10

18.1K 1K 15
                                    

Di tengah kesibuk Arga dan Danish yang membasha tugas kerja kelompoknya, tiba-tiba saja Ryan bangkit dari duduknya. Keluar dari kamar Danish tanpa mengatakan sepatah kata pun.

BRAK

Pintu kamar Danish di tutup dengan kasar oleh Ryan, membuat Arga dan Danish terkejut. "Kenapa tuh anak?" tanya Arga menoleh pada Danish.

"Enggak tahu, tunggu sebentar ya Ar. Mau lihat Ryan dulu." ucap Danish bangkit dari duduknya lalu segera menyusul Ryan yang entah mengapa anak itu tiba-tiba saja marah.

"Ryan, kamu kenapa?" tanya Danish berjalan mendekati sepupunya yang duduk sofa ruang keluarga bersama dengan Mery.

Mery menatap tajam Danish yang sudah  membuat cucu kesayangannya kesal. "Kamu main sama teman kamu Ryan enggak di ajak?" tanyanya dengan lembut mengusap-usap rambut Ryan.

"Kita enggak main Nek, kita lagi ngerjain tugas. Yang dari tadi main game kan Ryan." jelas Danish, menang sejak tadi Ryan yang bermain game. Sedangkan dirinya dan Arga mengerjakan tugas kelompoknya, karena ia tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main.

"Tapi Danish dari tadi ketawa-ketawa sama temannya Nek, aku di suruh main game di kamar Danish, disuruh diam. Sedangkan mereka berdua becanda, ketawa-ketawa bareng." ucap Ryan sambil mengerucutkan bibirnya.

"Panggil teman kamu, kerjain tugas kamu di sini. Nenek mau lihat, kamu beneran ngerjain tugas apa cuma main-main." titah Mery.

"Sebentar, aku panggil Arga dulu." patuh Danish lalu pergi ke kamarnya untuk memanggil Arga.

Danish masuk ke dalam kamarnya, melihat Arga yang masih sibuk mengerjakan tugas kelompoknya. "Ar, pindah ke bawah yuk."  ajaknya sambil merapihkan bahan-bahan tugasnya.

"Kenapa? Nanggung banget, padahal tinggal sedikit lagi." Arga mengalihkan perhatiannya pada Danish.

"Biar nanti pas kamu bawa pulang gampang bawanya, kalau dari atas kan susah bawa turunnya." alasan Danish, ia tidak enak jika mengatakan Nenek-nya yang memintanya untuk pindah ke bawah karena sepupunya itu.

Arga mengerutkan dahinya, dia merasa ada yang aneh dengan gelagat Danish yang tidak seperti biasanya. "Kamu- Lo enggak sakit Danish? Apa lo lagi kesurupan?"

"Di rumah aku enggak boleh ngomong pake lo gue, harus pake aku kamu. Kalau melanggar nanti di hukum, kamu juga kalau di sini jangan bilng gue-gue ya Ar. Nanti Kakek marah." nasehat Danish.

"Suka-suka gue lah, mulut-mulut gue. Lagian kan di sini gue enggak lama, sebentar lagi juga pulang." balas Arga dengan santai, beruntungnya ia tidak memiliki keluarga yang banyak peraturan seperti keluarga Danish, jadi ia bisa hidup dengan nyaman dan santai-santai.

"Pengawal pribadi lo-"

"Arga." tegur Danish.

"Ribet amat perturan rumah ini, malas gue ngomong sama lo." kelas Arga lalu keluar dari kamar Danish.

Mereka berdua turun ke lantai dua, di mana ruang keluarga rumah Danish ada di lantai dua, baru saja Arga ingin bertanya ada apa dengan sepupu Danish, suara seorang pria mengurungkan niat Arga.

"Oh, ini teman kamu yang kamu bilang semalam Danish?" tanya pria itu berjalan mendekati Danish.

Danish membalikkan tubuhnya menghadap pira itu. "Iya Dad, ini Arga. Sahabat aku, Arga kenalin ini Daddy aku." ucap Danish pada Arga.

"Arga Om, teman Danish." Arga meletakkan barang-barang yang di bawanya di atas lantai, lalu membersihkan tangannya dengan bajunya, setelah merasa bersih. Dia mengulurkan tangannya pada Daddy-nya Danish.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang