Dalam sebuah ruangan terdapat sebuah meja bundar dengan lima kursi yang terisi lima orang di sana, terlihat salah satu dari mereka tengah menuangkan cairan ke dalam gelas lalu memberikannya pada keempat orang yang duduk di sana.
Dia mengangkat gelasnya, lalu meneguk isi carian itu sampai habis tak tersisa. "Silahkan minum, enak kok." ucapannya pada keempat pira berbadan kekar di hadapannya.
"Kenapa cuma di lihatin doang? Minum. Pura-puranya kita lagi pesta biar kaya di film-film." ucapannya seraya menuangkan kembali cariin bewarna putih kedalaman gelasnya.
"Ayo angkat gelasnya kita bersulang." ujarnya sambil mengangkat gelasnya, menyodorkannya ke tengah-tengah meja.
Keempat pria di sana mengangkat gelasnya. "Bersulang," ucapannya bersama-sama.
"Wah, ini adalah minuman terenak untuk sekarang ini. Tepuk tangannya mana?" ucap Arga menatap keempat pira yang berdiri di hadapan.
Keempat pira itu segera melakukan apa yang di minta anak itu, mereka semua memberikan tepuk tangan pada anak itu. "Oke, kita ketemu lagi lain kali, aku harus pulang sekarang. Aku ngantuk, di sini enggak bisa tidur kalau enggak tidur di kasur aku sendiri." ucap Arga lalu melangkahkan kakinya mendekati pintu.
Dia membuka pintu lalu menuruni anak tangga. "Opa, aku mau pulang. Ayo anterin aku pulang." suara Arga menggema di seluruh ruangan.
Seorang pria tua yang duduk di sofa menoleh ke arah tangga, menatap Arga yang berjalan mendekatinya. "Ayo anterin aku pulang, aku mau pulang." ajaknya menarik tangan pria itu.
"Duduk dulu, kita sarapan dulu baru Opa anterin pulang." pria itu menarik tangan Arga dengan lembut, memintanya untuk duduk di sebelahnya.
"Kok Mama enggak nyari aku kesini ya? Mama lupa punya anak apa gimana? Harusnya langsung datang kesini dong, apa jangan-jangan Mama juga lupa punya orang tua?" pekikan Arga.
"Mama kamu enggak lupa sama kita sayang, cuma enggak mau ngerepotin kita." sahut seorang wanita, dia berjalan mendekati Arga lalu duduk di samping Arga.
"Mama kamu enggak mungkin lupa sama kita, cuma dia enggak mau ngerepotin kita aja." ujarnya lagi.
"Kenapa?" Arga menatap wanita itu dengan wajah serius.
"Ceritanya panjang, lain kali Tante ceritain. Udah selesai mainnya?" tanyanya dengan lembut mengusap rambut Arga.
"Mereka semua enggak ada yang asik, aku bosan main sama mereka semua. Tante Hera, ayo anterin pulang." pinta Arga dengan wajah memelasnya. Hera adalah saudara tiri Rania.
Kemarin ia tidak ada pilihan lain selain menghubungi Hera, karena ia yakin kedua orang tuanya tidak bisa datang ke sekolah tepat waktu, karena jarak yang jauh. Belum lagi jika jalanan macet, sedangkan orang asing itu terus mengikutinya kemapuan ia pergi.
Beruntung Hera datang ke sekolah tepat waktu, sehingga orang itu tidak memiliki kesempatan untuk menipu pihak sekolah dan membawanya pergi dari sekolah. Namu orang itu tak berhenti sampai di situ, orang itu terus mengikutinya ketika Hera ingin mengantarnya ke rumah. Karena tak ingin mengambil resiko, Hera memutar arah jalan pulang. Membawanya pulang kerumahnya.
"Mama kamu mau kesini, mungkin sebentar lagi sampai sini. Semalam Tante ngasih tahu kamu kalau kamu ada di sini, walupun Tante ngabarinnya sedikit terlambat. Tapi enggak masalah, yang penting semua baik-baik aja." ucap Hera memeluk Arga dari samping.
"Kalau nanti ada yang berani macam-macam lagi sama keponakan kesayangan Tante ini, harus langsung kasih tahu Tante. Biar Tante yang kasih hukuman buat mereka." ucapannya mencium kening Arga.
Arga mendongakkan kepalanya menatap Hera. "Di sekolah aku ada teman yang nyebelin, dia juga pernah minta Papa aku. Katanya aku yang ambil Om dia, gara-gara aku sepupunya enggak punya peran Ayah. Padahal kan sepupunya bukan anak Papa aku." adu Arga dengan wajah yang di buat sedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Teen FictionCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
