebahkan tubuhnya, membalikkan tubuhnya membelakangi Mama-nya. "Aku kan cuma salah makan, bukan salah minum. Harusnya dokter enggak ngelarang aku minum air putih." kesal Arga. Dari tadi dokter sudah memberinya banyak larangan, mau ini tidak boleh, mau itu tidak boleh, jangan terlalu banyak gerak, nanti infusnya lepas lagi, dan masih banyak lagi, larangan dari dokter.
"Tidurnya yang benar, nanti tangannya sakit." Rania membenarkan posisi tidur anaknya.
"Rumah sakit sama dokter nyebelin, ayo pindah ke villa apa hotel aja Ma. Kayanya aku sakit bukan salah makan, tapi butuh jalan-jalan," ucapnya sambil memeluk tangan Mama-nya. "Minta Papa ambil bantal sama selimut kecil punya aku, kita mau pindah ke villa aja, biar cepat sembuh." sambungnya lagi.
"Baru pertengahan bulan, Papa gajiannya akhir bulan," bisik Rania sambil mengusap-usap rambut anaknya dengan lembut. "Nanti pas dapet tunjangan, baru kita mampir ke villa."
"Mampir doang? Nginapnya?" Arga mendongak menatap Rania dengan serius.
"Nanti kalau tabungan kamu udah cukup, baru kita nginap di villa. Sebelum itu, kita tidur aja di rumah. Yang penting kan udah jalan-jalan, dari pada di rumah aja. Iya kan?"
Arga memutar bola matanya malas, melepaskan pelukannya pada tangan Mama-nya. "Sama anak sendiri aja perhitungan, Mama cuma sayang sama suaminya doang. Anaknya enggak di sayang."
"Jelas dong, Mama kan udah banyak ngalah sama anaknya. Setiap malam, sebelum Papa tidur di kamar Mama, Papa temenin anaknya dulu sampai tidur. Belum kalau hari libur, Mama harus bagi-bagi Papa sama anaknya."
"Aku anak satu-satunya Papa, jadi Papa punya aku. Kalau Mama mau di temenin suaminya setiap hari, cari suami lagi aja. Kalau Papa sibuk sama aku, Mama bisa sama suami satunya lagi-"
"Lagi pada ngomongin siapa?" suara Erlan memotong ucapan Arga, mereka berdua menoleh ke arah pintu.
"Suami Mama," jawab Arga.
Rania bangkit dari duduknya, mendekati suaminya, mengambil bingkisan makanan yang di bawa suaminya. "Ini beli di tempat biasa kan?" tanya Rania mencium harum makanan yang di bawa suaminya.
Erlan menganggukkan kepalanya. "Sesuai pesanan kamu, ayo kita makan dulu." ajak Erlan berjalan mendekati sofa panjang yang ada di kamar rawat anaknya.
"Aku? Enggak di ajak makan juga? Kalian mau makan berdua doang?" Arga bangun dari tidurannya, bersiap turun dari tempat tidurnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Genç KurguCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
