30

20.6K 1.2K 88
                                        

Di sebuah ruangan yang cukup sempit dengan minim cahaya, terlihat seorang pria dengan kedua tangan terikat rantai panjang, terdapat banyak luka di sekujur tubuhnya bahkan masih ada darah segar yang mengalir dari pelipisnya.

Di hadapan pria itu, berdiri seorang wanita dengan rambut hitam sebahu terurai, wanita itu berjalan mendekati pria itu. Menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum tipis.

"Rania, apa pun yang terjadi aku akan mendapatkan mu. Begitu kata mu bukan? Seujung kuku pun aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyentuh adik ku. Bajingan!" ucap Hera tersenyum puas melihat wajah tersiksa dari orang yang hampir mencelakai keluarganya.

"Membunuh mu sekarang terlalu mudah, tidak menyenangkan menurut ku. Kamu ingin mencoba menghancurkan hidup orang lain, bagaimana jika aku melakukan hal yang sama dengan keluarga mu? Sepertinya akan sangat menyenangkan, jika orang yang terbiasa hidup mewah. Tiba-tiba saja menjadi gelandangan, hidup di pinggir jalan." Hera mengangkat dagu pira itu, mengusap darah yang keluar dari sudut bibir pria itu dengan kasar.

"Aku sudah menghubungi keluarga mu, tapi mereka belum setuju dengan apa yang aku minta untuk pertukarannya dengan mu. Menurut mu, berapa lama kamu akan ada di sini? Tenang aja, sebentar lagi wanita itu akan menyusul mu." ucap Hera melangkahkan kakinya berjalan mundur. Dia berhasil menculik sahabat Vara, dan merekayasa kecelakaan malam itu.

"Patahkan kedua kaki dan tangannya, aku ingin melihat apa keluarganya masih ingin menunda permintaan ku. Setelah melihat apa yang terjadi pada anaknya." titah Hera pada anak buahnya. Hera mendudukkan dirinya di kursi, menyaksikan anak buahnya menghajar sahabat Vara tanpa ampun. Tak lupa Hera merekam apa yang anak buahnya lakukan, lalu mengirimnya pada orang tua pria itu.

Sementara itu di halaman belakang rumah Barta sedang duduk sambil menikmati pemandangan bersama dengan menantunya.

Erlan memperhatikan sekeliling taman, mencari kolam yang di bilang istrinya tadi pagi. Tapi di sana tidak ada kolam apa lagi buaya, hanya ada tanaman bunga dan pohon-pohon besar, dan sebuah kandang yang mungkin itu akan menjadi kandang sapi yang di minta Arga.

"Cari apa?" tanya Barta menatap menantunya yang sepertinya sejak tadi mencari sesuatu tapi tidak mau bertanya pada dirinya.

"Kolam buaya," jawab Erlan tanpa melihat pada Barta. Dia masih sibuk mencari kolam buaya yang di bilang Rania.

"Dulu ada, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Semuanya mati, di sebelah sana adalah makam semua buaya yang dulu pernah ada di sini. Ingin melihatnya?" Barta bangkit dari duduknya, menunjuk ke arah pintu gerbang yang tak jauh dari tempatnya duduk.

Karena penasaran Erlan pun mengiyakan ajakan mertuanya, dia bangun dari duduknya. Berjalan mengikuti langkah Barta.

Barta membuka pintu gerbang, meminta Erlan untuk keluar lebih dulu. "Keluarlah dulu." ucapannya sambil menahan pintu gerbang agar tetep terbuka.

Erlan menuruti perintah Ayah mertuanya, dia keluar dari pintu gerbang itu. Melihat ke sekelilingnya yang hanya ada jalan setapak menuju ke jalan raya. "Di mana makamnya?" tanya Erlan menatap Barta yang masih berdiri di balik pintu gerbang.

"Ada di sana, kamu jalan lurus aja. Sampai di jalan raya, tunggu sebentar lalu hentikan taksi atau angkutan umum lainnya. Setelah itu, minta sopir untuk mengantar mu sampai kerumah mu." ucap Barta dengan santai sambil mengunci pintu gerbang.

"Tunggu, maksudnya aku di usir?" Erlan tak percaya dengan apa yang di katakan mertuanya. Ia di usir dengan cara halus  atau ini adalah sebuah penipuan.

"Sebelum kamu datang ke rumah ku, Arga selalu bilang. Opa, ayo temenin aku main. Opa aku mau itu boleh, Opa ayo pergi ke sana, aku mau lihat ini, aku mau liat itu. Tapi setelah kamu datang, cucu ku menempel dengan mu seperti perangko. Lebih baik kamu pulang istirahat di rumah, akan ku antarkan anak mu sore nanti. Aku ingin bermain dengan cucu ku." ucap Barta lalu pergi meninggalkan Erlan. Ia ingin bermain lebih lama dengan cucunya, selagi cucunya ada di rumahnya tapi sejak tadi cucunya itu terus menempel pada Papa-nya.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang