Siang sudah berganti malam, yang katanya pulang sore hari. Ternyata sampai jam makan malam tiba belum juga pulang ke rumah. Erlan yang sudah menunggu anaknya sejak tadi sore pun sudah hampir habis kesabarannya.
Erlan juga sudah menghubungi Nicolas, dia bilang sedang dalam perjalanan pulang. Tapi ini sudah satu jam lewat, dan mereka belum juga sampai di rumah. Sedangkan jarak rumah sampai ke sekolah Arga hanya memakan waktu satu jam, itupun sudah terhitung dengan kemacetan di jalan.
Erlan bangkit dari duduknya, mengambil kunci mobilnya yang ada laci. "Mau ke mana?" tanya Rania ketika melihat suaminya bersiap-siap pergi.
"Jemput Arga, pergi ke mana dia jam segini belum pulang. Katanya pulang jam lima, ini udah mau jam tujuh belum pulang juga." ujar Erlan lalu mendekati pintu keluar, baru saja dia ingin membuka pintu. Tiba-tiba saja pintu di buka dari luar.
"Dari mana jam segini baru pulang?" tanya Erlan menatap anaknya yang masih berdiri di ambang pintu masuk.
Arga melangkahkan kakinya masuk ke dalam, meletakkan tas sekolahnya di atas kursi lalu melepaskan sepatu sekolahnya. "Dari sekolah, kan aku udah bilang ada pelajaran tambahan." jawab Arga tanpa melihat ke arah Erlan.
"Pelajaran tambahan cuma sampai jam empat sore, harusnya jam lima udah ada di rumah. Dari jam empat sampai jam tujuh pergi ke mana?" ucap Erlan menatap anaknya.
"Enggak ke mana-mana, cuma di sekolah. Aku ke kamar dulu mau mandi." Arga kembali mengambil tasnya lalu membawanya pergi ke kamarnya.
Erlan menghela napasnya, meletakkan kunci mobilnya dengan kasar lalu keluar dari rumah. "Nicolas." panggil Erlan pada Nicolas yang sedang membersihkan mobil.
"Iya Tuan." jawab Nicolas menghampiri Erlan.
"Arga dari mana aja jam segini baru pulang? Guru bilng jam pelajaran tambahan cuma sampai jam empat."
"Dari sekolah Tuan, Tuan muda Arga tidak pergi ke mana-mana."
"Kamu enggak lagi bohong kan Nicolas?"
"Tidak Tuan, Tuan muda tidak pergi ke mana-mana. Seharian Tuan muda Arga di sekolah." jawab Nicolas apa adanya, memang Arga seharian di sekolah. Ia juga menunggu di parkiran sekolah sampai Arga keluar dari sekolah.
Erlan kembali masuk ke dalam rumah, dia pergi menuju ke kamar anaknya. "Arga kamu masih di kamar mandi?" tanya Erlan karena tak melihat anaknya ada di dalam kamarnya.
"Iya, sebentar lagi ganti baju." sahut Arga dari dalam kamar mandi.
Tak berselang lama Arga keluar dari kamar mandi. "Aku keringin rambut dulu, nanti turun ke bawah." ucap Arga pada Erlan yang duduk di tepi kasurnya.
"Sini Papa bantuin keringin rambutnya." ujar Erlan mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambut anaknya.
Arga mendudukkan dirinya di kursi meja belajar, mengambil handphonenya. Dia membalas chat dari teman-temannya, diam-diam Erlan ikut membaca chatting anaknya dengan teman-temannya.
"Ayo kita makan, Mama tadi masak masakan kesukaan kamu." ajak Erlan setelah selesai mengeringkan rambut anaknya.
"Sebentar lagi-"
"Sekarang, ini udah malam. Lanjut lagi nanti main hpnya." sela Erlan mengambil ponsel anaknya.
"Nanti Papa balikin kalau udah selesai makan, sekarang ayo kita makan malam dulu." ucap Erlan lalu keluar lebih dulu.
Arga menghela napasnya, bangkit dari duduknya mengikuti langkah Papa-nya pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama.
***************
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Ficção AdolescenteCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
