56

13.5K 1.2K 67
                                        

Dengan santainya, tanpa ada rasa malu sedikitpun dengan sepupunya. Arga menikmati air putih dengan botol barunya di sofa ruang keluarga. Dia berbaring di sofa sambil menonton kartun kesukaannya, sedangkan sepupunya duduk di seberangnya.

"Udah habis berapa botol kamu pagi ini?" tanya Zergan yang baru saja bangun tidur. Dia tiba di rumah tadi jam tiga pagi.

Arga melepaskan botolnya, bangun dari tidurannya. "Baru habis dua, ini mau nambah lagi. Dia udah aku tawarin tapi enggak mau." tunjuk Arga pada sepupunya yang sejak tadi hanya duduk diam. Tidak bicara jika tidak di tanya lebih dulu, mungkin karena canggung atau malu. Karena masih baru.

"Zie enggak suka air putih, dia lebih suka air warna-warni yang biasanya di jual di warung-warung." jawab Zergan mendudukkan dirinya di sebelah anaknya.

Zie menggeser tubuhnya, menjauh dari Zergan. Melihat itu, tentu membuat Arga merasa heran dan juga penasaran, apa Zie sedang bertengkar dengan Papa-nya. "Om lagi berantem ya sama anaknya?" tanya Arga menatap pada Zergan.

"Enggak, siapa yang berantem. Kita enggak pernah berantem." jawab Zergan tersenyum lembut.

"Kalau berantem juga enggak pa-pa, aku juga suka ribut sama Papa. Tapi nanti baik lagi." ujar Arga sambil menuangkan air putih ke dalam botolnya sampai penuh, setelah itu dia menutupnya lalu kembali berbaring di sofa.

Zergan mengalihkan perhatiannya pada anaknya yang duduk berjauhan dengan dirinya. "Kamu belum mandi?" tanyanya pada Zie yang masih mengenakan baju tidurnya.

"Belum," jawab Zie singkat.

"Gayungnya lagi di beli di pasar," sahut Arga. Tadi ia mendengar Zie tidak mau mandi mengunakan shower, entah karena apa. Ia sendiri juga tidak tahu, tapi yang pasti Tante Hera meminta Bibi untuk memberikan gayung di pasar.

"Zie, Arga. Ayo sarapan dulu. Oh, kamu udah bangun, ajak anak-anak ke ruang makan. Sarapannya udah siap." ucap Hera pada Zergan.

"Ayo kita sarapan." ajak Zergan.

Zie bangkit dari duduknya, begitu pula dengan Arga. Mereka bertiga pergi ke ruang makan untuk sarapan pagi bersama.

Di ruang makan semua anggota keluarga sudah berkumpul dan duduk manis di kursi meja makan, Arga mendekati Papa-nya lalu duduk di kursi samping Papa-nya. Sedangkan Zie memilih kursi dekat Barta, Zergan duduk di kursi sebelah Hera.

"Zie, sarapan mau roti atau nasi goreng sayang?" tawar Hera.

"Nasi goreng." jawab Zie.

Hera mengambil nasi goreng untuk Zie, meletakkannya di hadapan Zie. "Nanti kalau mau tambah, bilang ya."

Zie menganggukkan kepalanya. "Terima kasih." ucap lalu menyantap sarapannya dengan diam.

Barta meletakkan telur goreng di atas piring Zie. "Makan yang banyak, di sini rumah kamu juga. Jangan malu-malu." ucapannya mengusap rambut Zie dengan lembut.

"Kayanya Zie suka makan." gumam Arga tersenyum manis pada Zie, otak kecilnya memikirkan rencana yang berlian. Ia harus membuat Zie satu sekolah dengan dirinya, dengan begitu bekal makan siangnya akan habis tak tersisa. Dan Mama tercinta akan bahagia karena bekal makan siangnya selalu habis.

"Zie enggak bakal satu sekolah sama kamu, nanti dia bakalan pulang ke rumah Papa-nya. Tinggal di sana, enggak di sini." ucap Erlan mengusap rambut anaknya.

Arga mengerucutkan bibirnya, baru punya rencana belum di coba sudah gagal duluan. "Terpaksa, kasih Om Nicolas lagi," gumamnya.

"Papa kenapa Zie enggak mau mandi pake shower? Kan lebih gampang dari pada pake gayung." penasaran Arga, ia ingin bertanya pada Zie. Tapi Zie irit bicara jadi ragu untuk bertanya pada anak itu.

ERLAN PANDU WINATA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang