Spesial hari ulang tahun istrinya, Erlan mengajak Rania makan malam romantis di sebuah restoran mewah yang di sewanya. Mereka hanya makan berdua tanpa anak semata wayangnya.
Dengan berbalut dress warna putih motif bunga kecil-kecil, rambut panjangnya di biarkan terurai. Rania menggandeng tangan suaminya berjalan masuk ke dalam restoran yang sudah di siapkan suaminya.
Erlan sedikit memundurkan kursi untuk istrinya duduk. "Sebenarnya kita enggak perlu begini, bukan enggak suka tapi agak aneh," lirih Rania merasa canggung, apa lagi ada beberapa pelayan restoran yang berdiri di dekat mejanya, melihat kearahnya.
Erlan tersenyum lembut, paham dengan situasi istrinya. Dia meminta semua pelayanan yang ada di dekatnya untuk pergi sebentar sambil menunggu dirinya dan juga istrinya memilih menu makanan.
Setelah pelayan restoran itu pergi, Erlan meraih tangan istrinya, mengusapnya dengan lembut. "Sayang tenang, biasa aja. Di sini cuma kita berdua, aku tahu kamu enggak biasa. Kita sama, ini juga pertama kalinya buat aku," ucap Erlan tersenyum lembut. Jika hanya makan malam di restoran mewah dulu saat tinggal bersama dengan Zidan, hampir setiap akhir pekan ia makan di tempat mewah. Tapi untuk mengajak istrinya makan malam di restoran mewah ini baru pertama kalinya.
Hari ini, di hari ulang tahun istrinya. Ia ingin memberikan apa yang dulu ia ingin berikan namun belum bisa ia berikan. Karena kondisi ekonomi yang sulit, sekarang ia sudah berkecukupan, tentu itu semua ia dapat dari hasil kerja keras dan dukungan dari sang istri. Karena itulah, ia ingin selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istri tercintanya.
"Kita cuma makan malam, habis makan kita pulang." ujar Erlan lagi.
"Iya aku tahu cuma makan malam, tapi mana orang-orang yang lian? Masa iya kita doang yang jadi pelanggan di sini." ujar Rania memperhatikan sekelilingnya yang sepi dan tidak ada satupun pengunjung yang ia lihat dari pertama ia masuk ke dalam restoran.
"Aku sewa tempat ini khusus buat kita makan malam, aku mau kamu makan di sini dengan nyaman." jelas Erlan. Istrinya itu tidak terlalu suka dengan keramaian, terlebih lagi berada di lingkungan orang-orang berada. Oleh karena itu ia menyewa satu restoran khusus untuk sang istri.
Erlan membuka buku menu, menunjukannya pada Rania. "Kata mereka yang ini yang jadi favorit di restoran ini. Kamu mau coba?" tawar Erlan menunjuk menu yang paling di sukai di restoran itu.
Rania menganggukkan kepalanya. Ia tidak begitu paham dengan menu-menu di restoran mewah, apa lagi dengan nama makanan yang aneh-aneh. Jika saja ia yang memilih tempat makan malam, lebih baik makan di warteg atau di warung nasi padang. Tidak perlu di ragunan lagi, sudah pasti enak.
"Sebentar ya, aku pesan dulu. Minumnya mau apa sayang?"
"Samain aja sama punya kamu."
Erlan segera memesan beberapa macam makanan yang menjadi favorit di restoran itu, setelah selesai memesan makanan. Sambil menunggu dia pun mengobrol tentang banyak hal dengan istrinya.
***************
Sama halnya dengan kedua orang tuanya yang sedang makan malam romantis, Arga juga sedang makan malam bersama dengan Opa-nya. Mereka menikmati makan malam di sebuah warung yang terletak di pinggir jalan.
Untuk Arga ini sudah menjadi hal bisa, karena biasanya kedua orang tuanya juga mengajaknya makan di warung. Tapi untuk Barta ini adalah pertama kalinya, seumur hidupnya ia tidak pernah makan di warung kecil seperti ini.
"Opa, mau makan sama apa? Adanya sih tinggal ayam bakar, ikan goreng, tahu, tempe sama telur. Sayuran tinggal pare, sama kacang panjang, udah malam jadi cuma tinggal sedikit, kalau siang banyak." ucap Arga sambil menunjuk menu makanan yang ada di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Novela JuvenilCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
