Hari ulang tahun Danish menjadi kesempatan untuk Arga menemui Erlan, yang sudah dua hari tak pulang ke rumah, entah apa yang terjadi di sana, Arga sendiri tidak tahu. Karena nomor hp Erlan tidak bisa di hubungi, Danish juga sama.
Sejak Erlan tak bisa di hubungi, Rania memilih untuk tetap tinggal di rumah Ayah-nya, karena ia sendiri belum tahu pasti masalah di rumah mertuanya sampai-sampai suaminya tidak pulang tanpa kabar.
"Ma kado buat Danish udah di bungkus kan? Aku sebentar lagi jalan ke sana. Mau jemput Agung dulu di rumah dia." ucap Arga pada Rania yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Udah di mobil," balas Rania menoleh pada anaknya. Dia menatap anaknya dari ujung rambut sampai ujung kakinya. "Emang tema pesta ulang tahun Danish apa? Kok kamu pake baju hitam semua gitu?" heran Rania dengan penampilan anaknya, yang mengenakan baju dan celana hitam tak lupa juga kaca mata hitam.
"Kayanya enggak ada tema khusus, aku cuma mau kelihatan lebih keren aja dari yang ulang tahun. Lagian tujuan aku kesana mau jemput Papa yang di kurung sama orang tuanya." jelas Arga lalu menarik kursi meja makan. Dia mendudukkan dirinya di atas kasur, mengambil kue di atas meja.
"Kelurga Papa tuh maunya apa ya Ma? Perasaan kita enggak pernah ganggu mereka." heran Arga dengan jalan pikiran keluarga Papa-nya. Bisa-bisanya mereka menculik Papa-nya dengan cara menipunya.
Rania hanya tersenyum lembut pada anaknya, ia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa pada anaknya. Karena memang dari dulu, kelurga Erlan tidak menyukainya. Apapun yang berhubungan dengan dirinya, mereka tak pernah suka.
"Enggak semua keluarga memikirkan tentang keluarganya sayang, terkadang mereka begitu egois. Hanya memikirkan tentang hidupnya tanpa memikirkan hidup orang lain," sahut Barta berjalan mendekati cucunya.
Barta mengusap rambut Arga dengan lembut. "Orang tua juga begitu, terkadang dengan alasan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Justru menghancurkan hidup anak itu sendiri," Barta mendudukkan dirinya di kursi meja makan.
Arga menoleh pada Barta, menatap Opa-nya dengan serius. "Opa lebih sayang Mama aku atau Tante Hera?"
"Mama kamu." jawab Barta tanpa ragu.
"Kenapa? Kan sama-sama anak cewek? Opa pilih kasih ya?"
"Bukan pilih kasih, Tante Hera tinggal sama Opa dari dia masih bayi. Apapun yang dia mau, Opa selalu kasih." ucap Barta sambil menatap Rania.
"Sedangkan Mama kamu, dulu pertama kali tinggal sama Opa pas usianya baru sepuluh tahun, tapi enggak lama, cuma sebentar. Saat Opa belum puas memberikan kasih sayang sama Mama kamu, Mama kamu harus pergi dari rumah ini. Karena waktu itu Oma kamu meninggal, adik Oma kamu ambil Mama kamu, terus bawa Mama kamu pergi dari rumah ini. Jadi sekarang Opa bakalan lebih sayang sama Mama kamu dari pada Tante Hera." Barta mengingat masa lalunya, di mana Rania di bawa pergi dari rumahnya karena Ibu-nya telah tiada. Saat itu ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena hak asuh Rania masih ada bersama dengan ibuanya. Sedangkan dirinya belum menikah dengan Ibu Ranai, karena Ibu Rania meningal dua hari sebelum hari pernikahannya.
Arga hanya menganggukkan kepalanya, meskipun tak begitu paham dengan apa yang Opa-nya katakan. "Kalau gitu Opa harus kasih hukuman dong sama orang tuanya Papa. Mereka nyulik suami Mama, aku jadi enggak bisa tidur nyenyak gara-gara kepikiran Papa terus, makan juga enggak selera." ucap Arga dengan wajah cemberutnya.
"Tentang aja sayang, ada Tante di sini. Mau kasih hukuman apa buat mereka?" suara Hera mengalihkan perhatian Arga. Dia menoleh ke arah sumber suara.
"Kasih hukuman apa aja, yang penting Papa bisa pulang. Kalau bisa sih pulang sekarang." jawab Arga.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
