Erlan pulang ke rumah setelah melewati hari yang panjang dan melelahkan di kantor, dia berjalan menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan makanan malam di ruang makan.
"Tumben sepi, Arga ke mana?" tanya Erlan sambil menarik kursi lalu mendudukkan dirinya.
"Di kamar, lagi nonton tv." jawab Rania sekilas menoleh pada suaminya.
"Tumben nonton di kamar, biasanya di depan."
"Tadinya nonton di depan, tapi pas dengar suara mobil kamu. Pindah tuh anak ke kamar." jelas Rania tersenyum lembut pada suaminya.
Erlan mengerutkan dahinya, kenapa mendengar suara mobilnya anaknya pindah ke kamar. Biasanya paling suka menyebutnya yang baru saja pulang dari kantor, dan akan dengan senang hati menceritakan banyak hal pada dirinya.
"Habis jatuh dari sepeda tadi, nyungsep. Untung enggak sampai masuk got." ujar Rania lagi.
"Pantas, Papa-nya pulang ngumpet. Kok bisa sampai jatuh, bukannya sepedanya masih pake roda bantu." heran Erlan kenapa anaknya bisa jatuh dari sepeda, setahunnya sepeda anaknya masih mengunakan roda bantu di belakang.
"Roda bantunya udah di lepas satu, terus tadi lihat Agung sepedanya cuma roda dua. Dia minta lepas lagi, aku enggak kasih. Anak kamu minta tolong sama tetangga, aku enggak tahu gimana dia jatuhnya. Intinya pulang nangis aja."
"Luka?"
"Ya jidatnya luka sedikit, makanya dengar suara mobil kamu dia langsung lari ke kamar." balas Rania, tadi anaknya sedang bersantai-santai di ruang keluarga, menonton kartun sambil minum susu. Namun saat mendengar kelakson mobil Papa-nya, Arga dengan buru-buru mematikan televisi lalu dia pergi ke kamar.
"Kamu mau makan dulu apa mau mandi dulu?" tanya Rania menatap suaminya yang sepertinya sangat lelah, mungkin hari ini di kantornya banyak pekerjaan.
"Mau peluk kamu dulu," Erlan merengek kedua tangannya, mendongak menatap istrinya yang masih diam saja.
Rania tersenyum lalu memeluk suaminya dengan erat, mengusap rambut Erlan dengan lembut. "Kenapa? Ada masalah di kantor?"
Erlan mengangguk kecil, mengeratkan pelukannya pada istrinya. Masalah di kantornya hanya satu, yaitu Vara. Hari ini ia terlambat pulang juga karena ulah wanita itu yang terus saja menggangunya.
Erlan melonggarkan pelukannya pada istrinya, mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik istrinya. "Aku udah ngajuin surat pengunduran diri, tapi di tolak."
"Mengundurkan diri dari tempat kerja tuh enggak segampang itu sayang, aku percaya kok kamu."
"Aku cuma takut kalau nanti Vara semakin keterlaluan, hari ini aja dia udah buat aku terlambat pulang. Aku enggak mau nantinya dia buat kita salah paham."
"Kamu masih ingat kan? Dulu dia yang hampir batalin pernikahan kita, untung dulu dia datang setelah selesai ijab." Erlan masih ingat bagaimana wanita itu berusaha menggagalkan pernikahannya, dan waktu itu juga keluarganya mendukung Vara. Saat itu kelurganya memberikan dua pilihan, jika ia tetap menikahi Rania, ia harus pergi meninggalkan rumah, jika ia memilih Vara maka ia tidak perlu meninggalkan rumahnya. Dan ia memilih untuk pergi meninggalkan rumahnya dan segala kemewahannya.
"Menghindar terus menerus juga bukan hal yang baik, kita harus menghadapinya. Seperti apa yang pernah kamu katakan, ayo selalu bersama. Berjalan di samping ku, untuk melewati setiap ujian hidup dan mari kita bahagia bersama-sama." ujar Rania mencium kening suaminya.
Mereka melepaskan pelukannya, ketika mendengar suara pistol mainan, dengan pelan-pelan Arga berjalan menghampiri Mama-nya. "Mama, Mama lihat maling?" tanya Arga sambil mengarahkan pistol mainannya ke arah bawah meja makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Fiksi RemajaCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
