Happy reading!!!
"Bagaimana kabar mu Gar? Pasti sangat baik bukan?" Lirihan itu keluar dari mulut seorang pemuda.
Duduk di teras rumah yang tampak sederhana. Berbeda jauh dengan mansion yang dulu di tempatinya.
Lampu teras yang bahkan tidak seterang lampu kamarnya dulu, itu cukup untuk melihat barang di sekitarnya. Entah sudah berapa lama dia tinggal di rumah ini.
Suara batuk terdengar dari dalam rumah itu, Jevian menghela nafas pelan. Bahkan ayahnya kini tak bisa sekedar duduk saja.
Terkadang ia khawatir jika harus meninggalkan ayahnya sendirian, karena dia harus bekerja. Meskipun pendapatannya tidak seberapa, tapi itu cukup untuk bertahan hidup selama ini.
Teman-temannya?
Ah orang tua mereka melarang untuk berteman dengannya lagi. Bahkan tak tanggung-tanggung mengirim mereka keluar negeri. Agar tak bisa berhubungan lagi dengannya.
Lalu tentang Reksa, benar Reksa masih bersama Heksa. Entah bagaimana kehidupannya selama ini.
Keluarganya benar-benar terpecah belah, tidak sedari dulu memang sudah banyak retakan di antara mereka. Dan saat waktunya tiba, pecahan itu tak bisa di hindari lagi.
Jevian masuk ke dalam rumahnya, dia menatap pada ayahnya yang terbaring sembari memejamkan mata. Kondisinya sangat buruk, lebih buruk dari tahun lalu.
Karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol, sistem sarafnya terganggu dan menyebabkan kelumpuhan. Ingatannya jelas rusak, kadang bahkan dia tak ingat dengan Jevian.
Namun terkadang dia juga tiba-tiba menangis, sembari memanggil nama putra bungsunya.
Jevian duduk perlahan, dia meringis pelan merasakan sakit di bagian perutnya. Meski sudah bertahun-tahun, terkadang bekas tusukan di perutnya menimbulkan rasa sakit.
"Ayah, apa ayah mau makan?" Tanyanya.
Gabriel, tubuhnya kurus dan wajahnya sangat tirus. Dia membuka matanya, menatap pada satu-satunya putra yang mau mengurusnya.
Dia mengangguk pelan, tak bisa mengeluarkan banyak tenaga. Jevian tersenyum, kemudian bangkit mengambil makanan untuk ayahnya.
Gabriel sendiri masih terdiam, dia tidak tahu siapa yang berbicara dengannya barusan. Tapi karena dia merasa lapar, jadi dia hanya menganggukan kepalanya.
Putranya? Bukankah mereka masih sangat kecil. Tidak mungkin mereka bisa mengurusnya. Begitulah yang ada di dalam pikirannya saat ini.
****
Heksa menatap pada Reksa yang berdiri di depan hamparan kebun bunga. Jika bukan karena dia merasa berhutang budi pada Reksa, dia mungkin sudah mengirim Reksa ke rumah sakit jiwa.
Banyak kejadian yang menimpanya selama beberapa tahun ke belakang. Reksa mengalami kecelakaan saat mencoba kabur dari mansion ini.
Membuatnya kehilangan salah satu kakinya. Tentu saja dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa sekarang dia cacat.
Kadang Heksa mendengarnya menangis, kadang juga tertawa tak jelas. Membuatnya merasa prihatin melihat kondisi Reksa.
"Tuan, barangnya sudah saya kirim sesuai perintah anda. Adapun tuan muda Jevian, sepertinya tidak bekerja hari ini. Karena kondisi ayahnya yang semakin memburuk" ujar Sekretarisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
G A R A
RandomRumitnya takdir membuat Gara bingung, dari yang di buang oleh keluarga ayahnya. Sampai mereka mengemis bahkan bersujud di kakinya hanya untuk mendapatkan maaf darinya. "Bukankah Gara memang pembawa sial?" "Ck! Gue gak suka banget sama logika gue!" ...
