28

16.6K 1.1K 39
                                        

Hari sudah sore, namun Arga belum juga pulang ke rumah. Rania dan Erlan juga tak tahu anaknya pergi ke mana, tadi saat menjemput di sekolah anaknya. Guru mengatakan jika Arga sudah pulang bersama dengan sopir yang menjemputnya.

"Kamu yakin enggak minta sopir kantor buat jemput Arga?" tanya Rania pada Erlan yang tengah menyetir mobil.

"Aku enggak pernah minta sopir kantor buat jemput Arga. Coba kamu tanya teman-temannya, siapa tahu Arga ada sama salah satu dari mereka." ucap Erlan menambah kecepatan mobilnya, ia tidak tahu kemana anaknya pergi. Terakhir kali anaknya memberi tahu, jika ada orang asing yang terus mengikutinya.

Namu ia tidak bisa langsung menjemput anaknya, karena hari ini di kantornya ada masalah yang membuat dirinya sibuk. Jadi ia meminta istrinya untuk segera menjemput anaknya, tapi sayang karena jarak tempuh yang cukup jauh. Saat sampai di lokasi, bus sekolah Arga sudah kembali ke sekolah.

Rania mencoba menghubungi satu-persatu teman dekat Arga, terutama Agung. Karena biasanya anaknya selalu bersama dengan sahabatnya itu.

"Agung bilang tadi pas pulang enggak satu bus, tapi Arga sampai sekolah. Pas jam pulang sekolah Agung ada ekskul, jadi dia enggak tahu di mana Arga sekarang." ucap Rania dengan rawat wajah khawatir, ia berharap anaknya baik-baik saja dan berada di tempat yang aman.

"Apa mungkin Arga ikut Danish?" Rania menoleh pada suaminya.

"Ambil hp aku, ada nomor Abyan. Coba tanya sama dia." Erlan menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.

Rania mengambil hp Erlan, lalu menghubungi nomor Abyan, tapi sayang Abyan tak menjawab telepon darinya. Rania mencobanya sekali lagi, hasilnya sama Abyan tak menjawab teleponnya.

"Kita ke rumahnya aja, siapa tahu Arga di sana." usul Rania mengembalikan handphone Erlan.

"Gimana kalau Arga enggak ada di sana?" Erlan menatap istrinya.

"Semoga aja Arga di sana, kita ke sana sekarang. Aku coba tanya sama teman-teman Arga yang lain, siapa tahu ada yang lihat Arga, atau tahu Arga ada di mana." ucap Rania mengusap punggung suaminya.

Erlan menghela napasnya, kembali melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya. "Entah aku rasa hidup kita jadi enggak pernah tentang sejak orang tua aku tahu tentang Arga, sebelumnya kita enggak pernah ada masalah seperti ini. Kalaupun kita telat jemput Arag. Anak kita pasti masih ada di sekolah, enggak menghilang kaya gini." Erlan mengeratkan genggaman tangannya pada setir mobilnya.

"Kita fokus cari Arga dulu, jngan bahasa yang lain dulu." ucap Rania sambil memperhatikan sisi jalan, siapa tahu ia bisa menemukan anaknya di jalan.

"Aku yakin masalah di kantor karena campur tangan si sialan itu. Sampai anak aku kenapa-kenapa, enggak peduli siapa dia. Harus membayarnya dengan bayaran yang setimpal." Erlan menambah kecepatan mobilnya.

Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam, akhirnya Erlan sampai di rumah kedua orang tuanya. Erlan turun dari mobil, tanpa permisi Erlan masuk kedalam rumah.

"Di mana semua orang?" tanyanya entah pada siapa, ia tak dapat menemukan satupun anggota keluarganya di sana. Hanya ada beberapa pekerjaan di sana.

"Tuan dan Nyonya ada di rumah sakit, Tuan muda Ryan sedang sakit." jawab salah satu maid di sana.

"Semuanya?" tanya Erlan untuk memastikan jika seluruh anggota keluarganya ada di rumah sakit.

"Tuan besar sedang pergi ke luar kota, sore tadi baru berangkat. Nyonya besar juga ikut dengan Tuan besar, Tuan."

Rania yang baru saja masuk ke dalam rumah, berjalan mendekati suaminya. "Mungkin Arga enggak ada di sini, ayo kita cari Arga lagi." ucap Rania menarik tangan suaminya.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang