"Pa, kata Papa kan kita harus tampil apa adanya. Harus jadi diri kita sendiri, berati tadi Mama lagi enggak jadi diri Mama sendiri dong Pa?" ucap Arga pada Erlan yang sedang fokus menyetir mobil.
"Maksudnya gimana? Mama selalu jadi diri sendiri, kalau menurut Papa." balas Erlan sekilas melihat anaknya dari kaca spion mobil.
"Ya tadi di rumah Nenek enggak marah-marah sedikit pun, biasanya kan selalu marah-marah. Mama lagi jaga image ya di depan mertuanya?"
"Ada-ada aja kamu, Mama enggak marah-marah tuh demi kebaikan kita semua. Terutama kamu, emang kamu mau setiap hari tinggal di sana?" ujar Erlan menoleh ke belakang setelah memarkirkan mobilnya. Saat mengobrol dengan Abyan, Kakak-nya itu meminta untuk kembali tingal di rumah. Karena dengan kehadiran Arga, rumah menjadi ramai, tidak seperti hari-hari biasanya. Apa lagi saat anak itu terus bicara tanpa henti, meskipun terkadang ucapnya sulit di mengerti oleh mereka. Tapi itu cukup menghibur, karena di rumahnya tidak ada yang seperti Arga.
"Ngapain tinggal di sana, kalau pun di suruh nginap aku pun enggak mau. Bisa-bisa tearuam setiap hari aku sama Kakek mereka."
"Bilang trauma di kasih duit di terima, mana sumringah banget lagi nunjukin uangnya." sahut Rania.
"Kita enggak boleh nolak rejeki Ma, lagian bukan aku yang minta. Tapi di kasih sama Kakek mereka, uangnya banyak. Kalau aja enggak malu, aku ambil semua." ucap Arga. Memang benar Zidan yang memberikan uang tanpa ia minta lebih dulu.
"Kirain urat malunya ketinggalan pas lahir, dokter lupa keluarin, ternyata kebawa ya. Walaupun cuma sedikit." ucap Rania lalu turun dari mobil lebih dulu.
"Mama ngomongin kita kayanya Pa, hari ini kan hukuman aku udah selesai kan? Berati nanti malam aku boleh tidur kamar Papa dong?" Arga turun dari mobil, dia berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Erlan.
"Coba nanti tanya sama Mama, kan perjanjian kemarin boleh tidur di kamar Mama sama Papa cuma pas hari libur. Kalau hari-hari biasa cuma di temenin sampai tidur."
"Kan libur kemarin belum tidur di kamar Papa, ini juga masih libur kan. Besok baru hari senin. Berati boleh dong?" Arga menahan Erlan yang ingin masuk ke dalam kamar mandi.
"Hukumannya kan selesainya nanti malam, berati malam ini masih tidur sendiri. Enggak di temenin." sahut Rania yang duduk di sofa ruang keluarga.
Arga berdecak kesal. "Tau gitu tadi nginap aja di sana, besok baru pulang." ucap dengan menghentak-hentakan kakinya berjalan menuju kamarnya.
"Katanya udah gede, mau apa-apa sendiri. Mana? Baru aja di suruh tidur sendiri, belum di suruh masak, nyapu, cuci piring, cuci baju, setrika, potong rumput, siram tanaman, ngepel-"
"Apa-apa sendiri tuh bukan berarti mau kerjain itu semua sendiri, Mama punya anak tuh mau di jadiin pembantu apa anak sebenarnya? Yang aku mau tuh pergi-pergi sendiri, enggak usah di anterin. Bukan nyapu, ngepel sendiri." sela Arga berbalik menghampiri Mama-nya.
"Papa lihat Pa, istri Papa mau jadiin anak Papa pembantu di rumah. Apa-apa suruh sendiri. Istri Papa mau enak-enak jadi Nyonya besar di rumah, tinggal nyuruh-nyuruh," adu Arga pada Erlan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kita senasib Nak, kan emang Nyonya besar di rumah ini Mama kamu." ucap Erlan merangkul pundak anaknya, mengajak anaknya untuk duduk di sofa.
"Sebenarnya kita bisa aja, terhindar dari tugas-tugas itu. Kalau aja ada yang bantuin kita di rumah. Tapi sayangnya uang Papa udah di bagi rata, jadi enggak ada sisa lagi kalau kita panggil orang untuk bantu-bantu beres-beres rumah. Kecuali jatah beli susu di kurangi." sambungannya lagi.
Arga melebarkan bola matanya menatap Papa-nya dengan wajah kesalnya. "Jadi sekarang ini Papa lebih milih istri Papa dari pada anak Papa? Papa mau aku kurus kering gara-gara kelaparan? Mau aku di bilang kurang gizi sama saudara-saudara Papa itu? Mau ya anaknya di bully sama Kakek-nya mereka? Oke, aku milih pergi dari rumah aja kalau gitu." Arga bangkit dari duduknya, melirik Mama-nya yang tengah mentertawakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLAN PANDU WINATA
Novela JuvenilCerita ini kelanjutan dari cerita Arga, versi keluarga Erlan. ERLAN PANDU WINATA , anak kedua dari ZIDAN WINATA. Terlahir dari keluarga berada, hidup penuh dengan kemewahan ia tak pernah kekurangan dalam segala hal. Kasih sayang kedua orang tuanya...
