Hello everyone!
Happy reading luvv
***
Waktu berlalu begitu cepat, seperti air terjun yang tak berhenti mengalir. Namun, tidak ada satupun orang luar yang mengetahui tentang Gara yang setuju untuk tinggal bersama Setyo.
Bahkan Heksa yang biasanya selalu tahu pun, kali ini tidak mengetahuinya. Atau mungkin, karena dia juga terlalu sibuk berbenah. Jadi dia tidak terlalu fokus pada Gara.
Reksa masih tinggal bersamanya, dan selalu bekerja tanpa henti disisinya. Sedangkan Heksa justru banyak bersantai sembari menyusun rencana kedepannya.
Maksudnya, dia tengah menyusun rencana untuk menghancurkan perusahaan Gabriel. Meskipun tak mudah, tapi dia pastikan itu akan berhasil.
Sedangkan di sisi lain, Grevanska masih sama saja. Bedanya mereka semakin jaya sekarang.
Hari kelulusan Gara telah tiba, saat ini anak itu sudah rapi dengan pakaiannya. Dia bersenandung kecil di depan cermin sembari memakai dasinya.
"Lihat, dia sangat bahagia akan berpisah dengan kita" sindir Zoe.
Setelah hari itu, Zoe menjaga jarak darinya. Tapi Gara tahu, mengapa Zoe melakukan hal itu.
Bagaimanapun juga, Zoe begitu menyayanginya lebih dari apapun. Mengetahuinya memilih jalan sendiri, pasti akan sangat sulit di terima oleh Zoe.
Zoe selalu menyibukkan diri, seolah ingin membiasakan diri tanpa kehadiran Gara. Zoe tak pernah lagi mengajaknya berdebat, bahkan mansion ini selalu sepi.
"Jangan menangis jika ku tinggalkan pergi nanti" ujar Gara.
"Siapa juga yang mau menangisi anak seperti mu" balas Zoe dengan sinis.
Gara terkekeh geli mendengarnya, dia melirik Zoe yang berdiri di ambang pintu.
"Lihat saja nanti" gumam Gara.
Zoe menatap koper-koper berisi beberapa pakaian Gara. Sebenarnya bisa saja Gara membeli yang baru, tetapi pakaian miliknya juga masih banyak yang bagus. Jadi dia bersikeras untuk membawa pakaian-pakaiannya.
Zoe memalingkan wajahnya, menyebalkan sekali rasanya. Kenapa juga mereka harus berpisah segala. Nanti, siapa yang akan menjadi sasaran kejahilannya.
Sean?
Anak itu bahkan pergi sebelum Gara, dia melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Ikut bersama Aillard, yang kini menjalankan bisnisnya di luar negeri.
Dia tidak bisa memaksa Gara untuk tetap tinggal. Daddy-nya melarang untuk melakukan hal itu.
Karena Arshavin berpikir, mungkin ini adalah jalan terbaik yang sudah Gara pilih. Padahal menurutnya, lebih baik hanya bersantai saja tanpa melakukan apapun tapi uang tetap mengalir.
Memangnya apa yang kurang dari Grevanska, bahkan jika Gara meminta di belikan beberapa pulau pun mereka sanggup membelikannya. Asalkan Gara tetap tinggal bersama mereka.
Setidaknya begitulah yang Zoe pikirkan. Untuk apa menjadi penerus Revandra, jika Grevanska saja bisa memberikan segalanya.
"Ck! Apa bagusnya menjadi seorang pewaris? Itu hanya menyusahkan diri sendiri saja" ujar Zoe.
KAMU SEDANG MEMBACA
G A R A
RandomRumitnya takdir membuat Gara bingung, dari yang di buang oleh keluarga ayahnya. Sampai mereka mengemis bahkan bersujud di kakinya hanya untuk mendapatkan maaf darinya. "Bukankah Gara memang pembawa sial?" "Ck! Gue gak suka banget sama logika gue!" ...
