Jika Zidan masih sibuk mencari orang yang sudah membuat kekacauan di rumah anak bungsunya, lain halnya dengan Mery. Di tengah masalah suami dan anaknya, Mery mengajak anak dan menantunya makan malam bersamanya di luar.
Mereka hanya makan malam bertiga, tidak ada anak dan menantu Mery yang lain. Mery memang sengaja hanya mengajak Erlan dan Rania, karena ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan anak keduanya.
"Apa kabar kalian semua? Arga sehat kan? Mama dengar Arga baru aja mengalami kecelakaan mobil." tanya Mery pada anak dan menantunya. Ia mendengar kecelakaan yang di alami Arga dari Abyan.
"Kami baik, Arga juga baik. Mama sendiri apa kabar?" tanya Erlan tersenyum tipis pada Mama-nya yang duduk di seberangnya.
"Mama juga baik, Rena yang lagi kurang sehat." jawab Mery tersenyum tipis.
"Kenapa dia?" tanya Erlan dengan wajah datarnya.
"Ada sedikit kekacauan di rumahnya, tapi sekarang sudah baik-baik aja. Kenapa kalian enggak makan, enggak suka sama makanannya? Sebentar, Mama mintain buku menu-"
"Enggak usah Ma, kita suka sama makanannya." cegah Rania sebelum Mery memanggil pelayan restoran.
Mery menatap menantunya, meraih tangan menantu dan anaknya. Menggenggamnya dengan erat. "Mama minta maaf, atas semua kesalahan Mama selama ini sama kalian. Mama tahu Mama egois, tapi Mama ingin yang terbaik untuk semu anak-anak Mama." ucap Mery sejak menghentikan ucapannya, dia menatap anak dan menantunya bergantian. Lalu kembali melanjutkan ucapnya.
"Mama tahu kalian enggak ada pilihan lain sampai memilih bekerja sama dengan Bartajaya, kalau Mama boleh minta. Akhiri kerja sama kalian sama Bartajaya. Kalian enggak tahu seperti apa Bartajaya, jangan sampai kalian salah mengambil langkah. Yang nantinya kalian sendiri yang rugi."
"Buat siapa Mama minta kita berhenti kerja sama sama Bartajaya? Buat aku apa buat anak Mama yang lain?" ucap Erlan menatap Mama-nya.
"Mama sadar kalau Mama egois, tapi kenapa masih berlanjut Ma? Aku bekerja sama Bartajaya itu karena siapa? Karena Papa, karena keluarga aku sendiri, bukan karena orang lain." Erlan melepaskan genggaman tangan Mery.
"Mama mau nyalain aku atas apa yang terjadi sama Rena, iya kan Ma?"
Mery menggelengkan kepala, menyangkal tuduhan anaknya. Ia melakukan ini semua untuk kebaikan semaunya, bukan hanya untuk Rena. "Mama minta itu karena ingin melindungi kalian semua, bukan cuma buat Rena. Mama mau kalin semua baik-baik aja, kamu enggak kenal siapa Bartajaya, dia bukan orang baik Erlan." ucap Mery meyakinkan anaknya jika jalan yang dia tempuh itu tidak benar, dia belum mengenal kekejaman Bartajaya.
Erlan tersenyum mendengar ucapan Mama-nya. "Aku juga mau melindungi keluarga aku Ma, Mama mau yang terbaik buat anak-anak Mama. Aku juga mau yang terbaik buat anak sama istri aku,"
"Mama tahu? Kecelakaan yang Arga alamin karena siapa? Karena ulah Naka. Menantu Mama sendiri, apa Mama minta dia buat berhenti juga gangguin keluarga aku? Apa aku harus diam aja Ma? Yang Mana perduliin cuma anak-anak Mama, sedangkan aku udah bukan anak Mama lagi. Mama sendiri yang pernah bilang gitu." ucap Erlan bangkit dari duduknya.
"Ayo kita pulang." ajak Erlan pada istrinya.
"Rena adikmu sendiri Erlan, kamu tega melakukan itu semua pada adik kamu sendiri? Kamu mencelakai adik mu sendiri, apa salam ini Rena mengganggu hidup mu." ucap Mery menghentikan langkah Erlan.
Erlan berbalik menghadap Mama-nya, tangannya menggenggam erat tangan istrinya. "Arga juga anak ku sendiri, aku enggak perduli siapapun dia yang ingin mencoba menyakitinya. Aku aka? membalasnya dengan cara yang sama." tegas Erlan lalu pergi meninggalkan restoran bersama dengan istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
