58

1.3K 72 0
                                        

Haii, happy weekend!

***

Setelah acara kelulusan selesai, Gara masih mendiami mereka. Bahkan saat kini mereka sudah berada di bandara.

Sebenarnya Gara cukup terkejut sat kembali ke mansion tadi. Mereka menyewa tiga orang fotografer dan mengubah mansion menjadi studio foto dadakan.

Selain itu dia juga di kejutkan dengan banyaknya hadiah yang berdatangan ke mansion. Jangan lupakan tentang karangan bunga yang berjajar di halaman mansion.

Ini bahkan bukan hari pernikahannya tapi mengapa mereka repot-repot mengirim hal-hal seperti itu. Sungguh membuang uang saja.

Gara masih tak habis pikir, dia bahkan tidak kenal dengan orang-orang yang mengiriminya hal-hal seperti itu. Tapi karena dia sekarang bagian dari Grevanska, tentu saja merupakan sebuah kesempatan bagi mereka untuk mencari perhatian Grevanska.

"Gue gak nyangka Lo bener-bener pergi sekarang juga" ujar Aksa.

"Gue kira Lo bercanda soal Lo mau pergi ke luar negeri" sahut Denand.

"Apa gue jadi pilot aja ya?" Tanya Reka.

Denand terbatuk, dia menepuk bahu Reka. Anak itu, bukannya fokus malah melamun tak jelas.

Gara tertawa kecil mendengarnya, mereka masih berteman sampai sekarang. Dan tak pernah bertengkar sekalipun, memang aneh karena sifat mereka yang sama-sama sulit di tebak.

Ada kalanya mereka akan bermain ataupun menginap di mansion Grevanska. Karena para pria dewasa itu sering meninggalkan Gara sendirian.

Meskipun begitu mereka bukan hanya main-main tak jelas. Tetapi belajar dengan giat, bahkan sebagian besar kegiatan mereka saat bersama hanyalah belajar.

Bagaimanapun juga reputasi keluarga mereka sangat mempengaruhi ambisi mereka. Tidak heran jika mereka bisa mendapatkan prestasi yang cukup baik.

Denand yang suka musik, mendalaminya dengan baik. Dia ikut band di sekolahnya dan beberapa kali memenangkan perlombaan. Begitu pula dengan Reka yang semakin menonjol dalam kegiatan olahraga. Tak jarang dia membawa juara setelah mengikuti perlombaan.

Tentang Aksa, otaknya ternyata cukup berguna. Dia sangat pandai dalam hal akademik. Beberapa kali dia memenangkan sebuah olimpiade. Hanya saja dia tidak ingin terlalu menonjol selama ini.

Dan Gara, tentunya mendalami tentang seni lukisnya. Dia juga pernah memenangkan sebuah perlombaan. Bahkan ada salah satu lukisannya yang dipajang di sebuah galeri seni.

Tentunya semua pencapaian mereka tidak memiliki murni hasil mereka sendiri . Keluarga mereka hanya mendukung dengan menghadirkan guru les privat. Selebihnya mereka menyerahkan kemampuan masing-masing anaknya.

"Gar, belajar sendiri tuh gak enak tau. Cepet bosen" ujar Reka.

"Gue juga tau kali, kenapa emang? Lo mau ikut gue ya?" Tanya Gara.

"Bukan itu maksudnya astaga" jawab Reka kemudian menghela nafas.

Gara terkekeh pelan, sedangkan di belakang sana Arshavin dan yang lain memperhatikannya. Mereka membiarkan anak-anak itu mengobrol lebih lama dengan Gara.

G A R ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang