"Abyan, gimana? Erlan mau bantuin kita?" tanya Mery tak sabar mendengar kabar baik dari anaknya, ia berharap Erlan bersedia membantu Naka. Karena itu bukanlah hal yang sulit untuknya sekarang, dia bisa meminta Barta untuk membantunya.
Abyan mendudukkan dirinya di kursi tunggu, mengeluarkan amplop coklat yang tadi di berikan Erlan. "Apa ini?" tanya Mery.
"Ini dari Erlan, dia bilang cuma bisa bantuin ini. Dia enggak mau bantuin Naka." jelas Abyan.
"Dia enggak mau bantuin adiknya sendiri? Dia mau lihat adiknya menderita, di mana dia? Biar Mama yang ngomong sama dia." ucap Mery mengambil amplop itu.
Abyan menahan tangan Mama-nya. "Ma, percuma. Mama ngomong sama Erlan juga percuma, dia enggak perduli sama kita. Dia bilang Rena bukan urusan dia,"
"Permisi Nyonya, saya ingin meminta persetujuan pada pihak keluarga untuk melakukan operasi pada Nyonya Rena." ucap seorang dokter yang baru saja keluar dari kamar rawat Rena. Dokter baru saja memeriksa Rena.
"Lakukan apa saja yang terbaik untuk adik saya Dok." ucap Abyan. Ia tidak ada pilihan lain selain setuju dengan saran dari dokter. Ini semua untuk kebaikan adik dan juga keponakannya.
"Baik Tuan kami akan berusaha yang terbaik untuk Nyonya Rena dan juga bayinya. Anda bisa ikut ke ruangan saya sebentar, ada beberapa hal yang ingin saya jelaskan pada Anda mengenai kondisi Nyonya Rena."
Abyan menganggukkan kepalanya. "Mama tunggu di sini sebentar, Mira juga sebentar lagi datang ke sini sama anak-anak." ucap Abyan lalu pergi mengikuti dokter.
Mery menarik napasnya panjang lalu membuka pintu kamar rawat putrinya dengan pelan. Pemandangan yang membuat hatinya merasa sakit, di atas ranjang pasiennya. Rena hanya diam dengan pandangan kosong. "Rena," panggil Mery dengan lembut mengusap rambut anaknya.
"Anak aku masih bisa lihat Papi-nya kan Ma? Naka pasti bakalan datang ke sini kan? Dia pasti senang anaknya akan lahir." ucap Rena tersenyum menatap Mery.
"Di mana Naka Ma? Dia masih di luar?"
"Rena, dengerin Mama. Mama janji, bagaimana pun caranya. Mama bakalan bantuin Naka, Naka akan datang ke sini. Kamu harus sabar, kasih Kakak kamu waktu buat bawa Naka ke sini. Abyan lagi berusaha buat bawa Naka ke sini." ucap Mery mencium kening anaknya.
"Erlan, kamu benar-benar ingin melihat adikmu menderita seumur hidupnya? Jika terjadi sesuatu pada adikmu. Ini semua salah mu." batin Mey. Jika saja Erlan mau membantunya, Rena tidak akan seperti sekarang ini.
*********************
Sore ini Erlan sedang sibuk dengan menyiapkan berkas-berkas yang akan di gunakan meeting besok pagi di kantornya. Di tengah kesibukannya, istrinya datang menghampirinya. "Sayang, katanya mau cerita soal Mas Abyan. Kenapa sama dia?" tanya Rania berjalan mendekati Erlan yang duduk di sofa panjang, yang ada di kamarnya.
Erlan menutup laptopnya, meletakkannya di atas meja. Meraih tangan istrinya, memintanya untuk duduk di sebelahnya. "Dia minta aku buat bantuin bebasin Naka," jawabnya.
"Sampai segitunya buat Rena, padahal udah jelas Naka itu salah. Terus sekarang gimana?"
"Aku enggak akan bantuin mereka buat urusan kantor ataupun urusan Naka. Tadi aku cuma kasih uang buat biyaya rumah sakit,"
Rania menganggukkan kepalanya. "Gimana keadaan Papa sama Rena?"
"Papa masih di rawat di rumah sakit, katanya kondisi Rena juga kurang baik. Kata Abyan, kemungkinan bayi Rena bakalan lahir prematur." jelas Erlan. Sebenarnya ia merasa kasian dengan adiknya itu, tapi semua yang terjadi sekarang karena hasil kasih sayang yang berlebihan dari kedua orang tuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Novela JuvenilCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
