KENAPA GUE UP NYA SLOW?
KALIAN AJA NGASIH VOTENYA SLOW BANGET ANJIR, GREGET BANGET DEHH. KEK APA SUSAHNYA TINGGAL TEKAN VOTE DOANG. GUE UDAH SEBULAN KEKNYA NUNGGUIN SATU CHAPTER TERAKHIR YANG GUE UP 200 VOTE. TERNYATA MASIH GAK NYAMPE😭
OKELAH GITU AJA, HAPPY READING.
***
Berjalan dengan mengendap-endap, Reksa mencoba menghindari Gabriel yang tengah mengobrol dengan staffnya.
"Apa jalan-jalan mu menyenangkan?" Tanya Gabriel.
Reksa menghentikan langkahnya, kemudian berbalik. "Itu..."
"Aku tidak bertanya padamu" ujar Gabriel. Pria paruh baya itu kemudian memasuki lift, disusul Reksa.
"Mengapa tak membawanya pulang?" Tanya Gabriel.
Reksa mengalihkan pandangannya. "Apa yang ayah maksud?" Tanyanya berpura-pura tak tahu.
"Gara, bukankah kau kemarin menculiknya" jawab Gabriel.
"Aku tidak menculiknya, aku menyelamatkannya" ujar Reksa. Toh memang benar, dia tak menculik Gara.
"Apapun itu, kenapa tak membawanya pulang?" Tanya Gabriel lagi.
Lift terbuka, keduanya keluar dan berjalan beriringan menuju ruangan Reksa.
"Pulang? Ke Grevanska?" Tanya Reksa.
Gabriel menghentikan langkahnya kemudian menatap Reksa. "Berhenti berpura-pura tak tahu, dan jawab pertanyaan ayah dengan benar" ujarnya.
"Bukankah aku benar, rumahnya itu Grevanska bukan Aksara" balas Reksa.
"Reksa!" Tekan Gabriel. Dia tak mengerti mengapa Reksa menjadi begitu berbelit-belit seperti ini.
"Ayah, Aksara bukan tempat pulangnya. Melainkan neraka untuknya. Sekali pun dia sudah pulih, aku tidak bisa membawanya kembali ke neraka itu" ujar Reksa.
"Tapi kita bisa membuatnya menjadi tempat pulang ternyaman" balas Gabriel tak mau kalah.
Reksa berdecih pelan, sampai kapanpun Gabriel tetaplah Gabriel yang egois. "Benar, tapi itu sudah terlambat. Senyaman apapun kita, pasti Gara tetap menginginkan kembali ke Grevanska" ujarnya.
"Reksa-"
"Sudahlah, aku akan menyelidiki siapa orang-orang itu. Dan ayah urus saja urusan mu sendiri" ujar Reksa.
Gabriel menghela nafas, ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. "Dia tidak pernah aman, sejak keluar dari Aksara" ujarnya dengan pelan.
"Bahkan di Aksara pun dia tidak pernah aman, nyawanya bisa hilang kapanpun itu" balas Reksa.
Gabriel berdehem kemudian masuk ke dalam ruangan. Reksa sendiri terdiam menatap kesal pada punggung Gabriel.
***
"Tuan, sudah saya temukan dalangnya" ujar sang asisten.
Heksa memutar kursinya menghadap ke meja. Ia menatap lembaran-lembaran kertas di hadapannya. Keningnya berkerut tipis.
"Dia?" Tanya Heksa setelah melihat foto orang didalam kertas itu.
"Ya tuan, saya sudah memastikannya berkali-kali dan memang benar pemilik Cadillac Escalade itu adalah dia" jawab asistennya.
"Apa dia memiliki masalah dengan Aksara?" Tanya Heksa.
"Benar, namun masalah itu tidak terlalu berhubungan dengannya. Karena itu adalah masalah tuan Aryo dan salah satu tetua di dalam keluarga itu" jelas asistennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
G A R A
DiversosRumitnya takdir membuat Gara bingung, dari yang di buang oleh keluarga ayahnya. Sampai mereka mengemis bahkan bersujud di kakinya hanya untuk mendapatkan maaf darinya. "Bukankah Gara memang pembawa sial?" "Ck! Gue gak suka banget sama logika gue!" ...
