52

1.8K 124 10
                                        

Hai.
Yang lupa alur, baca ulang aja🥰

Gara menatap hamparan bintang di langit, dia bersandar pada dinding. Tangannya menyentuh kaca yang menjadi pembatas.

"Gar" panggil seseorang di belakangnya.

"Apa anda ingin menertawakan saya? Tertawa lah, bukankah itu sangat lucu" ujar Gara.

Dia menatap pantulan dirinya dan orang dibelakangnya pada kaca itu. Orang di belakangnya berdiri cukup jauh darinya.

"Tidak, itu sangat tidak lucu. Bagaimana bisa, dia menyimpan rahasia ini dari mu" balas orang itu.

Gara berbalik, namun dia tidak berani mendongakkan kepalanya. Tangannya bertaut dengan sesekali jemarinya bergerak menandakan betapa takutnya dia saat ini.

Gabriel, pria itu mundur lebih jauh. Dia tidak bodoh untuk tidak menyadarinya. Dia hanya ingin berbicara dengan Gara, itu saja sudah cukup.

Namun tiba-tiba, dia berlutut di hadapan Gara. Membuat Gara terkejut akan perilakunya.

"Gar, ayah tidak akan pernah melewatkan sedikitpun kesempatan ini. Ayah minta maaf untuk segala sesuatu yang telah ayah lakukan di masa lalu. Dan jika kamu memilih untuk kembali dengan kakek mu. Bisakah sesekali ayah mengunjungi mu?" Tanya Gabriel.

Gara memalingkan wajahnya, mengunjunginya katanya. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Gabriel sekarang.

Gara sungguh tak mengerti, darimana asalnya kepercayaan diri Gabriel.

"Apa anda ingin membuat mimpi buruk terus menghantui saya, sepanjang hidup saya?" Tanya Gara.

Gabriel menggeleng, bukan itu maksudnya. Dia ingin sedikit lebih dekat dengan Gara. Meski hanya sedikit saja dia sudah puas.

Meskipun hanya melihatnya dari kejauhan. Dia akan puas, asal Gara berada dalam jangkauannya.

Tidak seperti ini, bahkan untuk sekedar melihatnya saja sungguh sulit. Gara tertawa lirih melihat Gabriel menggeleng.

Sedangkan di kejauhan sana, Arshavin mengawasinya dengan tajam. Dia tak beranjak, namun jelas dalam keadaan yang siap untuk menyerang Gabriel kapanpun. Jika Gabriel berani menyentuh Gara sedikitpun.

"Kami pulang~"

Suara yang menggelegar itu menyadarkan mereka dari ketegangan yang tengah terjadi. Ada Ziel yang memimpin jalan juga Zoe dan Sean yang membawa paper bag.

"Oh kita ada tamu, maaf atas ketidaksopanan ku" ujar Zoe. Sedikit malu saat melihat Setyo menatapnya dengan tatapan heran.

"Ku pikir semua anak mu, sama seperti mu. Tapi yang satu ini ternyata tidak" ujar Setyo.

"Dimana Sea?" Tanya Ziel.

Mereka semua diam, namun menatap pada satu sudut. Dimana Gabriel masih berlutut dan Gara yang kini membelakanginya.

"Apa yang terjadi? Kenapa Daddy diam saja melihat mereka?" Tanya Ziel dengan nada tak sukanya.

"Tenanglah Ziel, dia tidak akan melakukan apapun pada Gara" jawab Genandra.

"Tapi-"

"Mengapa Sean di sini?" Tanya Tia. Dia baru kembali dari pertemuannya dengan teman-temannya.

Jadi dia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Itu mengejutkan nya, bahwa cucunya yang sudah lama tidak ada kabar. Kini berada di mansion ini lagi.

Ada perasaan senang melihat Sean dalam keadaan baik-baik saja. Namun rasa kecewa masih mendominasi nya, mengingat kelakuan mantan menantunya.

"Grandma" sapa Sean dengan pelan. Di menunduk tak berani menatap wajah Tia.

G A R ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang